Noor DIzar, atau "Keindahan Jilbab", adalah label milik Fatima Rafiy (39) dan Inge Rombouts (45) dari Antwerp. Fatima Rafiy adalah seorang Muslim yang sedang mencari jilbab modis dan nyaman dikenakan. Inge Rombouts, seseorang yang berpengalaman di dunia fashion, juga bekerja untuk Ann Demeulemeester.
"Kami berkenalan di sebuah pesta yang diadakan tetangga kami di rumah," ujar Rombouts. "Kami berbincang-bincang dan segera menemukan kegemaran yang sama: fashion. Fatima telah lama berkutat dengan rancangannya dan meminta saya melihatnya. Saya terutama terkesan dengan jilbabnya. Sangat modis, saya bahkan belum pernah melihatnya. Mereka benar-benar dibawa keluar dari konteks agama, saya pikir itu pintar. Saya segera melihat adanya potensi dan berhenti dari pekerjaan saya. Bulan April lalu kami memulai Noor DIzar. Fatima merancang dan saya sibuk dengan sisi bisnisnya."
Duo kreatif ini mendapatkan kesempatan pada awal Maret untuk pergi ke Paris Fashion Week. "Saya selalu memiliki keyakinan dalam ide-ide saya," ujar Rafiy. "Ini adalah kesenjangan pasar karena biasanya tidak ada jilbab yang modis. Namun bahwa desain saya juga akan disukai oleh kaum wanita Barat, saya tidak pernah menyangkanya. Mereka melihat kreasi saya sebagai aksesori fashion."
"Jurnalis fashion internasional sangat antusias. Bulan depan kami akan berada di sampul depan sebuah jurnal fashion Jerman. Media Denmark dan Inggris juga tertarik dan kami akan segera tampil di Vogue China."
Meski demikian, wanita Barat bukan kelompok target desainer ini. "Saya ingin menciptakan jilbab modis untuk diri saya sendiri dan anak muda Muslim lainnya, karena biasanya Anda tidak menemukannya. Dan desain yang telah ada juga sangat janggal. Memasang dan mengencangkannya dengan jepit rambut adalah ritual keseluruhannya dan jilbab masih tidak dapat terpasang baik dalam waktu lama."
"Saya menciptakan jilbab dengan ikat kepala yang terpasang di dalam sehingga mudah untuk dijepit. Dan sebagai tambahan, saya tidak membatasi diri: memakai bahan kulit dan bulu imitasi, rajutan sebagai topi dan jilbab, sebuah desain sporty."
"Konsep desain percobaan saya disukai bahkan oleh kaum pria di Paris Fashion Week. Mereka ingin memakainya di dalam helm sepeda motor. Saya rasa itu lucu. Saya juga memiliki konsep desain dengan dua celah untuk memasukkan gagang kacamata."
Saat ini keduanya telah memiliki sebuah toko online dan showroom, di mana orang-orang yang tertarik dapat mencoba desain mereka. Rafiy juga merancang berdasarkan permintaan.
Dan sekarang mereka memiliki toko yang sebenarnya. "Sebuah butik yang modis. Saya ingin menjadi Chanel versi Arab. Saya mengemas jilbab-jilbab saya dalam kotak yang mewah. Saya tidak terlibat dalam diskusi politik tentang jilbab. Siapapun yang ingin mengenakannya, silakan. Siapa yang tidak, juga silakan. Saya hanya ingin menjalani hidup sebagai seorang perancang, seperti perancang lain pada umumnya." (rin/ie) www.suaramedia.com














