Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) pada hari Jumat mengatakan telah memasukkan keluhannya minggu ini terhadap Departemen Kepolisian Henderson karena tidak memahami apa yang mencurigakan dari ketujuh pria itu.
"Pemikiran utama kami adalah departemen polisi melihat sholat yang pria-pria itu lakukan dan bagaimana mereka terlihat sebagai kemungkinan penyebab polisi menginvestigasi mereka," ujar juru bicara CAIR, Munira Syeda. "Mereka tidak melakukan sesuatu yang ilegal."
Juru bicara kepolisian Henderson, Todd Rasmussen, mengatakan bahwa keluhan itu telah diterima dan bagian urusan internal akan menyelidikinya, namun ia menolak untuk berkomentar atas insiden tersebut.
CAIR mengatakan bahwa ketujuh pria yang berasal dari California selatan itu, yang diidentifikasi memiliki berbagai latar belakang etnis yang berbeda termasuk Timur Tengah dan Asia selatan, sedang melakukan sholat di lahan parkir saat berhenti untuk membeli bensin dan makanan pada tanggal 20 Desember ketika sedang dalam perjalanan.
Dua mobil polisi datang saat ketujuh pria itu hendak kembali ke mobil dan mereka ditahan selama 40 menit saat tiga petugas polisi menanyai mereka, memeriksa latar belakang mereka, dan menggeledah mereka, ujar Syeda.
Syeda mengatakan bahwa ketujuh pria itu tidak menghambat lalu lintas atau menghalangi mobil lain yang akan parkir. Setelah itu polisi melepaskan mereka.
Pengacara CAIR, Ameena Qazi, mengatakan dalam sebuah surat ke kepolisian Henderson bahwa dalam insiden itu, salah satu petugas berkomentar bahwa ketujuh pria itu secara hipotesis mungkin telah mengatakan "Saya berharap akan membunuh seorang petugas polisi hari ini" dalam doa mereka.
Qazi mengatakan bahwa petugas juga memberitahu pria-pria itu bahwa mereka tidak cukup dilatih untuk mengetahui bagaimana merespon dengan baik suatu perilaku relijius Muslim, dan menanyakan kepada mereka bagaimana seharusnya menangani situasi serupa di masa mendatang.
Surat itu juga menyebutkan bahwa polisi mengindikasikan mereka mungkin telah mendapatkan target mereka dengan Pusat Pemindaian Teroris selama investigasi mereka dengan ketujuh pria itu. Rasmussen mengatakan tidak dapat menegaskan kemungkinan kecocokan yang ada.
Dalam sebuah wawancara dengan Associated Press, Qazi mengatakan bahwa tingkat kemungkinan kecocokan tidak jelas dan bisa saja hanya pada nama. Ia mengatakan bahwa penelitian telah menunjukkan beberapa ketidakkonsistenan dengan basis data dan penggunaannya.
"Saya yakin ada orang-orang yang berada di dalam daftar itu dan tidak seharusnya berada di sana, dan saya yakin bahwa ada orang-orang yang memiliki kesamaan nama dengan yang berada di dalam daftar," ujar Qazi.
Pusat Pemindaian Teroris FBI menyimpan daftar teroris pemerintah AS, sebuah basis data informasi mengenai teroris dan tersangka teroris.
Pengacara CAIR mengatakan bahwa kelompok itu menginginkan tindakan disiplin terhadap para petugas yang terlibat, mengubah pelatihan petugas dan kompensasi untuk tekanan emosional yang dialami pria-pria itu. (rin/nbc) www.suaramedia.com
- Peringati Hari Wanita, Perancis Gelar Pawai Anti-Burqa
- Sabun Halal Ciptaan Pejuang Filipina Satukan Wanita Muslim
- Burqa, Apakah Makna Sebenarnya Bagi Barat?
- Dewan Muslim Gandeng Parlemen Inggris Bahas Islamophobia
- "Kartun Berdarah" Nabi Muhammad Jadi Bahan Diskusi Kanada














