Deklarasi bersejarah yang ditandatangani oleh ketua Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama dan seorang pemimpin dari Universitas Al Azhar menandai konklusi dari pertemuan tahunan yang digelar minggu lalu di Kairo. Pertemuan itu mengumpulkan para anggota dewan kepausan dan komite permanen dialog antar agama monoteistik Al Azhar.
Sheikh Muhammad Abd Al Aziz Wasil dan Kardinal Jean-Louis Tauran adalah penandatangan deklarasi tersebut.
Deklarasi final itu menjelaskan bahwa para peserta diterima oleh imam besar Al Azhar, profesor dan sheikh Muhammad Sayyed Tantawi. Kardinal Tauran berterima kasih padanya karena mengecam aksi kekerasan di mana enam warga Kristen dan seorang polisi Muslim tewas di Hamadi, Mesir, pada hari raya Natal Kristen Ortodoks, dan karena mengekspresikan solidaritas kepada keluarga korban dan menegaskan kesetaraan hak dan kewajiban dari semua warga negara, terlepas dari agama yang dipeluknya.
Sheikh Tantawi mengatakan ia hanya melakukan apa yang menurutnya sudah menjadi tugasnya dalam menghadapi peristiwa tragis tersebut.
Dengan bantuan dari dokumen yang dipresentasikan oleh Monsignor Bernard Munono Muyembe dan profesor Abdallah Mabrouk al-Naggar, komite menganalisa topik "Fenomena Kekerasan Agama: Memahami Fenomena Tersebut dan Penyebabnya dan Menawarkan Solusi, Membuat Referensi Khusus Pada Peran Agama dalam Kaitan Ini."
Di akhir pertemuan, para peserta sepakat untuk membuat sejumlah rekomendasi yang dibutuhkan untuk hidup berdampingan dengam damai dan bermanfaat, antara lain: memberikan perhatian yang lebih besar terhadap manipulasi agama dengan tujuan politik atau terhadap karakter lain yang dapat menjadi sumber kekerasan; menghindari diskriminasi berdasarkan identitas relijius; membuka hati untuk saling memaafkan dan rekonsiliasi.
Kaum Muslim dan Katolik mendesak masyarakat untuk mengakui kesamaan dan menghormati perbedaan sebagai prasyarat sebuah budaya dialog yang berdasarkan nilai-nilai bersama; menegaskan kedua pihak untuk kembali berkomitmen kepada diri mereka sendiri dalam mengakui dan menghormati martabat setiap manusia, tanpa membeda-bedakan etnis atau agama; menentang diskriminasi agama dalam semua bidang; mempromosikan ide-ide keadilan, solidaritas dan kerjasama untuk menjamin kehidupan yang damai dan sejahtera bagi semua."
Pertemuan bilateral itu berakhir dengan komitmen untuk menentang aksi apa pun yang cenderung menciptakan ketegangan, perpecahan, dan konflik di dalam masyarakat; mempromosikan sebuah budaya saling menghormati dan dialog melalui pendidikan di dalam keluarga, sekolah, gereja, dan Masjid, menyebarkan semangat persaudaraan antar semua orang dan komunitas; menentang serangan terhadap agama dengan sarana komunikasi sosial.
Terakhir, kaum Muslim dan Katolik menyerukan untuk memastikan bahwa ceramah dari para tokoh agama, juga ajaran dan buku-buku pelajaran di sekolah, tidak mengandung pernyataan atau merujuk pada peristiwa bersejarah yang, secara langsung maupun tak langsung, dapat menimbulkan sikap agresif dari pengikut berbagai agama.
Uskup Michael Fitzgerald, duta paus di Mesir dan perwakilan Holy See untuk Liga Arab di Kairo, berbicara dengan Radio Vatikan minggu lalu tentang poin akhir itu.
Ia mengatakan bahwa buku-buku pelajaran memiliki ketidakakuratan dan hal-hal yang tidak membantu untuk menghargai agama atau orang lain. Masalah ini tidak hanya terletak pada sejarah agama itu tapi juga pada cara pengajaran sejarahnya.
Komite ini menjadwalkan pertemuan berikutnya di Roma pada tangga; 23-24 Februari 2011. (rin/zt) www.suaramedia.com
- Stigma Terhadap Muslim Akibat Meningkatnya Rasisme Inggris
- Gilani: Tak Ada Ruang Untuk Terorisme Dalam Islam
- Artikel Kontroversial Penulis Bangladesh Penyebab Kematian Muslim India
- Marry Me Muslim Tawarkan Cara Mudah Mencari Pasangan
- Kremlin Dukung Penuh Pembentukan Dewan Koordinasi Muslim














