Menteri Urusan Islam, Saleh Al Asheikh, yang merupakan tamu kehormatan dalam acara tersebut, menekankan pentingnya menyebarkan pesan Islam di antara komunitas ekspatriat. "Syiar Islam adalah kewajiban tiap Muslim," ujarnya.
Ia mendesak para pekerja asing non-Muslim untuk memanfaatkan pusat-pusat dakwah di seluruh Arab Saudi guna mempelajari lebih jauh tentnag Islam dan menyingkirkan kesalahpahaman mereka tentang ajaran tersebut.
"Kini kami sedang dalam proses mengubah pusat dakwah di seluruh penjuru negeri untuk membuat mereka menjadi lebih efektif dalam menjalankan misi," ujar sang menteri. Terdapat sekitar 260 pusat dakwah di berbagai tempat di Arab Saudi.
"Sudah merupakan kewajiban relijius kami untuk mencerahkan para pekerja asing non-Muslim di negara ini tentang pesan Al Quran dan Hadist," ujarnya.
"Banyaknya pekerja ekspatriat yang masuk Islam dalam satu tahun menunjukkan bahwa Islam menyebar dengan cepat terlepas dari kampanye negatif dari para musuh," ujar Faisal Al Shami, wakil direktur IEF.
Ia mengatakan bahwa mayoritas ekspatriat non-Muslim di Arab Saudi tertarik untuk mempelajari Islam. "Di antara mereka, terdapat beberapa orang yang memperlihatkan kebencian terhadap Islam dan kami berusaha melibatkan mereka melalui dialog yang membangun. Ada kelompok ekspatriat lain yang tidak menghargai keyakinan relijius," ujarnya.
Al Shami mengatakan lebih dari 7,000 ekspatriat dengan berbagai kewarganegaraan berbeda telah menerima Islam di IEF dalam 15 tahun terakhir. "Kami menyediakan mereka dengan kursus intensif tentang Islam untuk memperkuat keyakinan mereka dan membantu mereka menunaikan haji," ujarnya.
James Bradley, 63, seorang konsultan sebuah perusahaan Saudi yang berasal dari Inggris, memeluk Islam tahun lalu dan seharusnya akan menghadiri upacara pada hari Jumat, namun ia meninggal lima bulan setelah masuk Islam. Ia telah mengadopsi Jamal sebagai nama barunya.
Seorang Kristen Protestan, Bradley datang ke Arab Saudi saat berusia 31 tahun. Selama tiga dekade terakhir, ia telah berulangkali mengekspresikan keinginannya untuk masuk Islam. Setelah mengucapkan dua kalimat Shahadat, ia mengatakan bahwa ia merasa seolah hatinya telah dibersihkan.
IEF, yang memiliki sejumlah kantor di Alhamrah, Corniche, dan Jeddah, beroperasi di bawah pengawasan Kementerian Urusan Islam, Amal, Panggilan, dan Bimbingan. Yayasan ini mengadakan seminar, kuliah, kompetisi, dan perjalanan umroh. "Program kami bertujuan menyoroti keyakinan, nilai, dan ajaran Islam serta melindungi generasi muda dan keluarga Muslim dari pemikiran dan ide-ide yang tidak Islami," ujar Ismaeel Abu Taleb, manajer hubungan kemasyarakatan dan pengembangan sumber daya.
Tahun lalu, 661 warga negara China yang bekerja dalam proyek pembangunan jalur kereta api Haramain telah memeluk Islam dalam sebuah upacara di Makkah.
Abdul Aziz Al Khudairi, wakil gubernur Makkah, yang menyaksikan pengucapan Shahadat menggambarkan acara itu sebagai sebuah respon langsung atas kritik pemerintah karena mengontrak perusahaan China.
"Kami menerima ratusan surat yang menentang penandatanganan sebuah kontrak dengan perusahaan China dan meminta dikontraknya perusahaan Muslim," ujar Khudairi. "Kini 661 dari mereka telah memeluk Islam."
"Jumlah itu juga akan naik, karena ini hanya awalnya, dan mewakili sekitar 10% dari 5,000 pekerja jalur kereta Haramain."
Dalam konteks serupa, sekitar 2,722 orang telah memeluk Islam di Kantor Kooperatif untuk Panggilan, Bimbingan, dan Kesadaran Komunitas di Al Taif.
Direktur Jenderal kantor tersebut, Sheikh Mohammed bin Ibrahim Al Sawat, mengatakan bahwa kantornya juga telah mendistribusikan 1,247,694 Al Quran, buku agama, dan pamflet serta 225, 901 kaset relijius. (rin/an/av) www.suaramedia.com
- Swedia Rilis Sertifikat Halal Pertama Di Eropa
- Universitas Muslim Aligarh Lebarkan Sayap Menuju Kerala
- Al Qaradawi Fatwakan Konspirasi Parlemen Malaysia
- Kelompok Wanita Muslim Tolak Pemisahan Ruangan Sholat Masjid AS
- Website Pengenalan Syariah Di Irlandia Tembus 270.000 Hits!














