Tidak ada daging dalam menu, namun juga tidak ada alternatif lain. Pemerintah kota ingin secara resmi menengahi persoalan sensitif yang muncul secara tidak resmi beberapa tahun lalu ketika sejumlah keluarga yang tidak ingin anak-anaknya makan daging di kantin untuk alasan agama mengadu ke walikota. Pemerintahan kota ingin staf kantin memenuhi permintaan para keluarga itu.
Marie-Line Huc, konselor pemerintahan kota dan ahli diet, tidak melihatnya sebagai tamparan terhadap sekulerisme. Mereka hanya memilih untuk menghormati pilihan para orangtua yang bertanggung jawab terhadap pendidikan anak-anaknya. Di sisi lain, tidak ada permintaan untuk mengganti daging dengan sesuatu yang lain, bukan dengan daging halal atau sumber protein lainnya. Ini berarti makanan itu tidak akan menjadi menu utama di hari-hari ketika, misalnya, menu utamanya adalah pie shepard.
Masih dalam kasus ini, semua orang berjalan di atas kulit telur. Ingin mengembangkan menu yang variatif dan seimbang dan untuk menjadikan waktu yang dihabiskan di kantin sebagai "momen penemuan", Marie-Line Huc harus mematuhi keputusan mayoritas, yang dicapai setelah perdebatan panjang, terlepas dari kekhawatirannya.
"Nilai-nilai kita masih tetap sama," ujarnya, dan menambahkan bahwa ia tidak merasa mereka telah melonggarkan sikap sekuler mereka. "Saya masih tetap yakin bahwa tawaran menu ini tidak harus dibebani dengan pertimbangan filsafat relijius. Benar bahwa keputusan ini mengganggu saya. Namun untuk sekarang, ini menyangkut puluhan keluarga yang mengajukan permintaan di sekolah Cezanne-Renoir dan Saint-Exupery. Dan secara sosial sulit bagi kami untuk menjauhkan keluarga-keluarga ini dari kantin. Kami hanya berharap ini tidak menjadi gelinding bola salju yang membesar."
Untuk menghindari kebingungan, pemerintah kota berencana menyelenggarakan dua pertemuan informasional di sekolah-sekolah pada akhir Januari, dengan mengundang imam Angouleme yang akan menjelaskan beberapa hal pada keluarga-keluarga itu. Karena seorang anak Muslim tidak harus mematuhi peraturan makanan relijius dan karena itu tidak diharuskan makan daging halal hingga mereka cukup dewasa untuk membuat keputusan mereka sendiri.
Menurut sekolah Cezanne-Renoir, keputusan pemerintah itu sulit diadaptasi. Michele Giet, kepala sekolah dasar, mengatakan bahwa keputusan itu memberi mereka masalah etika. Kantin adalah sebuah layanan, dan makan di sana bukan sebuah kewajiban. Para orangtua harus beradaptasi pada menu yang ditawarkan, dan bukan sebaliknya. Kepala sekolah merasa bahwa keputusan pemerintah itu membuka pintu ke hal-hal yang lain, seperti menu vegetarian untuk keluarga vegetarian. Kantin bukanlah restoran, mereka mengundang anak-anak untuk merasakan makanan yang tidak mereka sukai, seperti bayam misalnya.
Dihadapkan pada intoleransi makanan dan prinsip-prinsip relijius, kantin berisiko sulit untuk dimasuki. Kepala sekolah mengatakan bahwa mereka tidak berada di sana untuk memeriksa agama setiap orang, dan kemudian jika ada seorang anak yang ingin makan daging, mereka harus memeriksa apakah orangtuanya menulis permintaan ke walikota. (rin/ie) www.suaramedia.com
- Pantau Muslim Beribadah, Pemerintah Mesir Menuai Hujatan
- Polisi Inggris Harapkan Bantuan Muslim Kenali Calon Teroris
- Lapangan Parkir Rahasia Jemaah Sholat Jumat LA
- Partai Anti-Kapitalis Perancis Ajukan Kandidat Berjilbab
- Video Ungkap Kekerasan Terhadap Polisi Oleh Gang Anti-Islam














