Uskup Agung Lwanga ditemani oleh lebih dari 150 pendeta Katolik Roma dari Keuskupan Kampala dan diterima oleh Sheikh Shaban Ramadhan Mubajje.
Sang uskup mengatakan, "Kami di sini untuk menunjukkan kesatuan kita dalam Kristus karena kita semua adalah keturunan Ibrahim."
Ia menyerukan persatuan di antara umat Katolik dan Muslim jika ingin mewujudkan perdamaian di negara tersebut.
"Kita adalah saudara sepenciptaan. Persaudaraan ini harus dipelihara dan kami sebagai pemimpin agama harus memikulnya sesuai kehendak Tuhan sehingga kita dapat hidup damai dan harmonis," ujar Uskup Lwanga.
"Berkonsentrasi pada apa yang membangun kita, bukan yang memecah belah kita, karena tujuan kita adalah untuk mencapai kemajuan yang tidak akan dapat kita raih tanpa persatuan," ujar Sheikh Mubajje.
Sheikh menambahkan bahwa, "Kalian menghadapi kesalahpahaman dengan tenang, tidak seperti kami kaum Muslim dan saya mengagumi itu dari kalian. Konflik ada di mana-mana, antar individu, keluarga, dan kelompok, tampaknya normal tapi sebenarnya berbahaya. Namun, jika ditangani dengan baik, konflik dapat mempercepat kemajuan."
Sheikh Mubajje juga menyarankan para pemimpin gereja untuk berkonsentrasi pada perdamaian sebagai satu bentuk promosi persatuan antara rakyat Uganda dari berbagai latar belakang keyakinan untuk memastikan pembangunan di masa depan.
Sekitar 44% dari 28.3 juta penduduk Uganda beragama Katolik, 42% Protestan, dan 12% Muslim. Terdapat 6.700 Masjid yang di setiap Masjid ada Lingkaran Belajar Al Quran, juga satu Universitas Islam yang berada di bawah pengawasan Organisasi Konferensi Islam (OKI).
Di Uganda terdapat 60 radio misionaris Kristen, sedangkan radio Islam hanya satu, dikenal dengan nama Bilal Station, yang didukung oleh Arab Saudi dan Liga Dunia Muslim (MWL) yang berbasis di Makkah.
Negara-negara seperti Lybia, Saudi, dan Mesir mengirim aktivis dakwahnya ke Uganda. Saat ini, terdapat sekitar 60 pelajar Uganda yang sedang menempuh pendidikan di Al Azhar, dan di beberapa universitas Islam Saudi terdapat 100 pelajar Uganda yang kuliah dengan beasiswa dari MWL. Di tahun 2002, 25 pelajar aktivis Dakwah, yang biaya kuliahnya ditanggung oleh universitas dan Dewan Agung untuk Urusan Islam di Mesir, lulus dari Al Azhar.
Kaum Muslim Uganda terus berusaha mencapai kemajuan di segala bidang usaha manusia, untuk membangun kapasitas mereka dan melindungi hak-hak mereka, menjalankan tugas-tugas mereka, dan terus hidup berdampingan dengan rekan sebangsa senegara mereka yang non-Muslim.
Populasi Muslim Uganda tumbuh begitu pesat, dan untuk memenuhi kebutuhan akan tambahan fasilitas mereka mulai membangun sekolah-sekolah modern baru, dan memperbaiki yang lama. Di tahun 1994, kaum Muslim Uganda memiliki 1.015 sekolah dasar, 101 sekolah menengah, dua sekolah tinggi, dan satu universitas.
Menurut statistik tahun 1991, angka melek huruf di kalangan rakyat Uganda adalah 59%, angka itu meningkat dari tahun 1964 yang hanya berjumlah dua orang, sementara hari ini jumlah pemegang gelar doktroal dan lulusan universitas lainnya terdapat sekitar 200 orang.
Kaum Muslim Uganda juga membangun sejumlah pusat kesehatan, yang pelayanannya tidak hanya diberikan pada pasien-pasien Muslim, namun mencakup semua pasien dengan agama yang berbeda. (rin/sf/ip) www.suaramedia.com














