Dewan Sains dan Humaniora Jerman, yang terdiri atas pejabat senior pemerintah dan profesor, mendesak dibangunnya lembaga teologi Islam di dua atau tiga universitas untuk awalnya.
Pelatihan imam dan pengajar sekolah Islam harus diterima menjadi sebuah program studi dengan gelar sarjana.
Menteri pendidikan Jerman, Annette Schavan, menyambut baik keputusan dewan tersebut.
"Melatih para pengajar agama Islam dan mengembangkan studi Islam adalah bagian dari kebijakan integrasi dalam sebuah masyarakat modern," ujar Schavan.
Panel penasihat telah menyusun sebuah laporan dalam dua tahun terakhir yang fokus pada reformasi pengajaran teologi di universitas Jerman, terutama teologi Islam, Kristen, Yahudi.
Saat ini, studi Islam di universitas Jerman hanya fokus pada sejarah dan seni dalam cara yang netral. Meski demikian, sebuah departmen telah dibentuk di salah satu universitas Jerman di kota Muenster, untuk melatih para pengajar sekolah mengajarkan agama Islam kepada anak-anak.
Departemen kecil itu menawarkan pelajaran Al-Quran dan topik-topik lain kepada para pengajar bercita-cita tinggi itu, namun kebanyakan pengajar yang sekarang mengajar anak-anak Muslim di sekolah-sekolah Jerman mendapatkan pelatihan di Turki.
Sementara itu, di beberapa bagian dunia Islam, studi teologi yang menggunakan metode akademis Barat telah dipandang dengan penuh kecurigaan, terutama studi sejarah dan filsafat yang menelusuri perubahan doktrin seiring berjalannya waktu.
Bekir Alboga, juru bicara untuk komite koordinasi organisasi Muslim Jerman mengatakan bahwa setidaknya pada tahap-tahap awal, kelompok-kelompok Muslim ingin memiliki pengaruh atas siapa yang dapat memberikan pengajaran dan konten pengajaran.
Berkat pendatang tenaga kerja di tahun 1960an dan beberapa gelombang pengungsi politik sejak tahun 1970an, Islam telah menjadi agama yang cukup terlihat di Jerman. Di tahun 2009, terdapat sekitar 4.3 juta Muslim atau 5.4% dari total 80 juta populasi Jerman. Dari jumlah itu, 1.9 juta di antaranya adalah warga negara Jerman (2.4%).
Islam merupakan agama minoritas terbesar di negara tersebut, dengan Katolik Roma dan Protestan sebagai agama mayoritas terbesar. Mayoritas kaum Muslim di Jerman adalah keturunan Turki (63.2%), disusul dengan kelompok-kelompok yang lebih kecil dari Pakistan, negara-negara bekas Yugoslavia, negara-negara Arab, Iran, dan Afghanistan.
Kebanyakan kaum Muslim tinggal di Berlin dan kota-kot besar lainnya di bekas Jerman Barat. Namun, tidak seperti sebagian besar negara Eropa, sejumlah besar komunitas Muslim terdapat di wilayah-wilayah rural Jerman, terutama Baden-Württemberg, Hesse dan sebagian Bavaria, serta North Rhine-Westphalia.
Karena kurangnya buruh pendatang sebelum tahun 1989, hanya ada sedikit kaum Muslim di bekas Jerman Timur. Mayoritas Muslim di Jerman beraliran Sunni (75%). Beberapa yang menganut Syiah (7%) kebanyakan berasal dari Iran.
Komunitas Muslim Ahamdiyah juga ada di sana. (rin/mn/wp) www.suaramedia.com
- Terbukanya Pintu Masjid Luruskan Kesalahpahaman Spanyol
- NSC Salahkan Pendatang Dunia Ketiga Atas Syariah Inggris
- Filipina Tawari Pembagian Kekuasaan Untuk Muslim Moro
- Uskup Katolik Turun Tangan Dalam Isu Larangan Bercadar
- Lantunan Adzan Dan Lonceng gereja Jadi Simbol Toleransi Agama














