Kamis, 24 Mei 2012

Headlines:

CAIR Tak Dukung Pemecatan Pembakar Al-Qur'an

E-mail Cetak PDF

TRENTON, NEW JERSEY (Berita SuaraMedia) – Pada hari jadi kesembilan serangan di WTC, Derek Fenton menarik perhatian halaman utama dengan membakar halaman-halaman Al-Qur’an di Manhattan untuk memprotes sebuah usulan pusat komunitas Islam di sana. Dua hari kemudian, ia kehilangan pekerjaannya di New Jersey karena melanggar kode etik kantor tersebut.

Sekarang Persatuan Kebebasan Sipil mengatakan bahwa Fenton seharusnya mendapatkan pekerjaannya kembali. Kelompok tersebut akan mengajukan sebuah tuntutan hukum pada Jum'at (5/11) di Pengadilan tingkat Distrik AS mengatakan bahwa Fenton secara tidak konstitusional dipecat karena melakukan hak kebebasan berbicaranya.

"Jika Anda memperbolehkan pemerintah mensensor satu jenis pidato, Anda membuka pintu menuju penyensoran dari semua jenis pidato," kata Deborah Jacobs, direktur eksekutif dari ACLU di New Jersey. "Hak individual kami untuk kebebasan berbicara bergantung pada setiap orang yang memilikinya."

Seorang juru biacara untuk NJ Transit menolak untuk berkomentar. Ketika Fenton dipecat, agen tersebut mengeluarkan sebuah pernyataan mengatakan bahwa pihaknya telah menyimpulkan bahwa Fenton melanggar kepercayaannya sebagai pegawai negeri dan oleh karenanya dipecat."

Dua bulan lalu Fenton masuk ke dalam sebuah perdebatan internasional yang bergolak atas kebebasan berbicara, kebebasan beragama dan tempat Islam di Amerika. Terry Jones, seorang pastur pinggiran dari Florida, telah mengumumkan rencana untuk membakar Al-Qur'an pada 11 September. Dikipasi oleh peliputan media siang malam, berita tersebut dengan cepat menjadi salah satu dari topik yang paling berkobar-kobar di dunia. Jenderal David Petraeus, komando teratas di Afghanistan, mengatakan bahwa tindakan tersebut dapat membahayakan pasukan AS, dan Menteri Pertahanan Robert Gates menelepon secara pribadi untuk meminta Jones menggagalkan rencananya.

Jones pada akhirnya memutuskan untuk tidak membakar Al-Qur'an.

Namun pada hari itu, Fenton, 39 tahun, dari Bloomindale, melakukan hal tersebut sambil berdiri di luar tempat usulan pusat komunitas Islam – sebuah penangkal kilat untuk kontroversi ketika penentang tempat tersebut mengatakan bahwa menempatkan pusat tersebut dua blok dari Ground Zero adalah tidak sensitif pada korban 9/11 sementara para pendukung membelanya atas dasar kebebasan beragama.

Fenton, mengenakan topi baseball dan kaus polo biru, menarik halaman-halaman dari kitab suci Al-Qur'an dan membakarnya dengan sebuah korek apo. Dikelilingi oleh kamera berita dan keramaian yang resah, ia dikawal pergi oleh kepolisian New York, namun tidak ditahan. Fenton pada hari itu tidak bekerja, ia juga tidak mengidentifikasikan dirinya sebagai seorang pegawai NJ Transit, tuntutan hukum tersebut mengatakan.

ACLU mengatakan bahwa tindakannya adalah kebebasan berbicara.

"Fenton memilki hak, dilindungi di bawah Amandemen Pertama untuk konstitusi federal, untuk terlibat sebagai seorang warga negara dalam aktivitas ekspresif tentang masalah kepentingan publik, termasuk masalah yang berhubungan dengan usulan pembangunan pusat komunitas di dekat Ground Zero," tuntutan tersebut mengatakan. "Ketika ia membakar halaman-halaman dari Al-Qur'an pada 11 September 2010, sebagai sebuah protes terhadap pusat tersebut, Fenton sedang melakukan hak tersebut.

Fenton, seorang pegawai selama 11 tahun, adalah seorang asisten koordinator, bertanggung jawab memastikan adanya cukup mobil yang tersedia untuk membuat sebuah kereta masuk ke dalam layanannya. Ia dipecat dari pekerjaannya pada 13 September, menurut tuntutan hukum tersebut, yang mengusahakan pembayaran ganti rugi dan hukuman kerusakan. Frank Corrado, seorang pengacara yang mengerjakan kasus tersebut, mengatakan bahwa upaya-upaya untuk mendapatkan pekerjaan Fenton kembali tidak sukses.

Fenton tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar dan ACLU mengatakan bahwa ia tidak akan bersedia membuat sebuah pernyataan publik.

Senator negara bagian Raymond lesniak telah menentang pemecatan tersebut, mengatakan bahwa Fenton seharusnya telah ditugaskan pelatihan keanekaragaman dari pada kehilangan pekerjaannya.

"Mereka seharusnya telah membuat hal ini sebagai sebuah momen pembelajaran dari pada sebuah momen konfrontasi,"Lesniak mengatakan. "Saya sama menentangnya atas apa yang ia lakukan, sama seperti orang lain. Namun cara untuk memperbaiki kesalahan tidaklah dengan mengabaikan hak amandemen pertama seseorang."

Dewan hubungan Amerika - Islam (Council on American-Islamic Relations – CAIR) juga mengatakan bahwa Fenton seharusnya tetap mendapatkan pekerjaannya.

"Jika ia tidak dalam cara apapun menghubungkan dirinya sendiri dengan pemilik perusahaan ketika melakukan tindakan ini, kami tidak akan mendukung pemecatannya, bahkan walaupun secara jelas kami akan secara keras menolak tindakannya," juru bicara Ibrahim Hooper mengatakan. "Kami adalah pendukung kuat dari Amandemen Pertama." (ppt/nj) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon