Kamis, 24 Mei 2012

Headlines:

Mantan Hakim MA Pertahankan Rencana Pusat Islam NY

E-mail Cetak PDF

WASHINGTON (Berita SuaraMedia) - Pensiunan Hakim John Paul Stevens Kamis menyatakan dukungannya untuk pusat komunitas Islam yang direncanakan di dekat lokasi serangan teroris 11 September di New York, mendesak adanya toleransi agama dan etnis.

"Muslim Amerika harus menikmati kebebasan untuk membangun tempat ibadah mereka di mana pun yang diijinkan oleh hukum zonasi setempat," kata pensiunan ahli hukum Mahkamah Agung di sebuah acara makan siang di mana ia dijamu oleh National Japanese American Memorial Foundation .

Pria 90-tahun itu mengatakan pengalamannya sebagai seorang veteran Perang Dunia II, ketika Amerika Serikat berperang dengan Jepang, telah memberinya wawasan selama bertahun-tahun dalam kebutuhan untuk memerangi "prasangka yang menyakitkan hati."

Pusat komunitas dan Masjid – yang sekarang resmi dijuluki Park 51 - akan berada di dua blok utara dari Ground Zero, di mana dua pesawat dibajak oleh ekstremis yang jatuh ke menara kembar World Trade Center, menyebabkan kedua menara runtuh. Sekitar 3.000 orang meninggal, dan penduduk kota banyak yang mengatakan lokasi fasilitas Islam itu tidak pantas, karena perasaan dari sembilan tahun  lalu masih tetap segar dan pahit.

Tetapi Stevens mengatakan itu akan tidak adil untuk menyimpulkan tindakan teroris al Qaeda sebagai mencerminkan pandangan seluruh umat Islam, terutama di Amerika Serikat.

"Konstitusi kami melindungi setiap orang dari dinyatakan bersalah berdasarkan kesalahan perilaku rekan-rekan kita. Bersalah karena terasosiasi adalah tidak adil," katanya. Akan "sangat tidak bijak untuk menarik kesimpulan berdasarkan keanggotaan seseorang dalam asosiasi atau kelompok tanpa memahami tentang kelompok itu."

Stevens pensiun dari pengadilan tinggi pada akhir Juni setelah 35 tahun menjabat. Dia telah memberikan pidato aktif dan bekerja secara teratur di Mahkamah Agung di kantornya, yang diberikan kepada pensiunan hakim tersebut.

Dia bilang dia mengerti bagaimana yang dirasakan oleh banyak orang tentang memiliki sebuah Masjid di dekat apa yang telah menjadi tanah suci. Tapi dia mencatat kunjungannya pada tahun 1994 ke Hawaii dan para wisatawan Jepang yang ditemuinya di Pearl Harbor, pangkalan Angkatan Laut AS yang dibom oleh Jepang yang mendorong AS untuk terlibat dalam Perang Dunia II.

"Beberapa pemikiran terlintas di benak saya:" Orang-orang itu tidak seharusnya berada di sini Kami memenangkan perang, mereka kalah. Kita tidak semestinya membiarkan mereka untuk merayakan serangan mereka di Pearl Harbor bahkan jika itu adalah salah satu kemenangan terbesar mereka,'" katanya tentang tur USS Arizona, tenggelam dalam serangan Jepang dan sekarang  menjadi lokasi taman nasional.

"Saya menyadari bahwa saya menarik kesimpulan tentang setiap anggota kelompok wisata yang tidak selalu berlaku untuk salah satu dari mereka. Kita seharusnya tidak memberikan penilaian tentang keseluruhan barel apel hanya karena salah satu dari barel mungkin akan busuk.

"Saya menduga bahwa banyak penduduk New York yang kehilangan teman atau kerabat sebagai akibat serangan di World Trade Center pada 9 / 11 mungkin telah bereaksi terhadap berita bahwa Muslim berencana untuk mendirikan sebuah Masjid atau pusat keagamaan di lingkungan itu sama seperti saat saya bereaksi dengan pemandangan para wisatawan Jepang di Arizona ... Beberapa dari mereka di New York mungkin memiliki pikiran kedua, sama seperti yang saya lakukan di Arizona."

Stevens menjabat di Pearl Harbor selama dua setengah tahun selama perang. Dia mencatat ulang tahun ke10 monumen yang didirikan beberapa blok dari Mahkamah Agung, menghormati pengorbanan dan patriotisme Jepang-Amerika, banyak dari mereka secara paksa masuk di kamp-kamp tawanan terpencil selama perang.

Monumen itu "menyampaikan pesan utama yang harus diperhatikan oleh pengunjung Arizona dan peserta dalam perdebatan tentang Masjid New York," kata Stevens. "Pesan itu memberitahu kita untuk berhati-hati terhadap kesimpulan stereotip tentang kelompok orang yang kita tidak tahu dengan baik."

Dalam pidato bulan lalu di Nevada, ia membela perbedaan pendapat pahit dalam kasus Mahkamah Agung 1989 yang menyatakan pembakaran bendera untuk dilindungi  di bawah Amandemen Pertama. Dia mengatakan bahwa membakarnya sama seberbahayanya dan sama ofensifnya seperti membakar salib atau menodai Al-Qur'an.

Simbol tersebut adalah "sesuatu yang wajib dihormati."

Sekarang dia telah pensiun, pria asal Chicago itu mungkin memiliki keleluasaan untuk berbicara lebih terang tentang peristiwa terkini dan topik-topik kontroversial daripada ketika ia  aktif dalam pengadilan dan memutuskan berbagai banding. (iw/cnn) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon