Minggu ini, kelompok Churches Together mengatakan bahwa mereka merasa Masjid berkubah, yang akan memiliki menara setinggi 100 kaki itu, akan membuat pernyataan politik dan budaya yang kuat.
Kelompok yang mewakili 11 gereja tersebut juga mengatakan bahwa jika rencana untuk Masjid itu disetujui dapat menjadi sumber antagonisme serius antara kaum Muslim dan masyarakat luas.
Pendeta Mark Chester, ketua Churches Together dan pendeta gereja St. Paul, mengatakan bahwa kelompok itu mendukung upaya komunitas Muslim untuk memiliki fasilitas yang lebih baik.
"Terdapat banyak anggota Muslim dari komunitas kami di sini yang telah memiliki tempat pertemuan selama beberapa tahun."
"Gereja-gereja setempat telah memiliki hubungan yang baik dengan tetangga Muslim kami, dan sependapat bahwa mereka harus memiliki fasilitas yang lebih baik."
"Namun, saya rasa ada masalah yang serius jika membangun sebuah tempat ibadah baru menjadi isu yang begitu diperdebatkan bagi komunitas."
"Sangat penting bahwa sebuah Masjid baru, atau tempat ibadah baru bagi agama apa pun, disesuaikan dengan pengaturan yang ada, bukan sesuatu yang jelas-jelas diimpor dari kebudayaan yang berbeda."
"Saya rasa cukup adil untuk mengatakan bahwa sebuah Masjid dengan dua menara setinggi 100 kaki dan kubah yang besar tidak membuat pernyataan spiritual sekuat pernyataan budaya dan bahkan politik yang dibuatnya."
Ia menambahkan bahwa jika Masjid itu diijinkan pembangunannya, maka akan merusak hubungan antara kaum Muslim dan masyarakat luas selama bertahun-tahun yang akan datang.
Pendeta Chester mengatakan, "Rencana untuk Masjid itu saat ini membuatnya menjadi kemungkinan yang nyata dan mengganggu."
"Churches Together di Camberley berkomitmen untuk membangun hubungan yang lebih baik antara dan antar komunitas."
"Jika rencana pembangunan Masjid baru ini dilanjutkan saya hanya dapat memprediksikan perpecahan dan perselisihan yang akan merusak komunitas kita yang harmonis."
Organisasi di belakang Masjid ini, Bengali Welfare Association, mengatakan tidak sependapat dengan komentar gereja.
Manajer proyek, Abdul Wasay Chowdury, mengatakan, "Niat kami adalah untuk membangun sebuah Islamic Centre yang melayani komunitas setempat. Kami tidak tertarik untuk membuat pernyataan politik."
Chowdury mengatakan asosiasinya telah mengalami banyak kesulitan berkonsultasi dengan organisasi-organisasi sekitar dan telah berusaha mendesain Masjid agar dapat diterima oleh dewan dan komunitas. Hasilnya, mereka akan meletakkan menara di bagian belakang dan setuju untuk menggunakan material bangunan yang sesuai dengan area tersebut.
Chowdury menambahkan, "Kami senang Pendeta Mark Chester menghargai hubungan baik antara Kristen dan Muslim. Namun, kami tidak dapat memahami mengapa pembangunan Masjid ini harus berakibat hilangnya hubungan baik dengan komunitas kami hari ini dan di masa mendatang?"
"Anak-anak kami perlu menemukan bahwa Islam adalah pengaruh yang positif dalam masyarakat yang multibudaya dan multiagama ini, dan bimbingan agama memberikan petunjuk untuk memelihara masyarakat yang harmonis."
Chowdury juga mengatakan bahwa meskipun rencana itu termasuk penghancuran gedung utama sekolah di lokasi saat ini, sekolah balita yang telah lama ada akan dipertahankan. (rin/ie/gs) www.suaramedia.com
- Dewan Muslim Gandeng Parlemen Inggris Bahas Islamophobia
- "Kartun Berdarah" Nabi Muhammad Jadi Bahan Diskusi Kanada
- Sholat Di Tempat Parkir, Tujuh Muslim Diringkus Polisi AS
- Kursus Mualaf Pertama Dibuka Di Norwegia
- Penyelidikan Pemurtadan Ilegal Picu Kemarahan Katolik Malaysia














