Acara yang berjudul "Mengatasi Islamofobia: Mengurangi Kekerasan Jalanan Terhadap Muslim Inggris" itu menyatukan para anggota dewan, akademisi, jurnalis, polisi, pelayan publik, dan perwakilan komunitas yang semuanya mendukung seruan untuk membentuk sebuah Komite Parlemen Semua Pihak tentang Islamofobia dengan sebuah sudut pandang untuk melakukan penyelidikan parlemen atas Islamofobia di Inggris. Pertemuan itu menerima kontribusi dari sejumlah pakar dan respon dari anggota dewan dan diakhiri dengan sesi tanya jawab bersama hadirin yang terdiri atas individu dari 80 organisasi.
Pendukung utama pertemuan ini adalah anggota parlemen Muslim pertama di Inggris, Mohammed Sarwar. Ia memperingatkan bahwa meningkatnya serangan Islamofobia merupakan tantangan besar dalam pertemuan tersebut.
Ketua Komite Terpilih Pemerintah Lokal dan Komunitas, Phyllis Starkey, juga sepenuhnya mendukung inisiatif tersebut dan menekankan pentingnya fokus pada "rasa hormat" dan bukan "toleransi".
Menteri Kehakiman bayangan dari Partai Konservatif, David Burrows, mendesak orang-orang untuk menghubungi anggota parlemen setempat untuk memotivasi mereka menjadi lebih terlibat. "Komunitas harus menunjukkan besaran masalah ini dan membuat para politisi bertindak."
Inisiatif itu datang setelah Dewan Muslim Inggris menulis ke Menteri Dalam Negeri Alan Johnson di bulan Januari, mengekspresikan kekhawatirannya atas peningkatan kekerasan anti-Muslim.
"Di antara Muslim Inggris, ada kekecewaan yang berkembang terhadap kurangnya respon dari para pemimpin politik kita untuk berbicara menentang kebencian anti-Muslim," ujar sekretaris jenderal Dewan Muslim Inggris, Abdul Bari, memperingatkan Johnson.
Toleransi Inggris terhadap Islamofobia telah mendorong kelompok-kelompok sayap kanan seperti Liga Pertahanan Inggris untuk menggelar unjuk rasa provokatif melawan pembangunan Masjid-masjid.
Ini sebagai tambahan terhadap pelecehan verbal dan fisik yang sehari-hari dialami oleh komunitas Muslim Inggris dan dilaporkan di halaman-halaman Muslim News.
Mereka yang hadir dalam pertemuan parlemen tanggal 3 Maret termasuk Robin Richardson, mantan direktur Runnymede Trust yang pernah menjadi editor dari laporan terobosan "Islamofobia: Sebuah Tantangan untuk Kita Semua" pada tahun 1997.
Dukungan terhadap penyelidikan parlemen juga diekspresikan oleh menteri komunitas bayangan dari Partai Demokrat Liberal, Dan Rogerson, yang mengatakan bahwa itu akan menjadi alat untuk mempertahankan nilai-nilai toleransi dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Yang lainnya termasuk Lord Ahmed, yang memperingatkan bahwa demonisasi kaum Muslim dan Islam telah menjadi hal yang biasa, dan Baron Sheikh, yang menyerukan kepada media dan politisi untuk menahan diri dari laporan-laporan yang menghasut.
Di antara akademisi yang ikut memberikan suara mereka adalah Jonathan Githens-Mazer dari Pusat Penelitian Muslim Eropa (EMRC), yang pada bulan Januari mempublikasikan laporan berjudul "Islamofobia dan Kejahatan Kebencian Anti-Muslim: sebuah studi kasus London."
Direktur EMRC, Dr. Robert Lambert, memperingatkan bahwa posisi kelompok kanan dalam menjadikan Muslim sebagai musuh dirasionalisasi oleh apa yang digambarkan media.
Dalam pidatonya, skretaris jenderal Dewan Muslim Inggris, Abdul Bari, mengatakan bahwa kebutuhan untuk perlakuan yang adil dan setara bagi Muslim Inggris lebih menekan lagi karena banyak dari mereka yang tidak memiliki cukup rasa percaya diri untuk melaporkan serangan terhadap mereka kepada polisi.
"Saatnya telah tiba bagi para politisi untuk akhirnya menanggapi persoalan ini seserius rasisme, anti-Semitisme, dan homofobia," ujar Bari. (rin/tc/iw) www.suaramedia.com














