Jumlah umat Muslim di Jerman adalah 5% dari total penduduknya sebesar 80 juta jiwa, 2% lebih banyak dari perkiraan sebelumnya, menurut survei awal Muslim Jerman.
Muslim di Jerman adalah minoritas terbesar di negara tersebut dan terbesar kedua di Eropa setelah Perancis. Meskipun mereka telah berimigrasi ke Jerman sejak 1960an, Muslim Jerman terus menderita berbagai problem sosial, seperti pengangguran, kurangnya pendidikan dan perwakilan politik.
Mayoritas umat Muslim Jerman taat sekali dalam menjalankan ajaran agamanya namun mereka juga menghadapi sejumlah penghalang dalam integrasi sosial akibat adanya aturan-aturan seperti pemisahan laki-laki dan perempuan serta akomodasi religius di sekolah.
Data yang diambil dari 17.000 warga di 6.000 rumah tangga menunjukkan bahwa 45% Muslim Jerman berkewarganegaraan Jerman melalui kelahiran atau naturalisasi dan karena itu memiliki hak suara dalam pemilu.
Survei juga menunjukkan bahwa 91% Sunni dilarang memakan daging babi dan minum alkohol, sementara di antara orang Syiah tingkatnya 60%.
Kurangnya Integrasi
Tahun 2006 pemerintah Jerman mulai fokus untuk merangkul warga negaranya yang Muslim di tengah kekhawatiran tumbuhnya terorisme dalam negeri. Namun mereka menemukan bahwa ternyata mereka kekurangan informasi dasar tentang populasi itu, inilah yang kemudian mengarah pada pelaksanaan survei nasional pertama.
Meskipun lebih dari separuh Muslim yang disurvei adalah anggota sejumlah organisasi, seperti klub olahraga atau perkumpulan orangtua, bukanlah sebuah indikasi yang cukup kuat akan adanya integrasi sosial ketika banyak Muslim yang menjadikan sekolah-sekolah umum di Jerman sebagai kekhawatiran utama mereka.
Kurangnya akomodasi keagamaan di kelas-kelas agama dan digabungnya siswa laki-laki dan perempuan dalam satu kelas adalah dua dari sejumlah isu utama yang dihadapi generasi muda Muslim di Jerman.
Sepuluh persen Muslimah menghindari aktivitas ekstrakurikuler seperti berenang atau perjalanan menginap karena sekolah tidak memisah siswa laki-laki dan perempuan.
Survei tersebut juga menemukan bahwa Muslim Jerman menghadapi persoalan pengangguran dan rendahnya pendidikan, terutama di antara remaja Turki yang berhenti sekolah untuk bekerja.
Tujuh puluh lima persen orang tua yang menjalani survei mengatakan bahwa mereka lebih memilih kelas-kelas islami dan keberatan akan asrama gabungan dan kolam renang.
Muslim Jerman telah berusaha mengatasi sendiri persoalan kurangnya integrasi itu. Institut Buhara, sekolah Muslim pertama yang melatih pemimpin-pemimpin keagamaan di Jerman, menawarkan pelatihan bagi umat Muslim yang menggabungkan prinsip-prinsip Islam dengan budaya eropa kontemporer.
Menteri Interior Jerman Wolfgang Schaeuble baru-baru ini berusaha meningkatkan integrasi sosial penduduk Muslim di negara itu, menyerukan lebih banyak kesetaraan hukum bagi Muslim Jerman dan penguasaan bahasa Jerman sebagai faktor-faktor utama penjamin integrasi kaum agama minoritas.
"Muslim harus memiliki hak-hak yang sama karena negara kita menjamin kebebasan beragama dan hal itu tidak terbatas pada satu sudut pandang dunia," ujar Schaeuble dalam pidatonya di Universitas Kairo, menambahkan bahwa umat Muslim harus menerima konstitusi demokratis "tanpa syarat". (ri/aby) www.suaramedia.com














