Meningkatnya kebencian terhadap kaum Muslim adalah penyebab intrusi musikal ini ke dalam ruang publik. Seruan adzan dan gema lonceng dikumandangkan oleh pengeras suara dari sebuah ruang di Kapel St Anthony di tengah kota pada hari Jumat dan Sabtu, pukul 10 pagi, dua siang, dan lima sore selama enam menit.
Reaksi orang-orang yang lewat sangat beragam. "Ini mengerikan," ujar salah seorang wanita berusia 40an tahun, menambahkan bahwa Jerman dulu adalah sebuah negara Katolik. Namun, Yenerturk Asil (52), warga keturunan Turki, merasa senang. "Saya merinding. Inilah rumah, ketika saya mendengarnya." Johanna Demhardt (70) mengenang perjalanannya ke Singapura. "Di sana, baru-baru ini saya juga mendengarnya. Di sini, di Mainz, tidak terlalu cocok."
Untuk membuatnya lebih sesuai, organisasi Arab-Nil-Rhein, sebagai mitra penyelenggara, memberikan selebaran penjelasan. "Kunci untuk hidup berdampingan dengan damai: rasa hormat, pemahaman, keterbukaan, toleransi, dan rasa percaya. Anda juga memiliki kunci ini, yang akan membuka banyak pintu," bunyi selebaran itu. Lalu apa pendapat orang-orang? Kilali ingin menanyakan dan mendokumentasikan jawaban mereka.
Dia senang menjelaskan motifnya secara detail, yaitu: Memburuknya diskusi emosional atas pembangunan Masjid di Eropa, persoalan jilbab atau selimut kecurigaan terhadap terorisme di satu sisi dan permusuhan serta eksklusi terhadap orang-orang Kristen oleh kaum Muslim di negara-negara Arab di sisi lain, adalah alasan untuk "ON AIR". Pimpinan Arab-Nil-Rhein, Samy El Hagrasy, mengatakan dengan antusias, "Di malam informasional kami, tidak banyak orang yang datang. Ketika kami melakukannya dengan proyek seni ini di luar, akan lebih banyak orang yang memperhatikan."
Seni politik di luar museum dan galeri, melibatkan hasil karya seseorang, penting bagi Kilali. Setahun lalu, Ia mendesain di Berlin tempat penampungan gelandangan paling indah di dunia. Selama renovasi bangunan tua itu, para penghuninya ikut membantu. Dua tahun sebelumnya, Kilali membangun kembali sebuah tempat penampungan darurat di Moskow.
Dan mengapa sekarang di ibukota negara bagian Rhineland-Palatinate? Mainz adalah salah satu keuskupan tertua di Jerman, jawab Kilali, dan uskupnya, Kardinal Karl Lehmann, mengatakan bahwa ia sangat terbuka untuk dialog antar agama. Selain itu, artis Berlin yang dibaptis secara Katolik ini telah tinggal di Mainz selama 10 tahun.
Tentu saja mereka telah mendaftarkan proyek seni mereka itu ke gereja dan pemerintah kota. Namun untuk seruan adzan, tidak ada yang tahu sebelumnya, bahkan juga Kardinal Lehmann.
Michael Baunacke, pendeta Kapel St. Anthony, memandang jam sakunya yang tua sembari berkata, "Ini bukan hal yang biasa, tapi mungkin kita harus membiasakan diri, bahwa kita memerlukan dialog yang berbeda, ujarnya. Ini adalah tentang berbagi tanggung jawab dan tidak mengadu domba opini publik." (rin/ie) www.suaramedia.com
- Beragam Kisah Keajaiban Islam Bagi Mualaf Belanda
- Terbukanya Pintu Masjid Luruskan Kesalahpahaman Spanyol
- NSC Salahkan Pendatang Dunia Ketiga Atas Syariah Inggris
- Filipina Tawari Pembagian Kekuasaan Untuk Muslim Moro
- Uskup Katolik Turun Tangan Dalam Isu Larangan Bercadar














