Kamis, 24 Mei 2012

Headlines:

Pasang Ucapan Untuk Muslim, Peritel AS Dikecam Warga AS

E-mail Cetak PDF

WASHINGTON (Berita SuaraMedia) – Membolak-balik katalog Best Buy untuk musim liburan, Celena Khatib melihat sebuah ucapan kecil di bagian bawah halaman yang berbunyi: "Selamat Hari Idul Adha".

Ucapan selamat untuk hari keagamaan penting yang dirayakan kaum Muslim tampaknya menjadi sebuah tonggak bersejarah dalam dunia pemasaran di AS.

"Akhirnya saya merasa bahwa mereka mengakui kaum Muslim sebagai bagian dari komunitas ini," ujar Khatib, 31, ibu dari dua orang anak yang tinggal di suburban Detroit. "Kami tinggal di sini, kami membelanjakan uang kami di sini."

Namun di website Best Buy, orang-orang di seluruh penjuru negeri melontarkan kecaman. "Kalian menghina semua pahlawan dan orang-orang tak bersalah yang tewas dalam serangan 11 September dengan merayakan hari libur agama yang mengatakan untuk menghancurkan mereka!"  tulis seseorang. Banyak lainnya yang mengatakan mereka tidak akan lagi berbelanja di Best Buy.

Kontroversi itu menggarisbawahi kendala yang terus menghadang peritel dan perusahaan lain dalam memasarkan ke populasi Muslim AS, yang diperkirakan berjumlah lebih dari 2.3 juta jiwa.

Bahkan sebuah studi tentang industri periklanan tiga tahun lalu, yang mendesak perusahaan-perusahaan untuk menguangkan apa yang saat itu merupakan daya beli komunitas sebesar 170 miliar dolar, mendapat sedikit traksi.

Best Buy dianggap sebagai peritel besar pertama yang memasarkan ke kaum Muslim di seluruh AS, dan hanya beberapa yang masuk ke periklanan langsung etnis lokal.

Alih-alih membuka jalan untuk lebih banyak periklanan nasional, iklan Best Buy nampaknya memperkuat status pariah yang dimiliki kaum Muslim dalam dunia pemasaran mainstream dan menjadi contoh mengapa "Selamat Idul Fitri/Adha" tidak akan bersanding dengan "Selamat Natal" dan "Selamat Hari Raya Hanukkah" sebagai ucapan tetap dalam iklan musim liburan di waktu dekat.

"Jelas bahwa pasar Muslim memiliki sejumlah tantangan yang unik. Itu bukan sesuatu untuk dipoles," ujar Rafiuddin Shikoh,pendiri Dinar Standard, sebuah perusahaan konsultasi yang mengkhususkan diri pada pasar Muslim.

Kelompok minoritas dan pendatang lain pernah mengalami perlakuan serupa dari para pengiklan, namun komunitas Muslim AS membawa beban yang lebih berat.

Sejak serangan 11 September 2001, ditambah dengan beberapa insiden terakhir seperti penembakan Fort Hood dan upaya pengeboman pesawat tujuan Detroit, kata "Muslim" bagi sejumlah warga Amerika adalah identik dengan "terorisme". Dan itu adalah sebuah citra yang tidak diinginkan oleh perusahaan untuk melekat pada nama-nama merk mereka.

Sebuah studi terbaru oleh Forum Agama dan Kehidupan Publik Pew menemukan bahwa 35% rakyat Amerika memiliki pandangan negatif tentang Muslim dan 45% meyakini bahwa Islam lebih memungkinkan daripada agama lain untuk mendorong kekerasan.

Bahkan mereka yang merajai dunia pemasaran untuk konsumen Muslim pun – seperti Shikoh – menyarankan perusahaan Barat untuk tidak melakukan apa yang dilakukan oleh Best Buy. Sebaliknya dalam sebuah langkah yang tampak lebih praktis dan  mengalah, mereka merekomendasikan untuk langsung beriklan di media etnis dan relijius dan menjauhkan diri dari mainstream.

"Pada titik ini, saya tidak tahu apakah ada kebutuhan nyata untuk sebuah kampanye nasional," ujar Shikoh. "Mereka penasaran untuk melihat apakah ada jalan untuk masuk ke pasar ini tanpa membahayakan reputasi mereka atau berbalik mengenai mereka suatu hari nanti."

Best Buy menolak untuk membahas iklan liburannya, meskipun sebuah pernyataan singkat di websitenya mengindikasikan pendiriannya terhadap  ucapan Idul Adha itu. "Para pelanggan dan karyawan Best Buy di seluruh dunia terdiri atas beragam keyakinan dan agama. Kami menghormati keragaman itu dan memilih untuk memberi ucapan selamat pada pelanggan dan karyawan kami dengan cara yang mencerminkan tradisi mereka."

Perusahaan-perusahaan lain baru-baru ini diserang karena memasarkan kelompok yang oleh beberapa pihak dianggap berada di luar jalur mainstream.

Iklan Gap di musim libur memicu kemarahan sebuah kelompok Kristen konservatif karena terlalu inklusif dengan menyebutkan hari-hari raya umat Kristen, Yahudi, sekuler, dan pagan dengan kalimat "Go Christmas, Go Hanukkah, Go Kwanzaa, Go solstice." Gap tidak secara langsung menyebutkan apakah telah mempertimbangkan untuk menyebut Idul Adha, yang dirayakan dua minggu setelah iklan pertama mereka muncul.

Mohammed Abdullah, koordinator acara untuk Konferensi Konsumen Muslim Amerika yang pertama, meyakini bahwa iklan Best Buy akan memacu lebih banyak outreach.

"Strategi pertumbuhan yang diterapkan oleh Best Buy akan ditiru, dan hanya segelintir orang yang akan melihat iklan hari libur Muslim sebagai sebuah negativitas atau langkah yang salah," ujar Abdullah, asisten wakil presiden di Deustche Bank. "Pasti akan ada lebih banyak outreach untuk segmen pasar ini.

Beberapa perusahaan telah mulai mengetes pasar Muslim. Crescent Foods di Chicago, misalnya, mulai menjual produk ayam halalnya di enam toko Wal-Mart, Michigan, dan di ShopRite, sebuah rantai regional di wilayah tenggara. (rin/lat) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon