Pada Selasa lalu, para pejabat kota menggabungkan para pemimpin hak-hak sipil, perwakilan dari Koalisi Kebebasan Sipil Muslim Amerika (Muslim American Civil Liberties Coalition – MACLC), organisasi Muslim dan imigran dan kelompok antar agama untuk menyuarakan kekhawatiran mereka atas Departemen Kepolisian New York (New York Police Department – NYPD)menggunakan sebuah film kontroversial tentang Islam dan Muslim untuk melatih para petugas yang bekerja di dalam komunitas Muslim.
Film dokumenter tersebut, "The Third Jihad," baru-baru ini diberitakan oleh The Village Voice dan digambarkan sebagai sebuah kibasan horor anti-Muslim, dilihat sebagai mengotori Muslim dan Islam.
Film 72 menit tersebut mengeksplorasi keberadan Islam di Amerika dan menggambarkan Islam dan Muslim di dalam sebuah cara yang menyinggung dan berprasangka, para pejabat MACLC menyatakan. Mereka mengklaim bahwa menggunakannya sebagai bagian dari pelatihan NYPD akan menuntun pada peningkatan penggolongan rasial dan keagaman.
"Kami di sini hari ini untuk meminta departemen kepolisian meluruskan kesalahannyan," kata Anggota Dewan Daniel Dromm. "Ini adalah sebuah dasar premasalahan hak-hak sipil."
Pendeta Chloe Breyer dari Pusat Antar Agama New York menggemakan pendirian persatuan tersebut.
"Kita akan melakukan ini bersama – Muslim, Yahudi, Kristen, Sikh, dan mereka yang tidak memiliki tradisi keagamaan. Kita membutuhkan satu sama lain dan merupakan hal yang salah bagi siapa saja, terutama kepolisian, untuk mengabadikan stereotip kebencian yang mengadu komunitas yang satu terhadap komunias lainnya," kata Breyer.
Hadir dalam acara tersebut adalah profesor Sekolah Hukum Universitas New York, Ramzi Kassem,yang menyatakan bahwa memasukkan bahan-bahan kebencian di dalam program pelatihan NYPD tidak dapat diterima karena "resikonya jauh lebih serius."
Kita membircarakan tentang petugas kepolisian yang lebih mungkin, menerima pelatihan tersebut, untuk menarik pemicunya dengan segera dari yang sebaliknya kemungkinan mereka alami ketika berhadapan dengan Muslim atau orang-orang yang bagi mereka seperti Muslim. Nyawa yang jadi taruhannya. Dan untuk alasan demikian, kami meminta kota kami dan kepolisian kami untuk pertanggungjawaban," kata Kassem.
NYPD tidak menujukan adanya kekhawatiran mereka dan tuntutan mereka, perwakilan MACLC menyatakan. Setelah MACLC mengirimkan dua surat kepada NYPD, dan mengadakan sebuah pertemuan dengan perwakilan NYPD, mereka hanya menerima sebuah surat singkat dari Komisaris Raymond Kelly menyatakan bahwa video tersebut tidak lagi digunakan.
Para pembicara di acara tersebut menyoroti bahwa hal ini bukanlah sebuah insiden terisolasi yang menargetkan Islam dan komunitas Muslim kota tersebut.
Direktur Advokasi di Persatuan Kebebasan Sipil New York, Udi Ofer, merujuk pada sidang dengar pendapat yang diadakan oleh Anggota Kongres Peter King, penggunaan instruksi dan bahan-bahan yang berprasangka, penggolongan keagamaan, dan radikalisasi komunitas Muslim.
Ofer meminta "NYPD dan Komisari Kelly untuk menolak penggunaan stereotip dan pengasingan Muslim untuk pengawasan secara ketat berdasarkan keyakinan agama mereka."
Ia meminta "NYPD untuk sepenuhnya menjelaskan peranannya dalam mendukung sidang dengar pendapat Anggota Kongres Peter King dalam Muslim Amerika," dan bahwa NYPD "harus memperjelas bahwa pihaknya menolah penggolongan keagamaan sekali dan seterusnya."
Dromm menyatakan bahwa tidaklah cukup untuk semata menghentikan menggunakan film tersebut untuk pelatihan NYPD.
"Mereka harus mendidik ulang para petugas kepolisian yang menonton film tersebut dan mengatakan kepada para petugas kepolisian tersebut bahwa, 'Kami salah menginformasikan Anda tentang siapa sebenarnya anggota komunitas Muslim itu'," kata Dromm.
"Lagipula, kami harus memiliki masukan komunitas kedalam apa yang departemen kepolisian tunjukkan kepada para anggota baru mereka sehingga kami mengetahui bagaimana Muslim digambarkan di masa mendatang," kata Dromm.
Anggota Dewan Robert Jackson, Melissa Mark-Viverito, Jumanee Williams, dan Charles Barron yang hadir dalam konferensi pers secara bulat mendukung pendirian tersebut. Mereka meminta NYPD untuk lebih banyak tranparansi tentang kurikulum pelatihan dan proses pemilihan bahan-bahan untuk melatih para petugas tentang Islam dan Muslim.
"Kami harus dimasukkan di dalam percakapan bagaimana komunitas kami akan digambarkan," kata Mark-Viverto. (ppt/ept) www.suaramedia.com
- Allahuakbar,Mimpi Dua Kalimat Syahadat Bimbing Areeb Masuk Islam
- Akui Sulut Perang Kristen - Muslim, Pria AS Menanti Ganjaran
- Otoritas Transportasi Ajukan Banding Dalam Kasus Iklan Anti-Islam
- Cope Coba Redakan Ketakutan Muslim Atas Debat Islam
- Lagu Islami Anak-Anak Bikin Partai Wilders Meradang













