Di akhir 2007, pemerintah Irak mengontrak sebuah perusahaan Turki untuk membangun ulang tempat ibadah tersebut, namun kemudian menghentikan kontrak tersebut dengan alasan mereka tidak memenuhi syarat dan mengatakan bahwa perusahaan tersebut akan membutuhkan waktu lebih lama dibanding yang diperkirakan untuk menyelesaikan proyek tersebut.
Pada 9 April, 2008 kontraktor Irak mulai mengerjakan untuk memindahkan puing-puing. Begitu tiba musim panas 2009, mereka telah membangun ulang kubahnya dan menaranya, yang dijadwalkan untuk dilapisi dengan emas yang akan diperkirakan selesai pada akhir bulan Ramadhan.
Pekerjaan rekonstruksi tersebut telah diharapkan akan memakan waktu paling lama dua tahun.
Sebuah komisi pemerintahan menjadi penanggung jawab dalam proses pekerjaan tersebut yang meliputi berbagai kementerian. proyek rekonstruksi tersebut dipublikasikan oleh pemerintah dan penduduk Samarra sebagai contoh eratnya persatuan paska serbuan AS, oleh kedua kelompok Sunni dan Syiah yang bekerja sama untuk membangun kembali tempat ibadah tersebut.
Pada pukul 6:55 pagi tanggal 22 Februari 2006, dua ledakan membelah tempat ibadah yang paling di hormati, Masjid al-Askari di Samarra, utara Baghdad, mengubah arah jalur dari konflik di Irak.
Serangan di Samarra tersebut membuat kedua pihak saling lempar tuduhan, namun dapat berakhir dengan baik.
Serangan bom tersebut menyebabkan kubah dari Masjid jatuh dan terpecah menjadi puluhan ribu bagian dari pecahan emas yang tersebar.
Meskipun menjadi salah satu dari tempat ibadah bagi penganut Syiah, al-Askari berlokasi di sebuah kota yang didominasi oleh masyarakat Sunni; peziarah Shia secara teratur melakukan perjalanan dan berziarah tanpa ada masalah untuk selama 1,100 tahun.
Perang yang lalu berpindah ke jalanan dari ibukota Baghdad, akhirnya memaksa George Bush, presiden AS pada saat itu, untuk mengakui kekalahan dan perubahan taktik AS di Irak.
Pengelola dan perlindungan dari al-Askari jatuh di tangan Sunni Endowment, sebuah badan pemerintahan yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan dari Masjid Sunni dan pendirian pusat religi di seluruh negara.
Kompleks tersebut terdiri dari kuburan Ali al-Hadi, yang meninggal pada tahun 868 dan puteranya, Hassan al-Askari, yang meninggal pada tahun 874. (iw/ajz) Dikutip oleh www.suaramedia.com











