Kamis, 24 Mei 2012

Headlines:

Ulama Muslim Dunia Mediasi Konflik Yaman - Syiah

E-mail Cetak PDF

DOHA (Berita SuaraMedia) – Persatuan Cendekiawan Muslim Internasional (IUMS) membentuk sebuah delegasi untuk membuat garis besar rencana komprehensif untuk mengakhiri perseteruan antara pemerintah Yaman dan pemberontak Syiah Houthi.

"Dewan Eksekutif IUMS di bawah kepemimpinan Sheikh Yusuf Al Qaradawi telah memutuskan untuk memediasi pemerintah Yaman dan pemberontak Houthi untuk mengakhiri kekerasan di sana," ujar Sheikh Abdullah bin Beya, anggota Dewan Wali IUMS, kepada IslamOnline.net.

Sebuah tim tingkat tinggi IUMS akan tiba di Yaman dalam beberapa hari ke depan untuk membahas cara-cara mengakhiri perseteruan antara pasukan pemerintah dan Houthi di provinsi Saada.

Dipimpin oleh Qaradawi, delegasi cendekiawan itu beranggotakan Abdullah bin Beya dari Mauritania, Ali Al Qurdaghi dari Qatar, Salman Oudah dari Saudi, Mufti Ahmed bin Hamad Al Khalili dari Oman, dan cendekiawan Syiah dari Iran, Mohamed Ali Tashkiri.

Pasukan Yaman terlibat dalam bentrokan hebat melawan pemberontak Syiah di provinsi utara, Saada.

Sanaa mengatakan bahwa para pemberontak, yang terkenal dengan nama Houthi, berusaha mengembalikan keimaman Zaidi, yang digulingkan pada tahun 1962.

Para pemberontak membantah klaim tersebut, mengatakan bahwa mereka mempertahankan desa mereka melawan apa yang mereka sebut sebagai agresi pemerintah.

Arab Saudi terseret dalam konflik itu tahun lalu setelah pemberontak Syiah menembak mati dua penjaga perbatasan dan menyusup ke wilayah Saudi sebelum kemudian diusir.

Sebelum meluncurkan inisiatif itu, IUMS mendengarkan sebuah laporan dari Presiden Partai Islam Malaysia (PAS) Abdul Hadi Awang yang mengunjungi Yaman, Saudi, dan Iran untuk mendiskusikan solusi dari konflik itu.

IUMS yang berbasis di Dublin diluncurkan bulan Juli 2004 di London sebagai sebuah badan independen dan referensi bagi kaum Muslim di seluruh dunia.

Para cendekiawan Muslim itu berharap dapat membantu menemukan sebuah solusi bagi kekacauan yang semakin meningkat di wilayah selatan Yaman itu.

"IUMS juga akan berusaha mendamaikan pemerintah dengan kelompok separatis selatan," ujar Abdullah bin Beya.

Yaman terpecah selama puluhan tahun dan menjadi medan tempur Perang Dingin ketika wilayah selatan meraih kemerdekaan dari Inggris sebelum reunifikasi 20 tahun lalu.

Sebuah pemberontakan meletus di selatan pada awal tahun 2009, dengan protes dan serangan terhadap pasukan pemerintah.

"IUMS berkeinginan untuk menutup tingkatan-tingkatan Arab dan mengakhiri pertumpahan darah kaum Muslim," ujar Qurdaghi.

Ia mengatakan bahwa pertumpahan darah di Yaman menyedihkan dunia Muslim.

"Karena itu, kami telah meluncurkan inisiatif ini untuk menghentikan pembunuhan terhadap kaum Muslim," jelasnya, menambahkan bahwa IUMS kini sedang berkoordinasi dengan pemerintah, Houthi, dan penduduk wilayah selatan.

Qurdaghi menggambarkan inisiatif para cendekiawan itu sebagai sebuah upaya politik oleh beberapa negara Arab, termasuk Mesir dan Irak.

"Inisiatif IUMS sejalan dengan upaya politik untuk mengakhiri perang ini." (rin/io) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon