Angka-angka yang dirilis pekan lalu menunjukkan semua anak-anak usia sekolah di delapan provinsinya bersekolah di sekolah dasar, dan angka kehadiran di sekolah menengah pertama telah mencapai 95,5 persen.
"Hal ini menunjukkan bahwa menyekolahkan anak-anak gadis, sebuah masalah yang telah mengusik kita selama berpuluh-puluh tahun, terselesaikan untuk beberapa jangkauan," kata Ma Yongming, deputi pimpinan pendidikan di Linxia.
Linxia, dengan sebuah populasi 2 juta, dijuluki dengan "Mekkah-nya China" karena lebih dari setengah penduduknya adalah Muslim.
Sampai pertengahan tahun 1990-an, hanya sekitar 60 persen dari para anak gadis di daerah tersebut pergi ke sekolah. Pendidikan yang tidak memadai menyebabkan 80 persen para perempuan yang berusia 15 tahun ke atas buta huruf.
"Sementara beberapa orang tua menolak untuk mengirim para anak gadisnya ke sekolah karena kemiskinan, banyak yang lainnya percaya bahwa sia-sia saja menghabiskan uang untuk para putri mereka, yang akan dinikahi dan masuk ke keluarga orang lain dan tidak akan ada pengembalian untuk investasi semacam itu (pendidikan)," kata Ma.
Bagaimanapun juga, para anak laki-laki sering diperlakukan dengan cara berbeda.
"Para orang tua jarang merasa ragu untuk mengirim anak lelaki mereka ke sekolah," kata Yang Yuwen, wakil presiden Sekolah Dasar Desa Beiling. "Namun beberapa enggan untuk mengirim putri mereka ke sekolah bahkan jika sekolah tersebut gratis."
Dalam memastikan akses yang setara untuk menyekolahkan anak-anak mereka, departemen pendidikan provinsi Gansu meluncurkan sebuah proyek penelitian gabungan Sino-Inggris pada tahun 1999. Proyek enam tahun tersebut atas dasar pendidikan yang ditujukan untuk meningkatkan fasilitas sekolah dan standar pengajaran di Linxia.
Proyek tersebut juga menawarkan beasiswa untuk para gadis dan melatih para wanita muda untuk menjadi guru-guru yang kompeten di sekolah-sekolah desa.
Mulai tahun 2006, pemerintah China menyingkirkan halangan terbesar yang membuat anak gadis menjauh dari sekolah, dengan membebaskan biaya untuk semua siswa sekolah dasar dan sekolah menengah di kawasan-kawasan bagian barat yang terbelakang.
Para pejabat di Linxia mengambil kesempatan untuk mencuci otak para orang tua agar mendaftarkan anak-anak mereka di sekolah.
"Siswa yang putus sekolah dilaporkan pada otoritas pendidikan dan pemerintah lokal akan menganggap orang tua mereka bertanggung jawab," Ma Yongming mengatakan. "Kami tetap mengunjungi para orang tua yang anaknya putus sekolah tersebut sampai mereka mengirim anak-anak mereka kembali ke sekolah."
Pada tahun lalu, hampir semua anak-anak usia sekolah di Linxia bersekolah, kecuali beberapa yang secara mental terbelakang atau secara fisik tidak mampu, ia mengatakan.
Pemerintah pusat China meluncurkan kebijakan pendidikan dasar sembilan tahun pada 1986, membuat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama sebagai kewajiban untuk anak-anak usia lebih dari enam tahun.
Namun bagi Ma dan para koleganya di kawasan-kawasan terbelakang, masih menyisakan rasa sakit untuk membuat anak-anak tetap berada di sekolah. "Ini masih merupakan sebuah tantangan selama bertahun-tahun mendatang." (ppt/xh) www.suaramedia.com
- Muslim Staten Island: Sidang King "Nasihat Jelek" Bagi Islam
- "Guantanamo Utara", Penjara Rahasia yang Dibanjiri Muslim
- Dosen Muslim Cabut Pernyataan Kontroversi Evolusi
- Muslim AS Tawarkan Hadiah Untuk Informasi Penembakan Sikh
- Perilisan Tragedi 7 Juli Dikhawatirkan Berujung Aksi Anti-Muslim













