Ini adalah sesuatu yang mengejutkan masyarakat sekuler Perancis karena NPA (New Anti-capitalist Party), yang dipimpin oleh Olivier Besancenot, adalah sebuah partai yang menghasilkan banyak berita dari posisi kirinya yang ekstrem terhadap berbagai isu termasuk sekulerisme.
Ilham Moussaid, yang mengenakan jilbab dan merupakan seorang mahasiswa serta bendahara partai, adalah kandidat NPA untuk dewan Vaucluse regional di selatan Perancis, ujar Besancenot mengkonfirmasi pada harian Le Figaro.
"Seorang wanita dapat menjadi seorang feminis, dapat memelihara nilai-nilai sekuler dan mengenakan jilbab dalam waktu yang sama," ujarnya.
Mengenakan jilbab, dan simbol-simbol keagamaan lainnya seperti salib, dilarang keras di institusi publik Perancis seperti sekolah.
Dan sebuah komisi parlemen lintas partai bulan lalu mengajukan daftar rekomendasi untuk sebuah undang-undang yang melarang pemakaian cadar di tempat-tempat umum seperti rumah sakit dan transportasi umum.
Ini adalah persoalan yang bersifat sangat Perancis. Jilbab di negara itu semuanya disebut dengan "voile", yang berarti "veil" atau cadar, meskipun tidak menutup wajah.
Publik Perancis tidak menyukai cadar karena dianggap sebagai perwujudan dominasi kaum pria terhadap kaum wanita, serta simbol agama di sebuah negara yang menganut prinsip pemisahan antara negara dan gereja (agama).
Namun cadar dan jilbab juga merupakan pengingat bahwa Perancis adalah rumah bagi populasi Muslim terbesar di Eropa, sesuatu yang sering membuat kelompok sayap kanan (dan seringkali umat Kristen) merasa tidak nyaman.
Membuat jalan di daerah pinggiran miskin Perancis, yang terkenal dengan populasi pendatang Muslimnya yang besar, dapat memberikan dividen politik bagi NPA, yang hanya sebuah partai kecil.
"Banlieues itu," ujar Besancenot kepada Le Figaro, "Adalah gurun pasir di mana asosiasi sosial, persatuan dan aktivitas politik hampir tidak berkembang."
Wilayah itu juga merupakan tempat di mana kaum wanita, beberapa mengenakan jilbab, mulai membawa obor bagi nama anti-kapitalis Trotskyism NPA.
Dalam sebuah pernyataan, partai itu mengatakan bahwa pilihan untuk mencalonkan Moussaid sebagai kandidat muncul dari perdebatan yang rumit dan serius.
"Ia adalah seorang feminis, anti-kapitalis dan internasionalis yang kebetulan mengenakan jilbab untuk alasan relijius," ujar penyataan tersebut. " NPA menerima anak-anak muda dan pekerja dari segala aspek kehidupan yang berbagi prinsip-prinsip kami. Keyakinan agama adalah masalah pribadi yang tidak seharusnya menjadi penghalang bagi perjuangan NPA untuk prinsip-prinsip fundamental sekulerisme, fenimisme, dan anti-kapitalisme." (rin/f24) www.suaramedia.com
- Teka Teki Di Balik Bentrokan Kristen – Muslim Guinea
- Terhambat Dana, Lembaga Islam Serbia Terancam Tutup
- Pantau Muslim Beribadah, Pemerintah Mesir Menuai Hujatan
- Polisi Inggris Harapkan Bantuan Muslim Kenali Calon Teroris
- Lapangan Parkir Rahasia Jemaah Sholat Jumat LA














