"Buku tersebut akan keluar seperti yang direncanakan," Karsten Blauert dari Jllands-Posten mengatakan pada kantor berita AFP.
Kampanye "The Tyranny of Silence" (Tirani Kebisuan) direncanakan keluar pada Kamis waktu setempat, lima tahun dari hari ketika kartun pertama muncul di harian Jyllands-Posten yang memasang kartun nabi Muhammad di dalamnya," Blauert megatakan.
Ditanya tentang kemungkinan sebuah reaksi yang kuat untuk publikasinya, ia mengatakan: "Ini jelas bahwa begitu banyak hal terjadi, namun segala sesuatu terjadi seperti yang direncanakan, dan tidak ada yang akan mengubahnya."
Buku tersebut oleh Flemming Rose, yang merupakan editor kantor berita Jyllands-Posten ketika pada 30 September, 2005, harian yangmemuat penyebaran halaman depannya dengan menampilkan 12 kartun Nabi Muhammad.
Gambar tersebut memicu kemarahan di seluruh dunia Muslim dan menuntun pada protes kekerasan melawan kepentingan Denmark dan warga Denmark sendiri pada tahun 2006. Rose sendiri sejak saat itu menerima banyak sekali peringatan keras.
Pada sebuah wawancara bulan Agustus, Rose bersikeras bahwa ia tidak berusaha untuk menjadi proaktif dengan buku baru tersebut, menekankan bahwa ia hanya ingin "mengatakan cerita dari 12 gambar tersebut dan menaruh gambar-gambar tersebut ke dalam sebuah konteks dari gambar yang lain dianggap menghina.
Penting untuk menulis buku tersebut karena, ia mengatakan: "Kata-kata seharusnya dijawab dengan kata-kata."
"Itulah yang kita miliki dalam sebuah demokrasi, dan jika kami menyerah akan hal itu, kami akan terkurung dalam sebuah tirani kebisuan."
Polisi Norwegia mengatakan bahwa seorang warga Kurdi Irak ditahan di Norwegia atas kecurigaan tentang perencanaan pengeboman yang mengakui bahwa targetnya adalah Jyllands-Posten.
Dinas intelijen Denmark PET, mengkonfirmasi klaim Norwegia tersebut, mengatakan bahwa Denmark telah menjadi sebuah "target prioritas untuk ekstrimis".
Pada Rabu waktu setempat menteri luar negeri Denmark bertemu dengan duta besar dari 17 negara Muslim sebelum publikasi dari buku tersebut.
Pertemuan Lene Espersen dengan duta besar terjadi dalam sebuah tawaran untuk meredakan ketegangan dengan negara-negara Muslim.
"Hal ini tidak dapat lagi muncul sebagai sebuah kejutan bahwa ada banyak orang di Denmark dan di seluruh dunia yang akan tersakiti ketika mereka mendengar bahwa gambar-gambar tersebut akan dipublikasikan lagi," Espersen mengatakan dalam sebuah pernyataan.
"Dalam menyoroti pengalaman kami dari lima tahun terakhir, saya telah mengambil sejumlah langkah untuk menghindari konfrontasi baru, yang tidak ada gunanya untuk siapapun," ia menambahkan.
Pertemuan tersebut ditujukan mencegah protes baru terhadap Denmark dan kepentingan masyarakat Denmark atas publikasi tersebut pada Kamis (30/9) waktu setempat.
Menteri tersebut bertemu duta besar dari 17 negara Muslim, termasuk Aljazair, Mesir, Arab Saudi, Indonesia, dan Iran, Klavs Holm, duta besar Denmark untuk diplomasi publik, mengatakan kepada kantor berita AFP.
"Ini adalah sebuah pertemuan yang bagus, sebuah atmosfir yang bagus," ia mengatakan.
Espersen telah menekankan bahwa "kebebasan berbicara di Denmark adalah landasan dari demokrasi kami dan yang oleh karenanya orang-orang memiliki hak untuk mencetak buku-buku asalkan buku tersebut masih berada dalam hukum," ia mengatakan.
Pada saat yang bersamaan, ia menekankan dalam pernyataan bahwa "Denmark ingin mempertahankan hubungan yang kuat, baik, dan ramah dengan dunia Muslim. Sebuah dialog yang konstruktif adalah jalan terbaik."
"Pemerintah Denmark menghormati semua komunitas kepercayaan dan keagamaan, termasuk Islam … dan semua sensibilitas keagamaan orang-orang," ia menambahkan. (ppt/aby) www.suaramedia.com














