"Hasil pemilu sudah diketahui lebih dulu – kemenangan bagi partai presiden," kata salim (58 tahun) kepada Agence France-Presse (AFP).
"Artinya, akan ada lebih banyak kursi di parlemen bagi partainya, yang melakukan lobi demi kepentingan penguasa."
Terdapat tujuh partai yang berpartisipasi dalam pemungutan suara di Tajkistan. Termasuk d antaranya adalah Partai Kebangkitan Islam (IRR), satu-satunya partai yang terdaftar secara resmi di negara tersebut.
Sejauh ini, partai yang berkuasa di Tajikistan adalah Partai Rakyat Demokratis, partai presiden yang menguasai 57 dari 63 kursi yang tersedia di parlemen.
"Ini adalah acara politik yang penting bagi Tajikistan guna mendorong kehidupan ekonomi dan sosial," kata Rakhmon. Dalam kesempatan tersebut, Rakhmon didampingi oleh putranya yang berusia 23 tahun. Putra Rakhmon juga turut serta dalam merebut kursi di dewan kota Dushanbe – dapat dibilang, inilah langkah pertama dalam rencana suksesi dinasti Rakhmon.
"Semakin transparan dan demokratis pemilu ini, semakin tinggi kredibilitas Tajikistan nanti di panggung dunia."
Saat ini, negara-negara Barat sedang dilanda kekhawatiran bahwa instabilitas Tajikistan dapat melemahkan upaya mereka di Afghanistan. Secara geografis, Tajikistan dan Afghanistan memang bertetangga.
Negara-negara Barat mengandalkan Tajikistan sebagai lokasi transit bagi pasukan NATO. Para pengungsi dari Afghanistan pun menggunakan negara tersebut sebagai lokasi transit.
Banyak rakyat Tajikistan merasa pesimis terhadap pemilu di negeri mereka sendiri. Di mata pengamat asing, pemilu di Tajikistan tak pernah berlangsung secara jujur dan adil.
"Tak ada harapan," kata Alisher Sodiyev (62 tahun) kepada Reuters. Warga Dushanbe tersebut baru saja memasukkan kartu suaranya.
"Mereka tak akan mengijinkan partai yang Saya pilih untuk masuk ke dalam parlemen."
Di bawah pemerintahan Rakhmon, Tajikistan terperosok ke dalam krisis ekonomi dan kemiskinan. Rakyat Tajikstan menjadi semakin frustasi.
Demi memperoleh nafkah, seperuh rakyat Tajikistan terpaksa pergi ke luar negeri. Sebagian besar dari mereka memilih pergi ke Rusia.
Para pengamat telah mencatat sejumlah ketidaklaziman dalam pemilu.
"Campur tangan dalam proses pemilu oleh anggota komisi pemilu sangatlah tinggi, seperti campur tangan orang-orang dalam pakaian sipil, meskipun tidak jelas siapakah orang-orang itu," kata pemimpin IRP, Mukhiddin Kabiri, kepada AFP.
Menurut Kabiri, para pendukungnya telah mencatat sejumlah "ketidaklaziman" selama pemungutan suara.
"Hal itu meliputi pemberian suara ganda, suara untuk anggota keluarga dan gangguan yang ditujukan oleh para petugas pemilu kepada para pengamat kami ketika sedang melaksanakan tugas."
Para pengamat Barat juga menyatakan adanya ketidaklaziman dalam pemilu di kampung halaman Rakhmom, Dangara.
"Kandidat tampil di muka umum dalam pemilu hanya sekedar untuk mendapatkan bahwa dirinya telah dipilih," kata seorang pengamat. Ia menyaksikan ketidaklaziman lain, misalnya pemberian suara ganda dan pembuatan kartu suara ganda.
Tajikistan adalah satu dari lima negara bekas pecahan Uni Sovyet. Negara tersebut meraih kemerdekaanya pada tahun 1991. Tajikistan memilk populasi sebesar 7,2 juta jiwa, 90 persen di antaranya adalah Muslim.
Perjalanan rakyat Tajikistan dalam meraih kesejahteraan pasca kemerdekaan tidak selalu mulus. Pada tahun 1992-1997, Tajikistan terjebak dalam perang saudara. Setelah perang tersebut berakhir, rakyat Tajikistan menikmati stabilitas politik. Ditambah dengan bantuan luar negeri, rakyat Tajikistan pun menikmati pertumbuhan ekonomi. Dalam periode itulah, Presiden Emomalii Rahkmon mendapatkan kekuasaan – ia menduduki kursi kepresidenan pada tahun 1994.
Namun, Tajikistan tak luput dari masalah. Selama terjadinya perang saudara, terjadi pembersihan etnis. Setelah perang saudara tersebut berakhir, Tajikistan pun melaksanakan pemilu, tepatnya pada tahun 1999. Pemilu tersebut berlangsung dengan damai. Namun, pihak oposisi menganggap pemilu tersebut tidak jujur. Pada tahun 2008, Tajikistan mengalami musim dingin yang terburuk dalam sejarah negara tersebut. Akibat musim dingin tersebut, Tajkistan mengalami kerugian finansial sebesar $850 juta. (es/iol/wp) www.suaramedia.com














