Selasa, 21 Mei 2013

Headlines:

Warga New York Bersatu Bela Muslim Dalam Kontroversi Pemakaman

E-mail Cetak PDF

SIDNEY CENTER, New York (Berita SuaraMedia) – Pemakaman yang terbaring di bahwa sebuah sekelompok pohon mapel di atas sebuah bukit yang melihat ke bawah pertanian. Pada suatu hari yang kering di tahun 2009, pemakaman tersebut menerima tamu pertamanya – seorang pembuat batu 28 tahun yang terbunuh dalam sebuah kecelakaan mobil dua hari sebelumnya.

Dengan wajah sedih, para sadara-saudara Muslim-nya mengangkut peti matinya ke atas bukit tersebut, surban mereka yang berwarna-warni dan tunik longgar benar-benar berlawanan dengan bukit di sekitarnya. Di abawah sebuah batu nisan hijau – warna yang dipesan Osmanli Naksibendi Hakkani, yang menjalankan sebuah pertanian 50 hektar dan Masjid di kota tersebut – mayat Amir Celoski yang ditutupi tersebut diturunkan di tanah. Para peziarah menundukkan kepala dan berdoa: semoga ia beristirahat dengan damai.

Namun tidak seperti itu jadinya.

Di samping perdamaian, pemakaman Celoski menyulut sebuah perang – satu yang akan meledak dalam sembilan bulan kemudian, mencampakkan Sydney menjadi sorotan nasional, secara pahit memisahkan beberapa penduduk sementara mengubah yang lainnya yang mengatakan kehidupan mereka dan kota mereka tidak akan pernah sama lagi.

Semuanya dimulai dengan cukup diam-diam di sebuah pertemuan yang jarang dihadiri oleh Dewan Penyelia musim panas lalu, setelah sebuah pemakaman kedua di pemakaman terebut. Pada memanasnya sebuah perdebatan nasional tentang sebuah Masjid di dekat Ground Zero, para pemimpin kota memilih secara bulat untuk menyelidiki pemakaman Muslim tersebut.

Para Muslim tersebut telah mengikuti prosedur yang sesuai dan menerima ijin pemakaman. Namun hal tersebut tidak menghalangi Penyelia kota, Robert McCharty menyerukan pemakaman tersebut sebagai illegal  dan membisikkan bahwa mayat-mayat tersebut kemungkinan harus digali lagi.

"Anda tidak bisa begitu saja mengubur nenek di halaman belakang di bawah meja piknik," ia mengatakan.

Dengan hal tersebut, McCharty, seorang pensiunan pebisnis, menjadi sebuah simbol poster untuk penghancuran Muslim di mana saja. Pemandu acara MSNBC, Keith Olbermann mencelanya sebagai "orang terburuk di dunia." Penyindir Stephen Colbert dengan berani memperingatkan para penonton tentang vampir Muslim "tidur di dalam sel peti mati" manyusupi Catskill.

Penduduk lokal  yang menonton dengan perasaan horor seperti Sidney dilabeli sebagai pelaku Islamophobia, terbelakang dan dungu.

"Benar-benar memuakkan." Kata jaksa Tom Schimmerling, 58 tahun, anak dari korban Holocaust yang selamat, yang dengan segera menawarkan untuk mewakili para Muslim tersebut bebas biaya. "McCharty bertindak seolah-olah ini adalah Selma, Alabama di tahun 1960-an dan ia adalah Bull Connor".

"Pada awalnya, saya merasa begitu malu akan kota saya," kata Richard Cooley, 48 tahun, yang toko perhiasan di Main Street miliknya telah berada di dalam keluarga tersebut selama 125 tahun. "Dan kemudian saya melihat komunitas tersebut bereaksi dan saya pikir betapa hebatnya cara kita berkumpul untuk menjauhkan sesuatu begitu salah dan membuatnya menjadi benar."

Selama beberapa hari dan pekan yang menyusul, sebuah pemikiran misi bersemangat yang hampir memabukkan nampaknya muncul di seluruh Sidney, 150 mil dari Kota New York. Walaupun Dewan Penyelia kota tersebut dengan tergesa-gesa menjatuhkan masalah pemakaman tersebut, dewan tersebut telah merancang dalam menggerakkan sesuatu yang tidak bisa ditampung. Orang-orang menjangkau, tidak hanya pada Muslim, namun juga satu sama lain. Mereka menyusun website, berikat dengan Facebook, meluncurkan petisi untuk mendakwa McCharty dan menyelidiki pemerintahan kota.

Mereka berkumpul di dalam pusat sipil untuk sebuah pertemuan kota yang kacau, di mana – sebanyak lebih dari satu lusin Muslim menyaksikan – sekitar 150 penduduk lokal berteriak pada dewan mereka. "Memalukan!" mereka berteriak. "Mintalah Maaf!"

Banyak dari mereka belum pernah menghadiri sebuah pertemuan kota sebelumnya. Banyak dari mereka belum pernah bertemu seorang Muslim.

Dan mereka berjalan kaki ke pusat Islam delapan mil di luar kota, untuk minum teh bersama Sheikh, untuk bersumpah bahwa Sidney, dengan populasi 6.000 jiwa, akan menjadi berada di dalam sorotan kembali, saat ini sebagai sebuah contoh yang memukai akan toleransi dan saling memahami. (ppt/clv) www.suaramedia.com

Sejarah Islam

Husen Bin Salam, Pendeta Yahudi Dengan Panggilan Islam Dihatinya
Ketika pertama kali mendengar kedatangan Nabi, H...More »

Berita Gadget Terkini

Apple Ingin Lepas Ketergantungan Terhadap Samsung
Dilansir BGR, analis teknologi dari firma RBC Ca...More »

Keajaiban Dunia

Sejarah Seribu Satu Malam Terancam Serangan Turis
Benteng tersebut membuka sejarah Irak ribuan tah...More »

Otomotif Terbaru

Zoe, Mobil Cantik Besutan Perusahaan Kosmetik
Sistem sirkulasi udara pada mobil tersebut, memb...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon