Sejumlah media di Eropa memaparkan adanya kasus-kasus pelecehan seksual yang terjadi di sejumlah lembaga yang berkaitan dengan keagamaan.
Majalah Jerman, Der Spiegel, melaporkan adanya serangan seksual yang cukup dramatis di sekolah-sekolah dan kolese-kolese Yesuit di Jerman. Menurut seorang mantan siswa Aloysius College di kota Bonn, Jerman, yang kini berusia 22 tahun, ia telah diperkosa oleh seorang pendeta ketika sedang menimba ilmu di lembaga tersebut. Dekan Aloysius College, Bapa Theo Schneider, menjadi tertuduh dalam kasus ini. Schneider lantas mengundurkan diri dari jabatannya sehubungan dengan tuduhan yang ditimpakan pada dirinya.
Seorang mantan siswa di Jodsberg menuturkan bahwa ia telah menjadi korban serangan seksual oleh sejumlah pendeta. Menurut mantan siswa di Jodsberg tersebut, teman-temanya juga tak luput dari serangan serupa.
Seorang mantan siswa yang kini berusia 37 tahun menulis buku berjudul "Bob Sakra", berisi pengalaman mantan siswa tersebut sebagai korban serangan seksual oleh para pendeta di sebuah sekolah keagamaan. Sebuah penyelidikan pun dilangsungkan setelah buku tersebut muncul.
Kanal TV Italia, "Ray 24", melaporkan bahwa Vatikan sedang menghadapi sebuah krisis internal terkait dengan adanya pelecehan seksual yang dilakukan para petinggi mereka terhadap lusinan anak-anak. Serangkaian penyelidikan telah dilaksanakan selama dua tahun terakhir guna mengungkap pelaku kejahatan tersebut. Tokoh yang menjadi sorotan utama dalam kasus tersebut adalah Pendeta Jamili, seorang pendeta yang dekat dengan Vatikan dan Paus serta aktif dalam aktivitas misionaris. Ia mengawasi sekitar 267 masyarakat misioner di seluruh dunia.
Harian Italia, Arribiblaka, melaporkan adanya pelecehan seksual terhadap para biarawati yang melibatkan sejumlah pendeta dan uskup gereja Katolik. Biarawati yang mengandung akibat tindak kejahatan tersebut lantas dipaksa menggugurkan kandungan demi mencegah timbulnya skandal.
Menurut Arribiblaka, Paus Benedict XVI berusaha menutupi perihal pelecehan seksual yang telah terjadi. Namun, media massa telah mengendus skandal tersebut. Maka, guna mengalihkan perhatian para pengunjung gereja dari skandal tersebut, Paus menyerukan peringatan terhadap bahaya Islam. Seruan untuk melakukan perang suci terhadap Islam juga ditujukan untuk mengurangi jumlah orang yang beralih ke agama Islam.
Dalam wawancara dengan Arribiblaka, Kepala Venesia, Kardinal Angelo Scola. Scola memberikan keterangannya tentang perang suci yang dikumandangkan oleh Paus.
Pada tanggal 12 September 2006, Paus memberikan ceramah di Universitas Regensburg, Jerman. Dalam kesempatan tersebut, Paus menyatakan bahwa "Kekerasan dan advokasi pedang terletak pada struktur dan landasan agama Islam." Pada saat itu, ucapan Paus tersebut diangap sebagai restu bagi kelompok neo-konservatif di Amerika Serikat untuk mengadakan perlawanan terhadap Islam.
Pada tanggal 17 Mei 2008, Paus menyeru masyarakat Kristen, menyatakan bahwa mereka memiliki sebuah "tugas" dan "hak yang tak dapat dipisahkan" untuk melawan muslim
Charles Krauthammer dari majalah Time menuturkan adanya doktrin neo-konservatif yang tidak jauh berbeda dengan doktrin Paus. Namun, menurut Krauthammer, Paus percaya bahwa doktrin neo-konservatisme tak sekedar merupakan gaung dari trend dan ide Gereja. Paus percaya bahwa masyarakat Eropa semestinya menjalankan pendekatan tersebut. Masyarakat Eropa semestinya tidak lagi menggunakan pendekatan sekuler dalam mebuat keputusan politik.
"Saya memiliki Roy dalam kepausan sejak datangnya latar-belakang neo-konservatisme, Zionisme Kristen, atau yang disebut sebagai Kristianitas injili untuk berkuasa di Amerika Serikat. Ia melihatnya sebagai sebuah model yang valid bagi Eropa, yang ditilik gereja sebagai jantung pembuatan keputusan politik, dan disini dapat berkonstribusi untuk menghina Islam dan muslim dalam perasaan kanonis sehubungan dengan kampanye yang berlangsung untuk menguatkan dominasi Amerika di kawasan Arab dan Islam."
Karen Armstrong, pengarang "Sejarah Islam", dalam artikel yang dimuat oleh harian Inggris, Daily Telegraph, menyatakan bahwa terdapat banyak alasan yang membuat Paus menyerukan perang melawan Islam. Ketika Paus melangkah menuju kursi kepemimpinan pada tahun 2005, sudah banyak tugas yang menunggunya. Terdapat banyak nilai pembaruan. Gereja berhadapan dengan dampak yang timbul dari kampanye hegemoni AS dan militerisasi global – semuanya berasosiasi dengan persepsi Zionisme Kristen dan Islam. (es/im/yh) www.suaramedia.com
- Terapkan Islam, Kerajaan Saudi Gelar Razia Hari Valentina
- Tampilkan Kartun Nabi, Website Norwegia Dibobol Hacker Turki
- Laporan Media Lokal Picu Vandalisme Masjid Nashville
- Muslim Prancis Ragukan Rencana Mega-Masjid Pemerintah
- Pencetus Larangan Berburqa Di Perancis Masuk Islam?














