"Situasinya sangat sulit di Nzerekore," ujar seorang sumber kepolisian pada hari Minggu (7/2).
"Sekarang pun masih sangat tegang."
Namun penyebab kekerasan masih menjadi teka teki.
Beberapa mengatakan bentrokan itu dimulai setelah sekelompok Muslim berkumpul untuk membuka sebuah Masjid yang ditutup oleh pemerintah akhir bulan lalu karena ketegangan yang terjadi di antara kedua komunitas relijius ini.
Ketegangan di Nzerekore, daerah kantong umat Kristen di negara yang didominasi kaum Muslim ini, muncul minggu lalu setelah terjadi keributan antara seorang wanita Kristen dan sekelompok pria Muslim.
Sejumlah warga mengatakan bahwa para pria itu menghentikan sang wanita yang menggunakan jalan yang ditutup untuk sholat dan bahwa sang wanita merespon dengan memukul salah satu dari mereka dengan sepatu.
Laporan lain menyebutkan bahwa wanita itu mengenakan pakaian yang kurang pantas sehingga dilarang melintasi Masjid.
Sebagai balasannya, warga Kristen melempari umat Muslim yang sedang sholat dengan batu.
Para pemuda Kristen juga mengendarai motor di dekat sebuah Masjid di wilayah itu untuk mengganggu jalannya sholat.
"Kami dilapori bahwa satu orang tewas dan 29 lainnya terluka," ujar sumber kepolisian.
Suasana tenang dapat dikembalikan pada Sabtu malam, meskipun beberapa tembakan sporadis masih terdengar di kota.
Kekerasan itu memaksa puluhan wanita dan anak-anak keluar dari kota untuk menyelamatkan diri.
Negara di Afrika Barat yang merupakan bekas jajahan Perancis ini memiliki jumlah penduduk 10 juta, hampir 85%-nya adalah Muslim.
Untuk memadamkan kekerasan, pemerintah menerapkan jam malam di dalam kota.
"Kami menerapkan jam malam, meski demikian kekerasan terus berlangsung," ujar sumber kepolisian.
Pemerintah juga telah mengirimkan delegasi untuk berbicara dengan para pemimpin Muslim dan Kristen di dalam kota untuk menenangkan situasi.
Kota yang terletak di wilayah timur itu mengalami ketegangan atas digulingkannya pemimpin junta Moussa Dadis Camara.
"Salah satu alasannya adalah ketegangan di negara itu sejak kudeta tanggal 3 Desember yang dipimpin oleh Camara setelah kematian pemimpin Lansana Conte," ujar Hamdi Abdel-Rahman, seorang profesor ilmu politik di Universitas Kairo.
Camara, yang terluka oleh mantan ajudannya sendiri, adalah salah seorang anggota kelompok etnis minoritas.
Ia telah dimintai pertanggungjawaban oleh sebuah laporan PBB atas pembunuhan terhadap 150 pemrotes pro-demokrasi di Conakry pada bulan September lalu.
"Ketegangan politik di Guinea berujung pad insiden terbaru di Nzerekore," ujar Abdel-Rahman. (rin/io/go) www.suaramedia.com
- Para Penyerang Mahasiswa Muslim Inggris Bebas Hukuman
- Gunakan Forum Terbesar Dunia, Muslim Australia "Bersihkan" Islam
- Hotel Ramah Muslim Pertama Dibuka Di Afrika Selatan
- Anak Sopir Bus Jadi Kandidiat Muslim Pertama Tory Di Parlemen
- Pendatang Muslim Diharuskan Tandatangani Kontrak Perancis















