Hassen Chalghoumi tiba, diapit oleh dua polisi pengawal berpakaian biasa dan sebuah rombongan kecil, memandang agak malu merasa dirinya berada di tengah-tengah semacam percekcokan tersebut. Ia harus terbiasa dengan hal tersebut sekarang.
Imam 39 tahun dari Masjid Drancy, utara Paris tersebut telah menjadi salah satu dari pemimpin Muslim yang paling ternama di Perancis.
Deklarasi publiknya yang mendukung pelarangan kerudung wajah Nicolas Sarkozy, usahanya untuk meningkatkan hubungan dengan kelompok Yahudi dan peringatannya tentang meningkatnya radikal Islam di Perancis telah membawanya merangkul pendirian Perancis – dan ancaman kematian dari banyak umat Muslim yang kemarahan mereka telah ia provokasi. Untuk rangkulannya terhadap pendirian Perancis, pembelaannya membicarakan keberanian; untuk ancaman kematian tersebut, adalah mencari publisitas opurtunisme dan pengkhianatan.
Demonstrasi kemarahan telah terjadi di luar Masjidnya.
Satu hari sesudahnya ia mengatakan dalam sebuah acara di Drancy – sebuah tempat kamp transit Perang Dunia Kedua yang digunakan untuk mengirim ribuan warga Perancis Yahudi pada kamp kematian Nazi – bahwa "anak-anak Israel dan Ismail adalah sepupu, dan masih tetap sama sampai saat ini", rumahnya dirampok.
Chalghoumis teryakini bahwa ia memiliki dukungan dari moderat yang membisu – mereka di antara imam dan umat yang taat Perancis yang setuju dengan posisinya namun ditakuti oleh rasa takut memicu keramaian, minoritas militan.
"Saya bukan satu-satunya," ia mengatakan. "Saya menerima beberapa ekspresi dukungan dari beberapa imam, namun sayangnya mereka menderita konsekuensi di Masjid mereka. Beberapa dipaksa keluar. Yang lainnya merasa takut menahan penderitaan enam atau tujuh bulan protes di depan Masjid mereka. Ini tidaklah mudah."
Alasan lainnyauntuk kebisuan dari teman-teman imamnya, Chalghoumi mengatakan – seorang warga negara asing yang sudah menerima kewarganegaraan Perancis yang dilahirkan dan dibesarkan di Tunisia – peranan yang penting dimainkan oleh pemerintah asing dalam Islam Perancis.
"Mayoritas imam adalah pengabdi sipil asing," ia mengatakan dengan datar. "Anda dapat menanyakan seorang imam siapa yang dibayar oleh kedutaan Algeria atau Moroko, atau lebih buruk, siapa yang dibayar dari dolar petro dari Emirat – Anda tidak dapat memintanya untuk bebas. Ia tidak dapat dibebaskan."
Ini adalah sebuah argumen yang lagi-lagi timbul di dalam buku Chalgoumi yang baru "For A French Islam", yang di dalamnya ia memperingatkan bahwa keengganan Perancis sekuler untuk melibatkan dirinya sendiri dalam pelatihan imam yang berarti sebuah mayoritas Muslim menempatkan peribadatan yang dikendalikan oleh orang-orang asing yang memiliki sedikit pemahaman dari nilai-nilai repulikan.
"Sayangnya, Islam Perancis telah dilupakan selama 50 tahun. Sekulerisme bukanlah sebuah alasan untuk menjual kedaulatan negara," ia mengatakan, suaranya meningkat ketika menjadi lebih terhidupkan.
"Baik seharusnya memperbolehkan negara untuk sub-kontrak Islam Perancis untuk pemerintah asing atau sekte ekstrimis."
Kritisi moderat Chalghoumi, telah mengasingkan banyak dari anggota pemikiran yang serupa dari komunitas tersebut dengan berbicara terlalu secara provokatif.
Posisi publik Imam tentang pelarangan kerudung wajah juga menempatkannya dalam sebuah posisi yang kaku, membela gagasan seorang presiden yang secara luas disegani oleh Muslim muda di pinggiran kota.
Ia berhati-hati untuk tidak mengidentifikasi dirinya sendiri dengan Sarkozy – dalam percakapan satu jam lamanya, ia tidak menyebutkan nama presiden itu sekalipun – dan sedang kesakitan akan "penderitaan sosial" di pinggiran kota dan "kegagalan" kebijakan pemerintah tentang integrasi.
Sementara ia melihat pelarangan burqa tersebut sebagai sebuah tindakan praktis – "Wajah Anda adalah identitas Anda" – ia merasa tersinggung bahwa kerudung tersebut membantu menggalakkan prasangka kritik Islam.
"Mereka mengatakan bahwa para wanita diperlakukan dalam cara ini, bahwa ia memiliki tempatnya di dalam Islam. Dan kita memberikan mereka buktinya. Saya mengatakan, tidak, itu bukan Islam. Ini bukan semangat Islam."
Ketika protes di Masjid Drancy mulai pada awal tahun ini, anggota yang setia dari komunitas tersebut mengambil giliran bergantian untuk menjaga rumah Chalgoumi pada malam hari.
Sekarang ia memiliki perlindungan siang dan malam dar pengawal yang disediakan oleh kementerian dalam negeri. Rutinitas keseharian saya tidak mudah baru-baru ini – ini adalah kewaspadaan yang konstan, sayangnya … Namun saya berusaha menunjukkan anak-anak saya bahwa segala sesuatu akan berjalan sangat baik dibalik ini semua.
"Anda harus memiliki keberanian. Ini untuk mereka saya melakukan semuanya – untuk istri saya, untuk anak-anak saya di masa depan." (ppt/it) www.suaramedia.com














