Kemarin, Cherie Blair, yang adiknya Lauren Booth baru-baru ini berindah agama masuk Islam, memicu perdebatan dengan mengumumkan dukungannya untuk para wanita yang memilih untuk mengenakan kerudung (walaupun ia tidak mendukung penutupan wajah).
Statistik pada jumlah wanita yang mengenakan niqab di Inggris sulit untuk diuji. BeLgia dikabarkan mencatat 215 pemakai burqa dan Peranacis memperkirakan jumlahnya antara 367 dan 2.000 dari keseluruhan lima juta Muslim.
Namun, secara anekdot burqa di jalanan London telah menjadi lebih umum. Knightbridge adalah rumah untuk sejumlah wanita Arab kaya yang mengenakan jilbab tersebut di tempat publik, sementra di kantung London timur, beberapa wanita Muslim bekerja dan melakukan perjalanan hampir tidak diperhatikan mengenakan niqab. Namun apakah hal tersebut benar-benar berarti bahwa kota tersebut menjadi lebih "teradikalisasi"?
Shaista Gohir, direktur eksekutif dari Jaringan Wanita Muslim Inggris merasa tidak yakin: "Tidak, Niqab, dari pertama, adalah sebuah fenomena minor. Ya, Muslim menunjukkan identitas mereka secara terus terang semenjak 9/11 dan 7/7 namun mereka juga telah berada di bawah pengamatan politik yanglebih berat. Jilbab tersebut telah hamper menjadi sebuah perisai spiritual dan fisik."
Gohir adalah salah satu dari beberapa wanita Muslim yang juga mengakui bahwa "niqab adalah sebuah penghalang kounikasi, hubungan komunitas dan integrasi."
Belgia menjadi Negara Eropa pertama yang menyatakan tidak sah pada burqa dan legislasi Perancis sekarang mendikte bahwa burqa adalah sebuah pelanggaran kriminal "untuk menyembunyikan wajah seseorang di depan publik".
Namun sebuah laporan yang dipublikasikan oleh kelompok think tank Civitas menyarankan bahwa di Inggris setidaknya, kerudung tersebut seharusnya diterima sebagai bagian dari sebuah gaya hidup Inggris dan dihakimi secara kegunaan, bukan secara ideologi. Berkebalikan dengan Italia, Spanyol dan Belanda, di mana pelarangan negara dipertimbangkan, laporan Civitas tersebut (berjudul: Women, Islam and Western Liberalism) merekomendasikan bahwa kecuali secara fisik "menghalangi kemampuan warga negara untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban sipil publik mereka", para wanita sendiri seharusnya menentukan apa yang mereka kenakan.
Fatima Barktulla, 31, seorang ibu dari tiga anak yang sedang hamil yang lahir dan dibesarkan di Hackney, menjelaskan: "Saya memulai dengan mengenakan jilbab, namun ketika saya menikah, saya ingin mengenakan niqab … ini bukan sebuah penolakan kepada masyarakat, atau sebuah upaya untuk menjadi berbeda. Ini bukan pula sebuah pernyataan politik."
Ketika ditanya apakah ia merasa diterima seperti itu, ia menjawb: "Tidak, saya tahu siapa yang mengenakan niqab, melakukan hal tersebut untuk membuat sebuah inti yang besar. Ini adalah sebuah hal yang pribadi, keyakinan spiritual. Dan saya tahu bahwa niqab adalah sebuah pilihan yang berbudi luhur dan ini bukanlah sebuah kewajiban."
Barktullah mengatakan bahwa mengenakan niqab hanya membiarkannya untuk merasa lebih dekat kepada Tuhan. "Ini tidak bertentangan dengan keadaan saya yang menjadi seorang berkebangsaan Inggris," ia bersikeras. "Saya mencintai negara ini – negara ini adalah rumah saya. Orang tua saya dan orang tua suami saya dating dari India namun hal ini asing untuk kita."
Kesederhanaan dalam Islam adalah kunci untuk keduanya, para pria dan wanita. Namun sebagian besar cendikiawan Islam setuju bahwa adopsi untuk niqab di antara wanita Muslim lebih berhubungan dengan kebudayaan daripada lebih berhubungan dengan agama. Tujuannya adalah untuk mengurangi daya tarik seksual seorang wanita. (ppt/til) www.suaramedia.com















