Sebuah laporan dalam jurnal Royal United Services Institute (RUSI) menemukan bahwa serangan terkoordinasi skala besar digantikan oleh individu-individu bermotivasi tinggi namun tak terlatih yang beroperasi dengan harapan bahwa pada akhirnya satu dari mereka akan berhasil.
Inggris memiliki lebih banyak hal untuk ditakutkan dibanding negara Barat lainnya dari teroris dalam negeri dan kondisinya semua ada di sana untuk dimulainya serangkaian serangan kapan saja, ujar laporan untuk lembaga pemikir keamanan dan pertahanan itu.
Penulisnya, direktur RUSI Michael Clarke, dan rekan peneliti Valentina Soria, mengatakan bahwa estimasi menunjukkan satu dari 10 dari 8,000 tahanan Muslim di lembaga keamanan tinggi di England dan Wales berhasil ditarget oleh radikalis.
"Mungkin 800 tahanan yang berpotensi radikal kekerasan, yang sebelumnya tidak bersalah atas tuntutan terorisme, akan kembali ke masyarakat dalam lima sampai 10 tahun mendatang," tulis mereka.
Ditambang dengan kebijakan luar negeri yang berfungsi untuk fokus pada pengasingan dan kebencian, fenomena terorisme dalam negeri di Inggris semakin berkembang, ujar mereka.
"Reaksi alami terhadap peningkatan operasi kontrateroris adalah bagi serangan untuk berevolusi ke arah upaya-upaya yang lebih individu."
Mereka menambahkan bahwa sebuah kampanye media Al Qaeda yang berpengaruh akan membuat mereka tampak sama dramatis dan mengancamnya dengan serangan-serangan sebelumnya."
"Jika pengebom dan pembunuh tunggal dikirim ke luar untuk mencoba peruntungan mereka, variabel kuncinya akan menjadi dampak dari upaya spontan mereka terhadap motivasi orang lain untuk bergabung dengan gerakan radikal."
"Pembunuh tunggal akan selalu ada dan beberapa dari mereka akan berhasil. Pertanyaan kuncinya adalah apakah aksi mereka akan tetap individual atau menjadi bagian dari fenomena struktural."
Di bawah generasi baru para pemimpin seperti Anwar Al Awlaki, yang dianggap sebagai salah satu tokoh paling diburu di dunia, tampaknya motivasi tinggi itu diikuti oleh pelatihan yang belum sempurna, merujuk pada pengebom tunggal di balik bom mobil Times Square di New York pada bulan Mei.
Sementara peluang sukses untuk individu tunggal, tak terlatih mungkin terbilang rendah, pada akhirnya hal itu beralasan, salah satu dari mereka akan cukup beruntung untuk berhasil dalam cara yang besar melawan target-target tingkat tinggi di negara-negara Barat.
"Kemungkinan serangan sekarang ada di semua gelaran olahraga besar mulai dari Commonwealth Games di India dan Olympic Games di London tahun 2012, sampai ke semua gelaran besar di masa depan seperti turnamen Piala Dunia."
Bagi masyarakat Inggris, bahaya terbesar adalah kepuasan publik.
Juru bicara Kementerian Kehakiman mengatakan bahwa Penjara dan Layanan Masa Percobaan tidak mengakui jumlah 800 radikal kekerasan yang disebutkan di dalam laporan dan tidak sependapat bahwa radikalisasi tengah terjadi dengan cepat.
"Hanya terdapat 6,000 tahanan di Penjara Keamanan Tingkat Tinggi yang sebagian besar non-Muslim," ujarnya.
"Dengan begitu angka 1:10 dari 8,000 Muslim di dalam Penjara tidak diakui."
"Kepemilikan sudut pandang ekstrimis dan proses radikalisasi tidak hanya ada di dalam lingkungan penjara, keduanya juga bisa ditemukan di masyarakat luas."
"Praduga bahwa memegang sudut pandang radikal atau ekstrim pasti akan menimbulkan perilaku yang ekstrimis kekerasan dan kriminalitas perlu diubah." (rin/sn) www.suaramedia.com













