Kamis, 24 Mei 2012

Headlines:

Muslim Perancis Hujat Imam Masjid Pro-Larangan Burqa

E-mail Cetak PDF

PARIS (Berita SuaraMedia) - Keputusan parlemen Perancis untuk melarang pemakaian burqa di tempat-tempat umum ternyata mengundang pro dan kontra  di dalam komunitas Muslim Perancis. Muslim yang pro dengan keputusan parlemen Perancis tersebut menerima makian dari Muslim yang lain.

Pada hari Senin (1/02), sebuah komisi Parlemen Perancis mengeluarkan laporan yang berisi himbauan agar parlemen Perancis melarang pemakaian burqa di sekolah, rumah sakit, transportasi umum, dan kantor pemerintahan.

Himbauan tersebut menuai sikap kontra dari sebagian besar pemimpin Muslim di Perancis Mereka mendesak para anggota parlemen Perancis untuk tidak memberikan suara bagi pelarangan burqa. Namun, seorang imam Perancis, yaitu Hassen Chalghoumi, menjadi perkecualian dalam hal ini. Ia mendukung himbauan tersebut.

Chalghoumi (36 tahun) lahir di Tunisia dan menjadi warga negara Perancis lewat proses naturalisasi. Ia memimpin sebuah Masjid yang terletak di Drancy, Seine-Saint-Denis, sebuah wilayah suburban di sisi utara Paris yang dihuni oleh banyak Muslim. Chalghoumi aktif dalam mempromosikan dialog Muslim-Yahudi – sebuah aktivitas yang membuat Chalghoumi terbiasa dengan ancaman akan dibunuh.

Menurut Chalghoumi, wanita yang ingin menutupi sekujur wajah selayaknya pindah saja ke Arab Saudi atau ke negara-negara Muslim yang lain yang memiliki tradisi berburqa. "Ya, Saya mendukung larangan resmi terhadap burqa, yang tidak memiliki tempat di Perancis, negara dimana wanita telah memberikan suara sejak 1945," kata Chalghoumi kepada harian Le Parisien pad hari Sabtu (23 Januari 2010).

Chalghoumi menuturkan bahwa cadar yang menutup seluruh wajah tidak memiliki dasar di dalam Islam dan "merupakan bagian dari tradisi minoritas yang mencerminkan sebuah ideologi yang tidak sejalan dengan agama Islam. "Burqa adalah penjara bagi wanita, sebuah sarana dominasi jenis kelamin dan indoktrinasi Islamis," kata Chalghoumi.

Chalghoumi mengkritik sejumlah usulan dari para politisi konservatif, misalnya usul untuk menerapkan denda atau pemotongan tunjangan anak bagi wanita bercadar. Walau demikian, Chalghoumi setuju bahwa Perancis sebaiknya tidak memberi kewarganegaraan bagi wanita imigran yang menutupi seluruh wajahnya.

Gara-gara menanam dukungan terhadap himbauan pelarangan burqa, Chalghoumi akhirnya memanen kecaman.

Chalghoumi mengatakan bahwa ia menerima ancaman pada hari Senin (25/01). Chalghoumi percaya bahwa kelompom Islamis berada di balik ancaman tersebut. Pada hari Selasa (26 Januari 2010), dua gugatan dilayangkan kepada Chalghoumi sebagai respon atas keluhan yang diajukan Chalghoumi terkait ancaman mati di atas.

Pada hari Jumat (29/01), Chalghoumi memanfaatkan kesempatan sholat Jumat untuk memberi penjelasan. Sebelum memulai sholat Jumat, Chalghoumi – yang berdiri di samping polisi – meraih mikrofon dan meyakinkan para jemaah bahwa ia tidak mengajukan gugatan. Ia hanya melaporkan insiden yang terjadi pada hari Senin. Ia menambahkan bahwa komisaris polisi dapat memberi konfirmasi tentang pernyataannya.

Seorang jemaah yang menentang Chalghoumi ingin memberi tanggapan. Namun, Chalghoumi tidak bersedia menyerahkan mikrofon.

Seusai sholat Jumat, Chalghoumi mempersilakan hadirin untuk mengadakan diskusi dengan tenang, demi menghormati tempat ibadah mereka. Tak sepantasnya Masjid menjadi ajang kontroversi. "Saya tidak berbicara atas nama Muslim," kata Chalghoumi membela diri. Ia menuturkan bahwa sebenarnya ia tidak menentang burqa. Ia hanya berpendapat bahwa wanita tak dapat mengenakan burqa dengan damai di Perancis. Disamping itu, masih ada isu-isu yang lebih pantas untuk dibahas di Perancis. Chalghoumi menuduh media massa telah memelintir kata-katanya.

"Bohong!" teriak para jemaah. "Kami merekam ucapan Anda di radio," seru seorang jamaah. Hujatan memenuhi ruangan Masjid. Chalghoumi pun bergegas pulang dengan dikawal petugas kepolisian.

Dalam situasi yang tidak menyenangkan tersebut, seorang jamaah, Yacine, berkesempatan memberi pernyatan kepada AFP. Yacine adalah anggota kelompok yang dituduh berada di balik insiden ancaman mati pada hari Senin. "Kami bukanlah sebuah komando. Hal itu berakhir dengan damai. Kami datang untuk meminta saudara kami, Hassen, untuk tidak berbicara atas nama para Muslim Drancy. Sebab, tidak semua orang memiliki pendapat yang sama tentang pemakaian niqab.

Permasalahan pun kemudian melebar. Tak hanya dukungan terhadap pelarangan burqa yang dipersoalkan, namun juga kepemimpinan Chalghoumi di Masjid Drancy. Masjid Drancy dikelola oleh Al-Nour, sebuah asosiasi kebudayaan. Menurut para jamaah yang diwawancarai oleh AFP, Chalghoumi adalah ketua Al-Nour. Chalghoumi menjalankan fungsi administratif, bukan imam Masjid. Untuk menjadi imam, seseorang haruslah memiliki pengetahuan keagamaan yang lebih mendalam dan mendapat wewenang untuk memimpin sholat serta memberi ceramah.

Yacine mengajak para jemaah untuk keluar dan menandatangani sebuah petisi yang menuntut Chalghoumi untuk mundur dari jabatannya sebagai ketua Al-Nour.  "Kami tidak mengakui keimaman seseorang yang datang dengan dikawal oleh bodyguard." Demikian teks yang tercantum dalam petisi tersebut. (es/ie) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon