"Kesetaraan antara pria dan wanita adalah prinsip dasar dari masyarakat Perancis," ujar Menteri Keluarga Nadine Morano, seperti yang dilaporkan oleh Agence France-Presse (AFP).
"Hal yang sama berlaku untuk burqa."
Saat ini, para pendatang baru diwajibkan menandatangani kontrak yang menyatakan bahwa poligami dan kawin paksa tidak dibolehkan di Perancis. Ketiga kontrak ini akan ditambahkan dalam "perjanjian integrasi" yang harus dipatuhi oleh para pendatang baru.
"Saya juga ingin menambahkan bahwa khitan perempuan sangat dilarang," ujar Morano.
Perancis telah tenggelam dalam sebuah perdebatan panas mengenai jilbab – burqa dan cadar - sejak Presiden Nicolas Sarkozy menyatakan pakaian tersebut tidak diterima di negara sekuler itu.
Bulan lalu, sebuah panel parlemen merekomendasikan larangan parsial terhadap pemakaian cadar di rumah sakit, sekolah, transportasi umum dan kantor-kantor pemerintah. Sekelompok anggota parlemen ini mengatakan bahwa cadar masih dibolehkan jika dipakai di dalam rumah.
Ketua komite, Andre Gerin, mengatakan bahwa larangan penuh akan menimbulkan ketegangan di kalangan Muslim dan memicu lahirnya ekstremisme. Langkah itu juga dapat berbalik arah karena kemungkinan besar akan ditentang oleh Pengadilan HAM Eropa.
Namun, Gerin menambahkan, "Kami merekomendasikan agar semua wanita harus memperlihatkan wajahnya ketika masuk ke institusi-institusi publik atau naik transportasi umum dan tidak menutup wajahnya selama berada di dalam gedung atau kendaraan itu."
Morano mendapat dukungan dari banyak anggota parlemen dalam seruannya agar para pendatang yang mengenakan burqa dilarang tinggal di Perancis.
Perdana Menteri Francois Fillon minggu lalu meminta pengadilan tinggi untuk membantu pemerintah menyusun sebuah undang-undang yang melarang pemakaian cadar.
Awal bulan ini, pemerintah telah memutuskan untuk menolak kewarganegaraan seorang pria atas tuduhan memaksa isrinya yang orang Perancis untuk mengenakan cadar.
Perdebatan Perancis ini telah menyebar ke seluruh Eropa, dengan banyak negara mempertimbangkan undang-undang untuk melarang pakaian tersebut.
Perancis melarang jilbab pada tahun 2004, beserta simbol-simbol agama lainnya, di sekolah-sekolah sebagai bagian dari upaya memelihara sekulerisme.
Menurut Menteri Dalam Negeri, Brice Hortefeux, hanya 1.900 wanita Muslim yang mengenakan cadar di Perancis. Sedangkan yang mengenakan burqa hanya 5.000 wanita.
Sementara jilbab adalah aturan berpakaian bagi wanita Muslim, mayoritas cendekiawan Muslim sepakat bahwa seorang wanita tidak diwajibkan mengenakan cadar atau burqa.
Cendekiawan Muslim terkemuka, Tariq Ramadan mengatakan bahwa perdebatan Perancis mengenai cadar mencerminkan tumbuhnya keraguan terhadap diri sendiri di dalam masyarakat Perancis.
Perancis adalah rumah bagi sekitar tujuh juta Muslim, minoritas Muslim terbesar di Eropa.
Tahun lalu, Morano juga telah menarik reaksi kemarahan karena mengatakan bahwa pemuda Muslim seharusnya tidak berbicara dengan menggunakan bahasa gaul atau memakai topi mereka secara terbalik.
Ditanyakan oleh seorang pemuda tentang kompatibilitas Islam dengan Republik Prancis, Morano mengatakan bahwa menjadi Perancis bukan hanya tertera dalam KTP atau struk pembayaran, tetapi lebih untuk mencintai Perancis.
Morano berkata dia ingin Muslim muda untuk "mencintai Perancis ketika ia tinggal di sini, untuk mencari pekerjaan, tidak berbicara bahasa gaul dan tidak memakai topi yang terbalik."
Komentar tersebut dibuat dalam suatu perdebatan yang berlangsung di Charmes, Vosges, di mana sekitar 300 orang hadir.
Oposisi Sosialis dan kampanye anti-rasisme mengkritik komentar-komentarnya, yang dibuat di sebuah diskusi yang diselenggarakan sebagai bagian dari debat nasional mengenai identitas Perancis yang telah banyak dikritik telah terpecah-belah.
"Saya mengatakan bahwa dengan karikatur ini, dan stigmatisasi yang ada, saya akan sarankan mereka tidak hanya untuk memakai topi mereka lurus ke depan dan tidak berbicara bahasa slang, tapi saya menjelaskan juga (mereka harus) menggunakan potensi budaya ganda mereka," katanya pada hari Selasa.
Komentarnya kepada pemuda Muslim mengacu kepada"verlan", slang jalanan perancis yang dibentuk dengan membalik suku-suku kata. Namun, topi terbalik, celana baggy dan berbicara dengan bahasa gaul yang khas, berhubungan dengan orang-orang pinggiran kota, sudah lama menyebar ke sekolah-sekolah tinggi di seluruh negeri dan kepada para pemuda dari semua latar belakang. (rin/io/dm/sm) www.suaramedia.com
- Tolak Deportasi Muslim Bosnia, Mantan Polisi Raih Penghargaan
- Para Penyerang Mahasiswa Muslim Inggris Bebas Hukuman
- Gunakan Forum Terbesar Dunia, Muslim Australia "Bersihkan" Islam
- Hotel Ramah Muslim Pertama Dibuka Di Afrika Selatan
- Anak Sopir Bus Jadi Kandidiat Muslim Pertama Tory Di Parlemen














