"Hanya sekitar 1.75 juta para jamaah haji asing akan melaksanakan ibadah Haji tahun ini," Saad Al-Quraishi, pimpinan Komite Haji di Majelis Perdagangan dan Industri Jeddah (Jeddah Chamber of Commerce and Industry – JCCI), mengatakan kepada kantor berita Arab News pada Kamis (4/11) waktu setempat.
Tahun lalu, sekitar 2,5 juta jamaah melaksanakan ibadah Haji, salah satu dari lima pilar agama Islam. Jumlah pada tahun lalu biasanya melampaui 3 juta.
Namun Al-Qurashi mengatakan bahwa jumlah yang rendah tahun ini karena daerah yang sedikit yang tersedia untuk tenda-tenda di daerah Mina.
Jamaah harus melakukan perjalanan ke Mina, sebuah daerah bertenda yang benar-benar luas, beberapa kilometer jauhnya dari Ka'bah, pada hari kedua haji, dan meeka menghabiskan malam di sana sampai fajar pada pagi hari berikutnya.
"Daerah yang didesain untuk tenda-tenda telah berkurang sebesar 30 persen," ia menambahkan. "Sebagai akibatnya, ada ruang untuk lebih sedikit tenda untuk para jamaah."
Operator Haji berbagi keluhan yang sama, mengatakan bahwa pengerjaan tersebut telah mempengaruhi bisnis mereka.
"Tahun lalu kami menerima 1.200 jamaah. Hal ini karena kami memiliki ruang untuk mengakomodasi 1.500 jamaah," Mohammed Al-Manjoumi, penyelenggara operator layanan haji Noor Al-Islam mengatakan kepada kantor berita Arab News.
"Tahun ini, ruangan tersebut telah berkurang banyak, kami hanya dapat menampung 1.000 jamaah dan sehingga kami hanya memperbolehkan 700 jamaah untuk memastikan bahwa mereka memiliki sebuah tempat menginap yang aman dan nyaman."
Jumlah yang lebih rendah dari tenda-tenda yang tersedia juga berarti harga-harga lebih tinggi untuk para jamaah.
"Kami telah menyewa tenda untuk 500 jamaah, namun kami telah hanya menerima 400 jamaah," kata Muhannad Al-Ghrabawi, seorang pejabat dengan operator layanan Al-Ashraf.
Muslim dari seluruh dunia tumpah di Mekkah setiap tahun untuk melaksanakan haji, yang diharapkan mencapai klimaks tahun ini pada 15 November ketika umat-umat yang taat tersebut menuruni Gunung Arafah.
Ibadah Haji terdiri dari beberapa upacara, yang berarti menyimbolkan intisari dari agama Islam, dan untuk mengenang cobaan dari Nabi Ibrahim dan keluarganya.
Setiap Muslim dewasa yang secara finansial mampu membiayai perjalan Haji tersebut harus melaksanakan ibadah Haji, satu kali seumur hidup.
Proyek pembangunan tersebut di dekat tempat-tempat suci terlihat sebagai alasan banyak para jamaah dikurangi kesempatannya untuk melaksanakan Haji tahun ini, sehubungan dengan kurangnya daerah yang cukup untuk mengakomodasikan mereka.
"Hal ini karena proyek pembangunan yang bervariasi yang terjadi di sana termasuk proyek monorail," Qurashi mengatakan.
Jamaah tahun ini akan dapat menggunakan tahap pertama dari monorail pertama di Mekkah, dijuluki sebagai "Kereta Ritual Suci".
Kereta tersebut menghubungkan Mekkah dengan tempat suci Mina, Arafah dan Muhdalifah, yang dikunjungi gelombang besar jamaah selama ibadah haji.
Para pejabat percaya monorail tersebut adalah sebuah solusi yang efektif dan dapat berjalan terus untuk memindahkan para jamaah mengelilinngi sebuah kota yang padat dengan bangunan tersebut.
Namun Qurashi percaya bahwa rel tersebut, dan proyek lainnya dalam pembuatannya telah membentuk ulang wajah tempat-tempat suci yang digunakan untuk menerima jutaan jamaah.
Qurashi mengatakan bahwa proyek menara Mina, sebuah proyek akomodasi megah yang dibangun di kaki bukit gunung memeluk kota tenda di lembah Mina, adalah sebuah pengalaman yang sukses untuk memodernkan daerah tersebut tanpa membentuk ulang tempat-tempat suci.
"Mereka telah membangun enam menara pada sebuah gunung yang kosong dan tidak digunakan oleh para jamaah sebelumnya.'
Ia yakin bahwa proyek apapun seharunya mengikuti menara Mina dan dilaksanakan di daerah-daerah yang tidak biasanya digunakan para jamaah.
"Mereka dapay melaksanakan proyek pembangunan mereka di daerah gunung." (ppt/oi) www.suaramedia.com














