Kamis, 24 Mei 2012

Headlines:

Muslim Jerman Tuntut Persamaan Hak Pelayanan Publik

E-mail Cetak PDF

BERLIN (Berita SuaraMedia) – Muslim Jerman menyerukan pemerintah untuk memberikan imigran Muslim sebuah kuota di dalam pekerjaan layanan publik, menegaskan bahwa hal ini dapat menjadi satu cara yang layak dan praktis untuk menujukan adanya masalah integrasi di dalam masyarakat.

"Sebuah kuota untuk para imigran di dalam layanan publik adalah penting," Aiman Mazyek, pimpinan dari Dewan Pusat Muslim, mengatakan kepada kantor berita harian Neue Osnabrücker Zeitung (NOZ) pada Kamis (4/11) waktu setempat.

Mazyek mengajukan sebuah kuota pasti untuk para imigran di layanan publik seperti kepolisian dan birokrasi.

Pemimpin Muslim membenarkan bahwa sebuah kuota akan menjadi sebuah cara yang sesuai untuk membidik bidang yang dimainkan.

Ia menegaskan bahwa seorang warga Jerman dengan latar belakang imigran akan sering dilewatkan ketika mendaftar untuk pekerjaan layanan publik, mendukung seorang kandidat warga asli Jerman, bahkan jika imigran terkualifikasi lebih baik untuk pekerjaan tersebut.

"Orang-orang dengan latar belakang imigran yang memiliki kualifikasi yang yang dapat diperbandingkan atau bahkan lebih baik, sering kalah."

Mazyek mencatatkan bahwa satuan kepolisian Jerman telah membuka diri mereka sendiri kepada para imigran, yang telah menguntungkan layanan tersebut – dan dapat ditingkatkan dengan kuota.

"Mengapa harus masalah-masalah dari kepolisian tidak diaplikasikan di tempat lain?" ia bertanya.

Jerman adalah rumah bagi hampir 16 juta orang yang asal asing, banyak dari mereka latar belakang Muslim Turki.

Negara tersebut memiliki antara 3,8 dan 4,3 juta Muslim, membentuk sekitar 5 persen dari keseluruhan 82 juta populasi, menurut studi yang dikomisikan pemerintah.

Jerman populasi Muslim terbesar kedua di Eropa setelah Perancis, dan Islam pada posisi ketiga setelah Protestan, Katolik dan Kristianitas.

Pemimpin Muslim mengatakan bahwa membuat ruang untuk para imigran dalam layanan publik adalah satu cara untuk berhadapan dengan krisis integrasi apapun di negara tersebut yang kemungkinan menderita.

Ia mengeluhkan bahwa masalah integrasi dan imigrasi digunakan sebagai senjata politik.

Integrasi akan "tidak ditingkatkan oleh sebuah penggandaan konferensi tingkat tinggi," Mazyek mengatakan, dikabarkan kantor berita harian The Local, menyebutkan wawancara NOZ.

Mazyek juga menuduh partai Kristen Demokrat Kanselir Angela Merkel tidak serius tentang mengatasi masalah-masalah integrasi dan membalikkan akar masalah apapun tentang mengatasi masalah integrasi dan mengubah akar penyebab yang mereka miliki.

Ucapan-ucapannya mengikuti sebuah "konferensi integrasi" nasional yang diadakan pada Rabu waktu setempat dan dihadiri oleh Merkel, pejabat negara dan dewan kota dan para pemimpin komunitas imigran.

Dalam konferensi tersebut, Merkel membela komentar-komentarnya dewasa ini bahwa multikulturalisme telah gagal di Jerman, mengatakan bahwa keanekaragaman telah membuat Jerman menjadi lebih kuat.

Bagaimanapun juga, ia bersikeras bahwa para imigran dan para keturunanya harus belajar berbicara dalam bahasa Jerman dengan tujuan untuk masuk ke dalam "nilai-nilai" Jerman.

"Ini adalah sesuatu yang saya lihat sebagai berlawanan dari apa yang saya maksudkan dengan multikulturalisme.'

Negara ini telah dicengkeram selama beberapa minggu oleh sebuah perdebatan sengit atas imigran Muslim yang melihat banyak alur utama politisi masuk ke dalam kehebohan tersebut.

Kontroversi tersebut dipicu beberapa minggu lalu ketika Thilo Sarrazin, anggota dewan bank sentral Jerman (Bundesbank), telah menuduh imigran Muslim merusak masyarakat yang menjadi kurang cerdas karena mereka.

Sarrazin dipecat dari Bundesbank karena pandangan-pandangannya, namun jajak pendapat telah mengindikasikan bahwa argumennya tentang imigram Muslim, dipublikasikan dalam bukunya yang mencapai penjualan terbaik, menikmati simpati yang besar di antara mayoritas jerman.

Merkel menimbang bulan lalu dengan komentra-komentarnya tentang multikulturalisme yang dikritisi sebagai membakar kontroversi tersebut.

Horst Seehofer, pimpinan dari Persatuan Sosial Kristen (Christian Social Union – CSU), adik partai Demokrat Kristen milik Merkel (CDU), juga menyalakan api dengan seruannya untuk sebuah penghalang bagi imigrasi dari Turki dan negara-negara Arab.

Harian Jerman, Der Spiegel telah memperingatkan pada bulan Agustus bahwa negara tersebut menjadi tidak toleran terhadap minoritas Muslimnya. (ppt/oi) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon