Selasa, 21 Mei 2013

Headlines:

Sekolah Islam "Pelatihan Kebencian" Menuai Kontroversi

E-mail Cetak PDF

FAIRFAX, AS   (Berita SuaraMedia) - Selama bertahun-tahun, suara anak-anak terdengar keluar dari area bermain di Akademi Islam Saudi di sebuah kota 20 mil barat Washington. Namun setahun lalu kampus tersebut telah menjadi senyap karena pejabat akademi sedang mengusahakan izin untuk mendirikan bangunan kelas baru dan memindahkan ratusan siswanya ke sebuah daerah di Fairfax County.

Proposal dari satu-satunya sekolah AS yang dibiayai oleh pemerintah Saudi di AS ini telah memicu perdebatan dan menyebabkan hubungan yang kurang nyaman di wilayah tersebut.

Banyak warga yang tinggal di dekat kampus sebesar 34 hektar sepanjang Popes Head Road, sebuah jalan kecil yang sempit yang menghubungkan dua jalur sibuk, mengatakan mereka menentang pembangunan ini karena mereka takut akan membawa lebih banyak mobil, bis sekolah, dan tanah yang akan diaspal untuk parkir yang lebih banyak.

Beberapa lainnya menuduh kampus itu mengajarkan sebuah interpretasi Islam fundamentalis yang dikenal sebagai Wahhabisme. Sebuah leaflet secara rutin dibagikan di kotak surat di awal musim semi, berisi tuduhan yang menyebut sekolah itu "sebuah akademi pelatihan kebencian."

James Lafferty, ketua koalisi dari orang-orang dan kelompok yang bertentangan dengan sekolah itu, mengatakan bahwa ajaran mereka menyebabkan intoleransi, dan yang seharusnya tidak boleh ada, apalagi berkembang."Kami mengetahui bahwa dalam madrasa manapun, pasti mengajarkan anak muda Muslim ajaran ekstrimis dan kekerasan," tuduh Bapak Lafferty.

Pejabat sekolah dan orangtua berkata bahwa mereka bingung dan frustrasi oleh tuduhan tanpa bukti seperti itu. Akademi itu tidak berbeda dengan sekolah-sekolah agama lainnya, kata mereka, dan mendidik siswa yang akan melanjutkan bersekolah ke tingkat atas, bahkan mengajar Bahasa Arab ke tentara AS.

Kamal S. Suliman, 46, insinyur lalu lintas negara dengan tiga anak perempuan yang bersekolah di akademi itu, menyebut tuduhan tersebut "taktik ketakutan dan stereotip."

"Masalah Ideologis tidak termasuk dalam urusan ini," ujar Bapak Suliman. "Saya berharap yang berkepaladingin akan menang," dan bahwa keputusan tentang perluasan itu "akan dibuat berdasarkan fakta-fakta."

Komisi Perencanaan Fairfax County akan memberikan suara pada hari Kamis atas permintaan sekolah untuk pembebasan zonasi untuk memperbolehkan konstruksi bangunan kelas baru.

Hazel Rathbun, seorang Yahudi yang tinggal di dekat kampus Fairfax sejak 1971, mengatakan dia khawatir tentang keselamatan lalu lintas dan banjir kendaraan di jalan berliku-liku itu, dan mengkritik sekolah Muslim itu  "penuh kebencian "dan tidak relevan. "Itulah yang kami lihat sebagai masalah yang sangat nyata bagi kami," kata Ibu Rathbun.

Pemerintah Saudi membeli properti yang dahulunya merupakan  akademi Kristen, pada tahun 1984. Mereka juga menyewa sebuah gedung sekolah di wilayah Alexandria.

Pada tahun 1990-an, akademi itu membeli properti di Loudoun County, sekitar 25 mil barat laut dari Fairfax. Diatas protes dari warga setempat, mereka berencana untuk mendirikan kampus dengan 3.500 siswa dalam 12 kelas, namun mereka mengubah rencana itu pada tahun 2004. Mereka memutuskan untuk membangun di situs Popes Head Road, di mana kelas-kelas dibuka untuk anak muda pra-taman kanak-kanak hingga kelas satu.

Pada tahun 2007, akademi tersebut memberitahu pemerintah lokal atas rencana pembangunan, dan tahun lalu, mereka memindahkan murid-murid mereka dari bangunan yang disewa di Alexandria. Pejabat akademi berharap untuk menggabungkan kedua kampus menjadi sebuah sekolah "karya seni" di Fairfax, kata Abdulrahman R. Alghofaili, direktur umum sekolah.

Hingga 11 September 2001, akademi itu menarik sedikit perhatian, namun tidak lama setelah serangan teroris, Israel menuduh dua lulusan sekolah itu melakukan bom bunuh diri, sedang satu siswa difitnah telah berbohong ketika mengisi aplikasi paspor, dan harus menerima empat bulan hukuman penjara.

Pada tahun 2003, Ahmed Omar Abu Ali ditangkap di Arab Saudi, di mana dia telah pergi untuk belajar, dan dua tahun kemudian telah divonis di Pengadilan Distrik Federal di Alexandria atas konspirasi melakukan terorisme, termasuk berkomplot untuk membunuh Presiden George W. Bush. Dia dihukum 30 tahun penjara.

Bapak dari keluarga Abu Ali menyebut tuduhan tersebut sebagai "dusta", dan pengacara mereka mengatakan dia disiksa ketika ia ditahan di Arab Saudi.

Lagipula, seluruh sekolah tidak boleh disalahkan untuk tindakan salah satu atau dua siswanya. Mereka menyebutkan bahwa tidak ada satu  orang yang menyalahkan Virginia Tech atas pembunuhan masal dengan senjata api yang dilakukakn Cho Seung-Hui.

Tahun lalu, Komisi Kebebasan Agama Internasional AS, yang independen, disokong oleh agensi federal menuduh sekolah tersebut mempromosikan kebebasan agama dalam kebijakan luar negeri AS, dan menyimpulkan bahwa teks yang digunakan di sekolah yang "menunjukan kekerasan" dan intoleransi.

Pejabat Sekolah menolak temuan mereka, dan menyatakan komisi salah menginterpretasi dan menterjemahkan bahan pengajaran yang lama. Sekolah sekarang mencetak sendiri bahan ajarnya dan tidak lagi menggunakan kurikulum resmi Saudi, ujar  Rahima Abdullah, direktur pendidikan akademi.

"Kami memiliki ratusan siswa dan ratusan orang tua siswa yang mengirim mereka ke tempat ini berharap untuk mendapatkan pendidikan," ujar Bapak Alghofaili, direktur umum. "Ini tidak masuk akal bahwa orang tua mereka akan mengirim anak-anak mereka ke tempat untuk belajar bagaimana membenci atau membunuh orang lain."

"Adalah media yang bertanggung jawab atas segala fitnah yang kami (Muslim) terima."

Ketua Komisi Perencanaan Fairfax, Peter Murphy, menjawab pertanyaan tentang agama, politik dan diplomasi adalah "gangguan" yang tidak termasuk dalam pembahasan tentang apakah akademi harus diperbolehkan untuk berkembang atau tidak.

"Apapun yang terjadi, beberapa orang akan senang dan beberapa orang tidak akan bahagia" pada pemungutan suara hari Kamis, Bapak Murphy mengatakan. "Saya tidak mendasarkan kasus ini atas kebahagiaan. Saya melakukan atas dasar masalah penggunaan tanah." (iw/nyt) Dikutip oleh www.suaramedia.com

Sejarah Islam

Husen Bin Salam, Pendeta Yahudi Dengan Panggilan Islam Dihatinya
Ketika pertama kali mendengar kedatangan Nabi, H...More »

Berita Gadget Terkini

Apple Ingin Lepas Ketergantungan Terhadap Samsung
Dilansir BGR, analis teknologi dari firma RBC Ca...More »

Keajaiban Dunia

Sejarah Seribu Satu Malam Terancam Serangan Turis
Benteng tersebut membuka sejarah Irak ribuan tah...More »

Otomotif Terbaru

Zoe, Mobil Cantik Besutan Perusahaan Kosmetik
Sistem sirkulasi udara pada mobil tersebut, memb...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon