Kamis, 24 Mei 2012

Headlines:

AS Bergerak Halangi Penghancuran Makam Sahabat Rasulullah

E-mail Cetak PDF

WASHINGTON (Berita SuaraMedia) – Sebuah kampanye untuk menentang rencana pembangunan sebuah museum telah berlangsung di AS. Museum tersebut sedianya akan dibangun oleh Israel di atas lahan yang merupakan pekuburan Muslim kuno.

"Saya merasa bahwa ini tugas saya untuk melakukan sesuatu terhadap pencemaran situs peninggalan ini, "kata  Dr. Rashid Khalidi, professor studi Arab di Columbia University kepada  IslamOnline.net.

Makam Islam kuno yang menjadi obyek permasalahan di sini adalah makam Mamilla yang berada di Al-Quds. Sebuah organisasi Yahudi yang berbasis di Los Angeles, Simon Wiesenthal Center, mensponsori pembangunan sebuah museum bernama Israeli Museum of Tolerance. Demi pembangunan museum tersebut, makam Mamilla akan dihancurkan.

Isreal telah mulai menggarap lahan pemakaman tersebut selama beberapa tahun. Israel menyebut apa yang dilakukannya sebagai "Proyek pembangunan." Proyek pembanguan tersebut meliputi pembuatan sebuah  tempat parkir pada 1960-an, sebuah sekolah, sebuah jalan raya, dan sebuah taman raya.

Makam Mamilla telah berusia ratusan tahun. Di lahan pemakaman tersebut, bersemayam sejumlah sahabat Nabi Muhamad.

Salah seorang tokoh yang disemayamkan di makam Mamilla adalah penasehat sekaligus letnan terkemuka, Salah al-Din yang hidup pada abad ke-12. Terdapat pula jenazah para orang suci dan ilmuwan di lahan pemakaman terebut.

"Saya memiliki sejumlah leluhur yang dimakamkan di Makam Mamilla. Beberapa diantaranya berasal dari abad ke-15," kata Khalidi.

Kampanye untuk menentang rencana pembangunan museum di atas makam bersejarah tersebut dilancarkan oleh Pusat untuk Hak Konstitusional (Center for Constitutional Rights – CCR) yang berbasis di New York. CCR adlah sebuah badan yang membela hak-hak yang berada  di bawah perlindungan konstitusi AS.

CCR telah membuat petisi dan mengajukan petisi itu kepada PBB. Petisi tersebut melibatkan 60 orang dari sejumlah keluara Palestina terkemuka di Al-Quds dan di AS.

"Setelah upaya dari pengadilan Israel gagal, beberapa, orang dari kami menghubungi  Pusat untuk Hak Konstitusional, yang kemudian setuju unutk membantu kami, dan hasilnya adalah petisi yang kami kirim ke beberapa badan PBB," terang Khalidi.

Petisi tersebut berisi permintaan kepada PBB untuk menghentikan upaya Israel dan Simon Wiesenthal Center menghancurkan lahan pemakaman Islam kuno tersebut.

"Para petisioner juga ingin mengetahui di mana letak jenazah leluhur mereka sekarang, dan ingin memakamkam kembali di tempat yang semestinya, sambil berkoordinasi dengan otoritas Muslim yang berwenang," kata  Maria Lahood, Senior Staff Attorney dari  CCR.

Kampanye yang dilancarkan CCR membuahkan dukungan bagi kaum Muslim. Banyak warga AS yang menunjukan perhatian. Mereka pun akhirnya mengetahui perihal makam Mamilla.

"Kami senang petisi tersebut menarik perhatian di Amerika Serikat," kata Lahood.

"Siapa pun yang Saya ketahui telah mendengar rencana  Simon Wiesenthal Center untuk membangun Museum of Tolerance di atas makam Muslim bersejarah akhirnya merasakan sakit hati dan tak suka."

Khalidi menyetujuinya. Ia mengatakan bahwa kampanye yang telah dilancarkan sejauh ini mampu membuahkan respon positif dari warga AS.

"Bagaimanapun juga, perlu lebih banyak hal. Perlu orang-orang, baik dari kalangan Muslim maupun non-Muslim untuk menginformasi diri mereka sendiri tentang fakta dan aksi melalui Masjid, gereja, dan sinagog lokal guna mencegah pencemaran ini."

Kampanye untuk membela Makam Mamilla ternyata juga melibatkan kelompok non-Muslim. Termasuk di antaranya adalah Pendeta. Dr. George Regas dari  All Saints Church di  Pasadena, California; Rabbi Leonard Beerman,  rabbi pelopor dari  Leo Baeck Temple di Los Angeles; dan Rabbi Steven Jacobs dari  Kol Tikvah Temple di  California.

"Banyak orang Yahudi dan komunitas antar-agama merasakan keprihatinan," kata Rabbi Jacobs kepada  IOL.

"Kami sangat peduli. Orang-orang Palestina harus tahu bahwa mereka memiliki rekan di sini, di AS."

Rabbi Jacobs membenarkan bahwa penggusuran makam Muslim merupakan hal yang sangat menyinggung bukan hanya bagi kaum Muslim, namun juga bagi kaum Yahudi dan Kristen yang religius.

"Ini seperti ketika beberapa tahun lalu Israel melakukan pembangunan di atas pemakaman Yahudi.

"Hal yang semestinya menjadi museum toleransi malah berubah menjadi simbol intoleransi." (es/iol) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon