Sir Norman Bettison, kepala Kepolisian West Yorkshire, mengatakan bahwa sementara ia sadar akan adanya batasan antara meraih dukungan dari komunitas Muslim dan mengasingkan mereka, terdapat pula kebutuhan bagi komunitas itu untuk bekerjasama dengan kepolisian.
"Saya berharap komunitas bekerja lebih dekat dengan kepolisian dalam mengidentifikasi anak-anak muda yang dicemaskan oleh komunitas, terkait orang-orang yang ada dalam lingkaran pergaulan anak-anak tersebut, website macam apa yang mereka jelajahi, dan material yang mereka baca," ujarnya. "Informasi semacam itu hanya dapat berasal dari komunitas itu sendiri."
Sir Norman berbicara dalam sebuah wawancara untuk Generation Jihad, episode pertama dari tiga bagian serial yang ditayangkan di BBC Two.
Ia mengatakan bahwa komunitas Muslim dapat berbuat lebih banyak untuk membantu mengidentifikasi calon teroris yang berada di tengah-tengah mereka.
"Saya rasa kita harus waspada dan sadar akan risiko yang ada dan bersiap untuk mencegah dan berbagi informasi," ujar Sir Norman. "Sehingga komunitas secara keseluruhan dapat berbuat lebih banyak dan komunitas Muslim adalah bagian dari itu."
Tiga tersangka pengeboman London tanggal 7 Juli 2005 berasal dari West Yorkshire dan area itu juga merupakan rumah Hamaad Munshi, pemuda Inggris terdakwa teroris.
Sir Norman, yang merupakan perwakilan Asosiasi Kepala Polisi untuk kebijakan menangani ektremisme kekerasan, mengatakan bahwa "Generation Jihad" kemungkinan besar akan menjadi persoalan untuk beberapa waktu.
"Saya rasa ini adalah pengobatan untuk mencegah penyebaran infeksi dan saya pikir kita akan membutuhkan waktu mungkin 20 tahun untuk ini," ujarnya.
Serial itu, yang dipandu oleh Peter Taylor, membahas mengapa para pemuda mengkhianati negara tempat mereka dilahirkan.
Meskipun mewakili minoritas kecil komunitas Muslim, kini mereka menjadi ancaman terbesar bagi keamanan nasional Inggris, ujar Taylor.
Awal bulan Februari ini, Perdana Menteri Inggris Gordon Brown mengatakan akan mengadakan pertemuan internasional di London untuk membahas metode-metode melawan radikalisasi di Yaman, menyusul upaya pengeboman sebuah pesawat menuju AS di hari Natal tahun lalu. Langkah tersebut muncul setelah Perdana Menteri mengumumkan review cepat keamanan di bandara-bandara Inggris, yang mungkin akan memicu diperkenalkannya pemeriksaan tubuh secara menyeluruh yang dapat mendeteksi bahan peledak seperti yang diselundupkan di salah satu pesawat tujuan AS dari Amsterdam.
Tersangka Umar Farouk Abdulmutallab, 23, diyakini telah mengembangkan sudut pandang Islam radikal selama kunjungannya ke Yaman. Menteri luar negeri Yaman juga telah meminta bantuan internasional untuk menghadapi 300 anggota Al Qaeda yang diyakini menggunakan negara itu sebagai markas.
Brown mengatakan bahwa pertemuan tanggal 28 Januari 2010 itu akan menjadi even mandiri yang melibatkan mitra-mitra internasional utama dan diadakan bersama dengan konferensi mengenai masa depan Afganistan yang digelar di London pada hari yang sama.
Downing Street mengatakan bahwa rencana Brown telah mendapat dukungan dari Gedung Putih dan Uni Eropa.
Dalam sebuah artikel di website Downing Street, Brown mengatakan telah semakin jelas bahwa tersangka upaya pengeboman pesawat di hari Natal itu tidak menjadi ekstremis ketika masih menjadi mahasiswa di London namun ia mengatakan bahwa Inggris harus tetap tegas terhadap radikalisasi anak-anak muda Muslim.
Seorang mantan teman dekat Abdulmutallab juga mengatakan bahwa ia yakin tersangka mengalami radikalisasi setelah meninggalkan Inggris. Qasim Rafiq, yang meneruskan jabatan Abdulmutallab sebagai presiden Masyarakat Islam UCL, mengatakan, "Ketika saya mendengar kabar itu saya berpikir, mungkinkah ini orang yang sama? Individu baik, rendah hati, sopan, dan pandai berbicara yang saya kenal dekat?" (rin/wol/yr) www.suaramedia.com
- Anak Sopir Bus Jadi Kandidiat Muslim Pertama Tory Di Parlemen
- Pendatang Muslim Diharuskan Tandatangani Kontrak Perancis
- Teka Teki Di Balik Bentrokan Kristen – Muslim Guinea
- Terhambat Dana, Lembaga Islam Serbia Terancam Tutup
- Pantau Muslim Beribadah, Pemerintah Mesir Menuai Hujatan














