Bainon Karon, seorang mantan pejuang Front Pembebasan Nasional Moro, sedang memasarkan produk perawatan kulit "Palamanis" yang dibolehkan menurut hukum Islam. Sabun itu tidak mengandung lemak babi yang dianggap haram oleh Islam.
"Kebanyakan sabun mengandung minyak babi, tidak boleh bagi kami kaum Muslim, karena itu saya berusaha keras mencari sabun yang halal," ujar Karon.
Potensi pasar untuk sabun halal di negara itu sangat besar, menurut Karon. Diperkirakan sekitar satu juta Muslim tinggal di Filipian dan tujuan dari Palamanis adalah menjangkau mereka.
Di kota Cotabato dan di seluruh kawasan, produk sabun pemutih Palamanis Papaya diterima baik oleh para wanita dan anak-anak.
"Kebanyakan klien kami adalah kaum wanita yang sadar bahwa tidak semua sabun ramah Muslim," ujar Karon.
Hari ini, semakin banyak kaum Muslim yang membeli sabun Karon, yang ia lihat sebagai upaya sesamanya untuk menjalin kembali hubungan dengan akar mereka melalui apa yang mereka makan dan pakai. "Ini adalah pertanda yang baik bagi Palamanis untuk percaya pada alat pemasarannya ketika ia menjadi sebuah identitas Islam bagi sabun-sabun di kawasan ini."
Namun, balik modal yang bagus dalam bisnis ini bukan perhatian utama Karon. Baginya, Palamanis bukan sekedar bisnis namun tujuan lebih besarnya adalah untuk merespon kebutuhan budaya kaum Muslim yang menggarisbawahi kebutuhan hidup mantan koleganya di pegunungan yang meninggalkan perjuangan bersenjata untuk menandatangani perjanjian damai dengan MNLF di tahun 1996.
Karon mengenang kisahnya yang mencintai sekaligus membenci sabun mandi. "Saya selalu ingin tahu apa yang terkandung di dalam sabun yang membuat kulit menjadi berminyak. Hingga saya menemukan bahwa kebanyakan produsen sabun menggunakan lemak hewan sebagai bahan dasarnya." Ia kemudian mencari sabun yang tidak mengandung lemak hewan, namun gagal. Kemudian sebuah ide besar mendatanginya.
Di tahun 1999, Karon, sebagai kepala Federasi Kooperatif Multitujuan Wanita Bangsamoro Mindanao Bersatu, ia mengirimkan sebuah proposal untuk memproduksi sabun kepada Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO PBB) yang mengalokasikan empat juta peso untuk mendorong kemampuan ekonomi dan kapabilitas mantan pejuang wanita.
Ketika proposal itu disetujui, Karon, bersama dengan 30 mantan pejuang wanita lainnya, mengikuti studi tur ke berbagai perusahaan menengah di Visayas dan kota-kota besar lainnya di Mindanao untuk mendapatkan pemahaman konteks bisnis yang lebih mendalam.
Karon akhirnya menemukan formulasi sabun yang sempurna menurut standar Islam.
Departemen Kesehatan mengajarkan mereka bagaimana membuat sabun menggunakan pepaya sebagai bahan utamanya, sementara program Act for Peace PBB mempersiapkan mekanismenya bagi kaum wanita untuk mengimplementasikan proyek tersebut.
Dengan 20 pekerja, tim tersebut menghasilkan sabun kecantikan biasa yang mengandung ekstrak pepaya murni, herbal buah-buahan lainnya dan minyak kelapa yang oleh Karon kemudian diberi nama Palamanis Whitening Soap, sabun untuk segela jenis kulit.
Melalui sabun Palamanis, Karon mampu mewujudkan mimpinya membantu mantan rekan-rekannya di pegunungan yang memiliki kesamaan visi dengan dirinya. "Bisnis ini menopang keluarga mereka mengembangkan keahlian mereka dalam kewirausahaan," ujarnya.
Para pekerja mendedikasikan hari-harinya untuk membuat sabun, sebuah tugas yang mereka anggap sebagai aktivitas pengisi waktu luang yang menyenangkan di dalam sebuah ruangan kecil, menurut Baiali Abdul, petugas administrasi dari organisasi kewanitaan itu.
Para pekerja membuktikan keampuhan sabun pemutih pepaya itu dan pertama kali memperkenalkan produk tersebut ke keluarga dan teman-teman. Tersebar berita bahwa sabun herbal itu efektif memutihkan kulit.
"Saya selalu merasa tersentuh mendengar langsung dari mereka tentang bagaimana sabun itu telah membantu masalah kulit mereka, karena saya tahu perasaan itu," ujar Abdul.
Produksi sabun itu selama satu bulan mencapai 5,700 batang, 900 botol cairan pembersih, 1,050 botol kondisioner kain, dan 600 kilo bubuk deterjen dengan biaya produksi hampir 300,000 peso dan keuntungan yang hanya sebesar 74,000 peso.
Semenjak penjualannya meningkat dengan konsisten, organisasi ini kini dapat membiayai sendiri operasinya.
Mereka memesan ekstrak pepaya, minyak kelapa, dan kontainer plastik dari jaringan pemasok mereka di Manila.
Sabun ini semakin populer di kalangan Muslim dan Kristen di Filipina selatan dan menghasilkan banyak keuntungan.
Pada tahun 1999, runner up pertama Miss Universe Miriam Quiambo datang ke kota Cotabato hanya untuk meluncurkan sabun itu. Kini, klien mereka meliputi para politisi papan atas, orang-orang kaya dan terkenal di kota, dan bahkan komunitas Kristen di wilayah itu.
Tahun 2003, Dewan Sertifikasi Halal Muslim Mindanao mengeluarkan sertifikasi untuk sabun Palamanis sebagai sabun halal pertama yang dijual di pasaran. (rin/bi) www.suaramedia.com
- Website Pengenalan Syariah Di Irlandia Tembus 270.000 Hits!
- Menteri Saudi Sarankan Pekerja Asing pelajari Islam
- Imam Jadi Komoditi Impor Baru Perdagangan Jerman - Turki
- Kelompok Muslim AS Kecam Pesan "Jihad" Al-Qaeda
- Peringati Hari Wanita, Perancis Gelar Pawai Anti-Burqa














