PVV Wilders meraih 20% suara di kota berpenduduk 188,000 jiwa ini. Sedangkan untuk pemilihan umum nasional mendatang, PVV mengusung isu anti-imigran dan telah mengumumkan ingin menerapkan pajak atau melarang jilbab dan mendeportasi penjahat-penjahat muda yang memiliki paspor dari negara lain. Wilders saat ini didakwa di Belanda untuk pernyataan kebencian dan menghasut diskriminasi setelah ia membandingkan Al Quran dengan Mein Kampf Hitler dan membuat video kontroversial yang menyandingkan ayat-ayat Al Quran dengan gambar-gambar terorisme.
Kaaouass mengajar agama, namun setelah pemilihan lokal ia memutuskan untuk berbicara kepada murid-muridnya tentang politik. "Bahwa Wilders menjadi besar ada hubungannya dengan kita (Muslim)," ujar Kaaouass.
Guru tersebut juga menceritakan kepada mereka tentang masyarakat di tahun 1985, ketika ia pindah ke kota Belanda, Zeist. "Jika tukang susu datang dan pemilik rumah tidak berada di tempat, maka kami, anak laki-laki Maroko, akan datang mengantarkan surat kabar dan melihat botol susu di pintu," ujar Kaaouass sambil memperagakan berjalan ke arah pintu dan melihat sesuatu di pintu depan. "Wah, sesuatu untuk diminum," ujarnya sambil terkesima dan mengambil botol imajiner itu. Anak-anak pun tertawa.
"Jadi bagaimana menurut kalian?" tanya sang guru. "Apakah berita di surat kabar tentang para pemuda yang berkeliaran dan perampokan itu benar?"
Di sebuah sekolah menengah atas terdekat, guru Joel de Bruijne berbicara pada kelasnya yang beranggotakan 20 siswa dan siswi tentang subyek serupa. De Bruijne biasanya mengajar olahraga di SMA Echnaton, namun juga mengadakan sesi dua kali seminggu untuk membahas berbagai topik seperti sikap, pilihan, dan rasa hormat serta isu-isu terkini seperti video anti-Islam Wilders, Fitna, kemungkinan larangan jilbab dan pemilihan lokal. Dalam kelas hari Senin, ia menjelaskan bagaimana Partai Buruh telah mengganti ketuanya, Wouter Bos, dengan walikota Amsterdam Job Cohen dan bahwa Wilders telah menuduh Cohen bersikap lunak terhadap kaum imigran. "Ia menyebut Cohen hati berdarah multikultural karena sang walikota minum teh bersama orang-orang dari berbagai kebudayaan," ujar de Bruijne.
Bangkitnya Wilders menjadi sebuah persoalan bagi anak-anak dari semua keyakinan di berbagai sekolah di Almere. Guru-guru mereka sibuk mengklarifikasi dan menenangkan mereka. Namun bagaimana mereka bisa menjelaskan bahwa Wilders dibolehkan mengatakan hal-hal yang tidak akan ditolerir di dalam sekolah?"
De Bruijne mengatakan betapa sulitnya bagi para guru untuk menghadapi gejolak situasi politik di Belanda. "Kami belajar bahwa kita dapat tidak menyetujui suatu sikap, namun tidak untuk individu," ujarnya. Meskipun de Bruijne meyakini bahwa politisi seharusnya memberikan contoh, "Wilders justru menstigmatisasi seluruh kelompok-kelompok masyarakat."
Pada hari pemilihan ia bertemu dengan dua anak laki-laki di koridor. Mereka dikeluarkan dari kelas setelah mengatakan bahwa "sampah Maroko" harus pergi dari Belanda. "Mereka merasa punya hak mengatakannya, karena Wilders melakukan hal yang sama," ujar de Bruijne.
Ia terkejut dengan insiden itu, karena kedua anak laki-laki itu benar: mereka seharusnya boleh mengutip seorang politisi. Namun pernyataan Wilders bertentangan dengan peraturan sekolah. Menghormati satu sama lain adalah sesuatu yang dijunjung tinggi oleh sekolah dan murid-muridnya di seluruh dunia. Sampah Maroko dan istilah-istilah merendahkan lainnya yang digunakan oleh Wilders tidak sejalan dengan kebijakan itu, menurut de Bruijne. "Untung saya dapat mengatakan kepada mereka bahwa Wilders harus mempertanggungjawabkan pernyataannya di pengadilan." (rin/ie) www.suaramedia.com
- CAIR : Pelatihan Militer Putar Film Propaganda Anti-Islam
- Imam Mogra Jembatani Pertukaran Ide Muslim Inggris - India
- Universitas Inggris Bocorkan Data Pribadi Muslim Kepada Polisi Anti-Teror
- Islamic Center Tingkatkan Integritas Di Kota Kecil Austria
- Menteri: Ulama Adalah Senjata Utama Perangi Ekstrimisme














