Kamis, 24 Mei 2012

Headlines:

Perdebatan Pembangunan Menara Masjid Jerman Di Bekas Bioskop

E-mail Cetak PDF

BERLIN (Berita SuaraMedia) – Bekas bioskop di seberang pabrik baja di tepi sungai Saar itu berada di tengah kebuntuan atas rencana pembangunan sebuah menara untuk menandai peran barunya sebagai sebuah Masjid. Keributan itu menyoroti kekhawatiran akan penyebaran Islam di Jerman yang secara tradisional konservatif.

Dalam sebuah konfrontasi yang serupa dengan perdebatan di Swiss, yang berujung pada referendum nasional pelarangan menara Masjid, 40.000 penduduk kota Volklingen terpecah atas rencana Masjid Selimiye untuk membangun tiga kubah dan sebuah menara setinggi delapan meter.

Itu akan menjadi menara pertama di Saarland, yang telah mengalami masa-masa sulit sejak kejayaan produksi baja di era 1960an dan 1970an, membuat banyak pendatang asal Turki yang datang untuk bekerja di pabrik itu menjadi pengangguran.

Meskipun Jerman telah memiliki 170 Masjid, dikatakan bahwa 200 lainnya akan segera dibangun, ketegangan pun mulai muncul di dalam komunitas seperti Volklingen, di mana sekitar 5% penduduknya adalah kaum Muslim.

"Diam-diam kami telah diinfiltrasi oleh orang-orang Turki," ujar salah satu penduduk dalam sebuah pertemuan bulan lalu. Sebanyak 250 warga yang hadir diminta untuk mengisi beberapa formulir yang salah satunya menyatakan, "Menara tidak ada hubungannya dengan Jerman."

Dewan menolak proposal pertama untuk menara kembar karena tidak sesuai dengan perkembangan wilayah. Klaus Lorig, sang walikota, bahkan meminta Masjid untuk membatalkan rencana itu. Komite Masjid mengatakan tidak ada landasan hukum bagi pemerintah kota untuk menolak rencana mereka dan memperingatkan akan membawa kasus itu ke pengadilan.

"Saya melihat ada kaitan dengan situasi di Swiss," ujar Lorig, 59, perwakilan dari partai CDU. "Banyak orang yang melihatnya di TV dan bertanya pada saya, Kenapa kita tidak boleh memutuskan untuk kota kita? dan saya berusaha menjelaskan bahwa ini adalah kota untuk semua orang. Namun jika mereka (pihak Masjid) berusaha untuk meraih tujuannya dengan jalur hukum, maka di mata saya itu akan menjadi cara yang salah karena masyarakat sekitar tidak akan menerimanya."

Masjid itu berada di Wehrden, distrik yang merupakan rumah bagi banyak pekerja pabrik ketika pabrik baja itu mempekerjakan 17.000 orang. Keenam tanur di seberang sungai dari Masjid terdiam di tahun 1986, dan kini menjadi situs Warisan Dunia Unesco, dengan sebuah tanda yang berbunyi, "Volklinger Hutte, salah satu tempat palng menyenangkan di dunia. Saat ini setara dengan Piramida Cheops di Mesir, Tembok Besar di China, dan Acropolis di Athena."

Adnan Atakli, ketua asosiasi komunitas Turki di kota itu, mengatakan, "Ini adalah hak demokratis kami, untuk memiliki rumah ibadah seperti halnya sebuah gereja. Gereja memiliki menara. Saya tinggal di sini, kami memiliki sebuah Masjid dan sebuah Masjid harusnya memiliki sebuah menara." Ia mengatakan bahwa menara itu hanya sebagai dekorasi.

Saarbrucker Zeitung, surat kabar setempat, menerbitkan sebuah artikel yang menyerukan agar menara itu tidak dibangun, "Ia menyimbolkan penaklukan kekuasaan yang dilakukan Islam dan tidak lebih dari sebuah provokasi."

Meskipun hanya memiliki dua anggota di dalam dewan, partai NPD yang nasionalis telah meminta diadakan sebuah referendum.

Christoph Gottschalk, pedagang baja berusia 60 tahun, mengatakan, "Jika bangunan mereka tidak melanggar peraturan, maka tidak ada seorang pun yang memiliki hak untuk menghentikan mereka di Jerman. Beberapa orang mengatakan bahwa mereka menentangnya untuk alasan estetika, yang menurut saya adalah argumen yang bodoh karena Volklngen adalah salah satu kota terjelek di seluruh Eropa."

Lorig akan bertemu dengan para pemimpin komunitas Muslim minggu depan. Jika rencana itu tidak dibatalkan maka ia akan mengadakan pemungutan suara di antara 51 anggota dewan pada bulan Maret.

Sekitar tiga juta warga keturunan Turki tinggal di Jerman dari total penduduk 82 juta.

Selama ledakan ekonomi di tahun 1960an dan 1970an, orang-orang Turki dan Kurdi didatangkan untuk menjadi "pekerja tamu". Lebih dari 7.000 orang datang pada tahun 1961.

Jerman memberikan ijin tinggal hingga lima tahun. Pada tahun 1999, anak-anak pendatang itu diijinkan memiliki kewarganegaraan Jerman.

Sebuah laporan di tahun 2009 menemukan bahwa warga keturunan Turki kesulitan berintegrasi dengan masyarakat Jerman. (rin/to) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon