Turki sedang menyiapkan sejumlah imam untuk mengajarkan nilai-nilai Islam di Jerman. Para imam yang sebagian besar berasal dari Anatolia tersebut mendapatkan kursus singkat bahasa Jerman di Goethe Isntitut di Ankara.
Di sebuah pagi yang dingin menggigit, di Ankara, sekumpulan imam berkumpul di sebuah kelas. Jangan bayangkan para imam tersebut bergamis, bersorban, atau mengenakan busana khas Timur-Tengah – mereka mengenakan kemeja yang bisa membuat orang mengira mereka adalah orang kantoran atau mahasiswa.
"Birgit Deichmann masih mencari," seorang pria berbaju abu-abu berkata dengan lantang. "Apa sih, Deichmann itu?" tanya pria itu. Pria yang sedang bingung itu memilin kumis hitamnya. Sang instruktur memberinya penjelasan: Deichmann adalah sekedar nama keluarga di Jerman – nama seseorang yang sedang melakukan pencarian.
Tentu saja ada perbedaaan kultural antara Turki dan Jerman. Pertanyaan si baju abu-abu menunjukkan adanya sebuah shock kutural.
Di dalam kelas tersebut, para imam dapat melayangkan pandang keluar jendela. Menara-menara berwarna putih dan kelabu menjulang tinggi dari bangunan Masjid Kocatepe. Menara-menara itu tampak seperti benda yang tergantung di langit Turki yang biru. Jerman terasa begitu jauh. Dan, beberapa bulan ke depan, para imam tersebut sudah harus berangkat menuju tanah yang sama sekali baru tersebut. Jangankan berkunjung ke Jerman, mengenal nama belakang seperti Deichmann saja mereka belum pernah.
Sebenarnya, keputusan untuk mengimpor imam adalah akibat dari minimnya pilihan yang dimiliki para imam. Walau demikian, para pembuat kebijakan Jerman memandang keputusan impor imam sebagai pilihan yang terbaik. Apalagi, pada bulan Februari lalu, German Council of Science and Humanities mengeluarkan rekomendasi untuk membentuk dua atau tiga program keagamaan Islam di dalam universitas-universitas negeri Jerman. German Council of Science and Humanities adalah sebuah kelompok penasehat yang memberi saran kepada pemerintah federal maupun pemerintah negara bagian.
Menurut badan tersebut, pembentukan program keagamaan semacam itu merupakan bentuk kemajuan di Jerman, negara di mana sekedar membangun Masjid dengan menara saja dianggap sebagai hal yang menakutkan. Ya, orang-orang Jerman memang dilanda ketakutan bahwa pengaruh Islam akan menyebar di Eropa.
Di Jerman, terdapat kesulitan untuk mengintegrasikan Muslim yang berjumlah 4 juta jiwa ke dalam keseluruhan populasi. Jerman berupaya mengatasi masalah integrasi tersebut.
Para Muslim di Jerman kebanyakan merupakan keturunan Turki. Ide tentang imam yang mampu berbahasa Jerman dan mampu memahami masyarakat tempatnya mendidik dianggap sebagai kebijakan integrasi yang bagus.
Di Turki, terdapat sebuah badan bernama Dinayet yang bertugas untuk mengawasi praktek-praktek Islam di Turki, sekaligus menunjuk imam untuk melayani orang-orang Turki yang berdiaspora di luar negeri.
Jerman dipandang akan mendapat keuntungan dengan menumbuhkan imam di negara tersebut. "Tapi, bagaimana sesorang dapat melakukannya dalam keadaan saat ini dimana institusi-institusi di Jerman atau di Eropa bukanlah jenis yang ada di tanah Islam?" tanya Ali Dere, kepala hubungan luar negeri Dinayet di kantornya di Ankara.
"Sebagai sasaran jangka panjang, kami berharap bahwa Eropa dapat mengembangkan institusi teologi Islam yang kuat dan bagus," lanjut Dere.
Dere memperingatkan bahwa perlu waktu yang lama untuk mengembangkan program semacam itu. Sebab, tak banyak ahli teologi yang mendapatkan pendidikan di universitas dan mampu berbahasa Inggris yang dapat menjadi staff di program semacam itu. (es/ie) www.suaramedia.com
- Universitas Muslim Aligarh Lebarkan Sayap Menuju Kerala
- Al Qaradawi Fatwakan Konspirasi Parlemen Malaysia
- Kelompok Wanita Muslim Tolak Pemisahan Ruangan Sholat Masjid AS
- Website Pengenalan Syariah Di Irlandia Tembus 270.000 Hits!
- Menteri Saudi Sarankan Pekerja Asing pelajari Islam














