"Selama jantung pasien tersebut berdetak, tidak ada alasan bagi kami untuk melepaskan ventilator dari pasien tersebut," kata Dr. Abdullah A. Abdulgader, direktur dari Pusat jantung Pangeran Sultan di Al-Hasa.
Abdulgader mengatakan bahwa pandangannya tersebut berdasarkan pada penelitian yang dilaksanakan oleh para kardiologis yang menghadiri konferensi internasional tiga hari tentang ilmu-ilmu jantung terdepan di kota bersejarah Arab Saudi ini.
"Setiap orang yang menghadiri konferensi tersebut, termasuk professor Franz Halberg dari Universitas Minnesota dan Dr. Rollin McCraty dari Institut Jantung California, meyakini bahwa jantung adalah letak di mana jiwa berada. Selama jantung berfungsi, seseorang harus dianggap hidup. Semua para ahli ini memiliki pandangan yang sepakat bahwa jantung, bukan otak, adalah organ raja," ia mengatakan. "Dan mereka semua mendasarkan penilaian mereka pada penelitian yang sempurna."
Menurut sebuah fatwa yang dikeluarkan di Kerajaan tersebut 22 tahun yang lalu dan yang masih menjadi prinsip panduan dalam kasus-kasus pasien yang sakit parah, seseorang yang berada dalam keadaan koma dan dinyatakan secara medis telah meninggal atau mati otak seharusnya dicopot ventilatornya. Hal ini pada dasarnya berarti bahwa jantung pasien yang masih bergerak harus diperbolehkan untuk meninggal. Fatwa tersebut, disetujui oleh otoritas keagamaan teratas Kerajaan tersebut, didasarkan pada bagian besar pada saran dari komunitas medis.
"Dua puluh dua tahun yang lalu kami tidak mengetahui apa yang kami ketahui saat ini,"Abdulgader menjelaskan. "Apa yang kita ketahui sekarang adalah sebuah jantung yang berdetak menghasilkan energi, detakan tersebut menghasilkan gelombang elektromagnetis. Gelombang tersebut bereaksi dengan dunia luar. Kejadian-kejadian di kosmos dan di dunia luar memiliki sebuah kaitan langsung pada cara jantung kita bereaksi," ia mengatakan.
Abdulgader mengatakan bahwa gelombang elektromagnetik tersebut sama dengan gelombang udara. "Apa yang Anda lakukan ketika Anda menyalakan televisi atau radio Anda. Pada dasarnya Anda berusaha untuk menangkap sebuah frekuensi tertentu dan ketika frekuensi tersebut sesuai, terdapat komunikasi – radio dan televisi menjadi hidup. Sama halnya dalam kasus dengan gelombang jantung. Ketika gelombang tersebut sesuai dengan sebuah frekuensi tertentu, maka gelombang tersebut dapat berkomunikasi dengan kekuatan yang lebih besar dalam kehidupan," ia mengatakan.
Gelombang elektromagnetik yang dihasilkan dari sebuah detakan jantung menciptakan sebuah radius enam sampai 12 kaki dari pusat jantung. "Gelombang tersebut dianggap sebuah jumlah substansial energi. Diperjelas dengan cara begini: ketika jantung berdetak, akan terdapat sejenis energi sebesar 2,2 volt … besar tegangan tersebut cukup untuk menghidupkan sebuah bohlam. Terdapat sebuah lingkaran cahaya di sekitar jantung kita ketika jantung tersebut berdetak. Ini tidak lain adalah sebuah tanda dari kehidupan," ia mengatakan.
Sebagai seorang Muslim, ia mengatakan bahwa ia sadar atas apa yang Al-Qur’an katakan tentang jantung. "Jantung manusia disebutkan sekian kali di dalam Kitab suci Al-Qur’an … jantung, sebagai organ hidup yang memiliki kapasitas menjadi sebauh pusat pemikiran, tujuan, dan pembuatan keputusan. Secara terus menerus, jantung dapat juga dalam keadaan sehat ataupun sakit. Jantung yang sehat (atau lembut) dapat memiliki sebuah sikap manusia dan menyemimbangkan rasional, sementara jantung yang sakit (atau yang keras, keras seperti batu) dapat kehilangan sentuhan manusianya dan kapasitasnya untuk melilhat dan memahami."
Bagaimanapun juga, ia mengatakan, para pakar di masa lalu membatasi fungsi dari jantung manusia pada proses pemompaan darah ke seluruh tubuh belaka. "Sebenarnya, jantung tidak hanya sebuah mesin pemompa. Itu yang pasti."
Dalam sorotan studi baru, ia mengatakan bahwa sebuah dialog segar harus diusulkan dengan para ulama. "Kami menghormati ulama kami. Mereka pantas mendapatkan rasa hormat kami. Mereka orang yang sangat pandai. Mereka hanya perlu diberitahu tentang penelitian baru. Ketika mereka teryakini, mereka akan secara otomatis merevisi putusan peraturan fatwa lama dan akan memperbolehkan seorang yang sedang dalam keadaan koma namun dengan jantung yang berdetak untuk melanjutkan hidup dan untuk membiarkannya terus berkomunikasi dengan jantungnya. Jiwa dari seseorang berada pada jantung dan selama jantung tersebut berdetak, maka komunikasi sedang berlangsung dan seharusnya secaa fisik tidak diakhiri. Kami tidak seharusnya ikut campur dalam jalan Tuhan. Tuhan telah memberikan kehidupan dan hanya Tuhan yang akan mengambil kehidupan tersebut."
Abdulgader membandingkan tindakan mengambil sebuah ventilator seseorang dengan aborsi. "Pada faktanya, hal ini lebih buruk dari aborsi. Kita mengatakan bahwa aborsi adalah sebuah tabu yang sangat besar. Dan apa yang kita lakukan di sini? Mengakhiri sebuah kehidupan yang memiliki emosi, keluarga, sebuah kehidupan berusia 50 tahun, 60 tahun. Dalam aborsi, Anda hanya mengakhiri sebuah kehidupan di dalam rahim seorang wanita yang tidak memiliki emosi. Pikirkanlah tentang hal tersebut.
"Konferensi tersebut dijuluki sebagai "Raja Organ tahun 2010," benar-benar fokus kepada urusan jantung dan semua penelitian baru di bidang kardiologi," Abdulgader menambahkan. (ppt/an) www.suaramedia.com
- Hijab & The City Jembatani Budaya Muslim Dan Perancis
- Perusahaan Jerman Kutip Al-Qur'an Untuk Tolak Asuransi Muslim
- Contoh AS, Mantan PM Australia Desak Potong Akomodasi Muslim
- Telanjangi Muslim, Trasportasi Air NY Terancam Hukum
- Riset: Muslim Berjilbab Hadapi Diskriminasi di Tempat Kerja















