Kenalan mereka menggambarkan keluarga ini sebagai Muslim konservatif dan taat yang datang ke Masjid di Stilring dan Alloa.
Siddique rajin belajar ketika di Akademi Alva. Mantan kepala pengajarnya menggambarkan pemuda ini di pengadilan sebagai seorang pelajar teladan. Ia melanjutkan belajar komputer di Forth Valley College di Alloa sebelum mengambil Higher National Diploma selama dua tahun dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi di Glasgow Metropolitan College.
Lingkaran sosialnya kebanyakan adalah anak-anak muda Muslim, dan ia bermain sepakbola dengan sebuah tim lokal yang kebanyakan terdiri atas anak-anak pemilik toko Pakistan-Inggris lainnya di Clackmannanshire.
Ia lulus hanya dengan Higher National Certificate dan bukan sebuah HND di musim panas 2005 dan mendapat pekerjaan di bidang call centre dengan gaji rendah. Ia menjadi pengangguran selama empat bulan sebelum kemudian ditahan.
Mahasiswa di Metropolitan College mengingatnya sering menjelajahi website-website berbahasa Arab yang menggambarkan "pejuang kebebasan". Di antara jam kerjanya di call centre Response Handling Team di Ibrox, Glasgow, ia juga mempelajari website-website di perpustakaan setempat.
Di rumah, ketertarikannya dengan Islam menimbulkan perpecahan dengan orangtuanya, yang cemas akan lamanya waktu yang ia habiskan sendirian di kamarnya. Mereka tidak senang bahwa remaja itu mulai menumbuhkan jenggot. Siddique, sebaliknya, mendebat bahwa orangtuanya tidak boleh menjual alkohol di toko mereka karena itu haram, bertentangan dengan Islam.
Hubungan keluarga itu semakin tegang di tahun 2005, ketika ayah Siddique dengan paksa memotong jenggotnya. Pada usia 19 tahun, ia meninggalkan rumah dan pergi ke Inggris dengan sebuah kelompok agama dari Masjid Pusat Glasgow, di mana diyakini menjadi tempat ia menghabiskan waktu untuk belajar tentang Islam.
Hakim pengadilan banding telah memutuskan bahwa Mohammed Atif Siddique, seorang pemuda yang dipenjara selama delapan tahun setelah dituduh sebagai calon pengebom bunuh diri, adalah korban kesalahan dari hukum.
Salah seorang hakim, Lord Osborne, mengatakan bahwa beberapa pengarahan yang diberikan kepada juri oleh hakim pengadilan, Lord Carloway, ketika menjelaskan pasal-pasal utama dalam Undang-undang Teroris yang dihadapi Siddique telah menyesatkan secara material.
"Menurut opini kami ini adalah sebuah kesalahan hukum," ujar Osborne.
Meskipun keputusan pengadilan berpusat pada kesalahan pengarahan oleh hakim kepada juri, namun tetap disambut gembira oleh keluarga dan kawan-kawan yang selalu bersikukuh bahwa Siddique adalah pemuda baik dan mengesankan yang melampirkan material di sejumlah website namun tidak seharusnya diperlakukan sebagai seorang teroris.
Siddique telah berada di bawah pengawasan ketat agen keamanan selama beberapa bulan ketika ia ditangkap di bandara Glasgow pada bulan April 2006 saat hendak naik pesawat ke Lahore, Pakistan.
Ia didakwa memiliki dan mengoleksi benda-benda seperti CD dan video mengenai penggunaan senjata, taktik gerilya, dan pembuatan bom, serta membuat website dengan link ke publikasi teroris yang menunjukkan bagaimana caranya menggunakan senjata dan membuat bom, mendistribusikan publikasi teroris melalui link sebuah website, dan mengganggu kedamaian di Glasgow Metropolitan College dengan mengancam akan menjadi pengebom bunuh diri.
Siddique adalah orang pertama yang didakwa melakukan serangan terorisme Islam di Skotlandia, namun akhirnya dibebaskan karena Inggris tidak mampu membuktikan tuduhan mereka. (rin/sm/gd) www.suaramedia.com
- Pencetus Larangan Berburqa Di Perancis Masuk Islam?
- Serukan Perang Salib Terhadap Islam, Cara Vatikan Alihkan Skandal Seks
- Perdebatan Pembangunan Menara Masjid Jerman Di Bekas Bioskop
- Surat Kabar Pencetak Kartun Nabi Kecewakan Muslim Norwegia
- Trio Masjid Inggris Dapatkan Penghargaan Dari Kepolisian















