Kamis, 23 Pebruari 2012

Headlines:

Dilema Penggunaan Bahasa Dalam Peribadatan Muslim di Rusia

E-mail Cetak PDF

STAUNTON, RUSIA (Berita SuaraMedia) – Umat Muslim di Rusia terbagi atas pertanyaan apakah Masjid seharusnya diatur sepanjang garis etno-linguistik karena mereka berada di Eropa Barat dengan tujuan untuk membantu komunitas nasional bertahan atau apakah mereka harus menjadi non-etnik, sesuatu yang banyak orang percayai Islam mewajibkannya, namun hal ini berarti meningkatnya penggunaan bahasa Rusia di dalamnya.

Pada sebuah forum Kazan akhir minggu ini, "The Importance of Religious Values in the Preservation of National Identity" (Pentingnya Nilai-nilai Keagamaan dalam Melestarikan Identitas Nasional) cara-cara di mana Islam telah berkontribusi untuk kelangsungan hidup banyak kelompok etnik di kawasan yang sekarang dikenal dengan Federasi Rusia, menjadi pusat dari diskusi forum tersebut.

Ildus Faizov, deputi mufti pertama dari Tatarstan, memulai diskusi tersebut dan berpendapat bahwa "Hanya dengan berpegang teguh pada sekolah Hanafi, apakah umat Muslim akan dapat melestarikan agama mereka dan warna nasional di dalamnya," sesuatu yang sekolah legal Islam Sunni tujukan untuk memberikan ruang lingkup yang lebih besar dari pada apa yang dilakukan tiga sekolah lain.

Pembicara kedua, Valiulla Yakupov, seorang deputi Mufti dari Tatarstan, menyebut dirinya sendiri "seorang nasionalis positif" dan mengajukan bahwa komunitas-komunitas Muslim di Federasi Rusia "membuka Masjid atas sebuah dasar nasional (bahasa Tatarstan, Rusia, Turki, dan lainnya) dengan tujuan bahwa setiap dari yang hadir akan merasa nyaman di mana ibadah dilakukan dalam bahasa asli mereka."

Pendapat Yukapov mencetuskan sebuah perbedaan pendapat yang tajam dari Renat Bekin, editor dari "Chetki," yang mengatakan bahwa "Pelestarian bahasa Tatarstan dan kelahiran kembali persatuan nasional tidak seharusnya menjadi tujuan di dalam umat Muslim sendiri karena kewajiban utama mereka adalah untuk membahasakan Islam kepada semua umat termasuk orang-orang dari kebangsaan lain."

Ini adalah sebuah masalah yang semakin sensitif, terutama di kota-kota terbesar Rusia di mana terdapat sejumlah besar imigran dari Asia Tengah dan Kaukasus, dan masalah ini adalah satu masalah yang tidak hanya membagi umat Muslim namun juga menghubungkan mereka pada tiap sisi dengan beberapa teman politik yang tertarik di luar keyakinan.

Sampai satu generasi yang lalu, di luar dari republik-republik Kaukasus Utara, Masjid-Masjid Federasi Rusia di kebanyakan kasus adalal Masjid berbahasa Tatarstan. Sebagian besar Mullah dan imam di Masjid-Masjid tersebut berkebangsaan Tatarstan (atau kurang sering diantaranya adalah Bashkir), dan sebagian besar dari layanan ibadah di Masjid tersebut dilakukan dengan bahasa Tatarstan, walaupun tidak, seperti halnya di Moskow contohnya, menggunakan bahasa dari komunitas yang mengelilingi Masjid tersebut.

Pola semacam itu memiliki dua konsekuensi yang sama sekali bertentangan. Di satu sisi, hal ini berarti bahwa Masjid di tempat-tempat tersebut berada di antara kekuatan yang paling berkuasa dari identitas nasional Tatarstan. Namun di satu sisi yang lain, hal ini berarti bahwa umat Muslim yang tidak berbicara dengan bahasa Tatarstan sering merasa terkucilkan dan terkadang beralih kepada para pemimpin fundamentalis di luar Masjid.

Lebih dari dua dekade terakhir, banyak di antara Masjid-Masjid di Moskow dan kota-kota Rusia yang lain telah beralih pada penggunaan bahasa Rusia, sebuah praktik yang telah memperbolehkan mereka untuk menjangkau keluar dan menarik bagi banyak umat yang tidak menggunakan bahasa Tatarstan dan karenanya menaikkan jumlah Muslim taat bahkan sambil mengurangi peranan dari Masjid sebagai pusat kehidupan suku Tatarstan.

Bagi para pejabat Rusia dan para komentator, sebagai hasilnya, pertanyaan bahasa di antara umat Muslim Negara tersebut juga telah menjadi sebuah pemisah. Beberapa pejabat Rusia telah mendukung penggantian dari bahasa Tatarstan menjadi bahasa Rusia baik itu di luar dari nasionalisme sederhana atau dengan tujuan untuk mengurangi pengaruh dari fundamentalis independen.

Namun yang lainnya, lebih merasa nyaman dengan situasi awal yang mana suku Tatarstan dan umat Muslim adalah hampir sama di banyak bagian dari Rusia, telah dikhawatirkan bahwa penggantian ini telah memperbolehkan pengaruh dari Islam tumbuh tidak hanya di antara "etnis Muslim" dari berbagai jenis namun juga di antara etnik Rusia dan kelompok lain yang secara tradisional belum memilih Islam.

Jadi mereka telah menentang penggantian dengan menggunakan bahasa Rusia, bahkan pada harga intensifikasi identitas nasional orang-orang Tatarstan dan tumbuhnya komponen Islami dari identitas tersebut, sebuah trend yang dihasilkan dalam kebangsaan terbesar kedua Rusia memainkan sebuah peranan yang meningkat di komunitas Muslim yang lebih besar di sana. (ppt/gd) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon