Wanita itu bernama Dekha Ibrahim Abdi (46 tahun), ibu empat orang anak yang juga merupakan seorang veteran aktivis hak asasi dan penggiat perdamaian komunitas. Abdi berasal dari daerah marjinal Muslim di barat laut Kenya, sebuah daerah yang tercabik-cabik oleh konflik antar klan.
Abdi baru saja mendapatkan penghargaan perdamaian Hessen 2009 di Jerman – penghargaan yang ia peroleh berkat aspirasinya dalam menangani perang dan konflik.
"Saya rasa ini cukup mengejutkan, saya mendapat pengakuan dari dunia sebagai seorang pribadi, dan di atas segalanya, sebagai seorang wanta Muslim yang mengkontribusikan perdamaian guna membangun perdamaian di masa modern," kata Abdi kepada IslamOnline.net.
"Tak mudah untuk bepergian guna memberikan ceramah tentang perdamaian di propinsi kami, namun dalam masa tersebut kami berusaha bangkit mengatasi semua hambatan dalam mewujudkan pikiran yang waras."
Selain menerima piala penghargaan, Abdi juga menerima uang sebesar 25.000 euro. Penghargaan yang diterima Abdi merupakan salah satu penghargaan perdamaian yang paling prestisius bagi tokoh-tokoh pendorong stabilitas di dunia.
"Saya percaya bahwa upaya saya mendapat pengakuan karena saya merupakan pencipta perdamaian Muslim."
Selama bertahun-tahun, Abdi telah bereran sebagai pelayan masyarakat di daerah yang banyak dihuni oleh komunitas pastoral Somalia. Ia membahas isu tentang banyak hal. Namun, menciptakan perdamaian adalah prioritas utamanya.
Abdi mulai melangkah untuk menciptakan perdamaian pada dua dekade lalu. Saat itu, daerah tempat tinggalnya diwarnai oleh konflik yang dipicu oleh kurangnya sumber daya alam, termasuk air. Ia memulai langkahnya dengan melempar pesan "perang bukan jalan keluarnya, melainkan perdamaian."
"Pada saat itu, para wanita, orang lanjut usa, dan anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan di dalam konflik kesukuan. Dan dengan demikian, kam percaya bahwa kami mesti membuat suara kami terdengar agar dapat mengakhiri destruksi yang tampak tidak berujung."
Abdi tak pernah tahu berapa lama waktu yang diperlukan untuk menyembuhkan luka. Namun, ia merawat sebuah harapan – harapan bahwa kimunitas Somalianya akan merengkuh perdamaian.
"Jadi, itu adalah suatu hal yang hebat bagi wanita, untuk mengambil inisiatif yang sulit dalam memberi ceramah tentang perdamaian, dan yang lebih komprehensif, kami mencari kesempatan untuk mewujudkan mimpi kami."
Pada musm panas tahun 1993, berlangsung konflik antara dua klan di kota Wajir, Kenya. Anarki, ketakutan, dan api menjalar di mana-mana.
Abdi dan sekelompok wanita lantas melakukan kampanye di sebuah aula resepsi di kampung.
"Ini adalah titik balik dan pada saat itulah kami membentuk Wajir Peace Group," kenang Abdi.
"Pernikahan itu kemudan menjadi sebuah kesempatan bagi kami untuk bersatu dan memsahkan konflikdari tatanan sosial masyarakat kami."
Sejak hari itu, para wanita Wajir tak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk berdiri bersama kelompok mereka, keluarga dan teman, sekedar untuk memberi ceramah tentang perdamaian.
Mereka memadukan berbagai pandangan, baik pandangan kelompok pecinta damai maupun pandangan pihak-pihak di luar kelompok tersebut. Ini semua karena mereka begitu mendambakan perdamaian.
"Kami menolak menjadi korban konflik. Kami membangun solusi dari rumah kami sendiri, dan kami mulai mendatangi rumah-rumah untuk bicara tentang konflk dan pengaruhnya," kata Abdi.
Menurut Abdi, melalui perdamaian, ia dapat belajar secara holistik. Dan, ia memahami perdamaian dari berbagai perspektif.
Selama beberapa tahun terakhir, Kenya barat laut telah beralih dari daerah konflik menjadi salah satu daerah paling aman di Kenya. Kenya sendiri memiliki reputasi sebagai negara di Afrika Ti mur yang secara politis terjebak ke dalam polarisasi.
"Kami sangat gembira dengan peran wanita yang dijalankan para wanita di daerah kami. Kami gembira bahwa kini kami menikmati perdamaian, dan tanpa mereka hal itu akan sulit dicapai," kata Musa Abdi, sesepuh Wajir.
"Saya rasa, kaum wanita perlu bergabung bersama kaum pria dalam pembangunan," lanjut sang sesepuh.
Kini, Abdi mulai merengkuh dunia luar untuk bicara tentang Islam dan perdamaian.
"Banyak orang Barat memiliki pandangan yang salah, Islam dianggap keras, dan mereka tak dapat membayangkan bahwa seorang Muslim dapat mendorong terciptanya perdamaian."
"Selama bertahun-tahun, Saya senang dapat bekerja bersama para pemimpin keagamaan Islam. Mereka selalu mengijinkan saya untuk bekerja sejalan dengan nilai agama saya, " papar Abdi.
"Sekarang adalah kesempatan saya untuk berceramah kepada Barat bahwa Islam itu damai dan dapat menjadi pencipta perdamaian." (es/iol) www.suaramedia.com
- Situs Ulama Penentang Sekolah Campuran Akhirnya Ditutup
- Menteri Inggris: Kelompok Muslim Rahasia Susupi Partai Buruh
- Organisasi Islam Dunia Kutuk Tindakan Israel Di Masjid Al-Aqsa
- Amina Wadud : Antara Pahlawan Wanita Dan Muslim Sesat
- Organisasi Muslim Gelar Kompetisi Menara Masjid Eropa














