Sabtu, 04 September 2010

Headlines:

Pangeran Libya Ditahan, Swiss Terancam Musnah Dari Peta

E-mail Cetak PDF
BERN (Berita SuaraMedia) - Menurutmenteri Swiss ChristaMarkwalder, Presiden Libya, Kolonel Moammar Gadhafi mengajukan sebuah proposal kepada PBB selama kunjungannya ke New York bulan ini untuk menghapuskan keberadaan negara Swiss dari peta internasional setelah sengketa mengenai penahanan dari salah satu anak Presiden tersebut.

Menurut proposal yang tidak biasa itu, negara yang dikenal dengan pegunungan Alpen tersebut seharusnya digabungkan dengan Perancis, Jerman dan Italia.

Namun, tindakan tersebut tampaknya tidak akan pernah disetujui oleh dewan karena itu dianggap melanggar prinsip dari charta PBB, seorang juru bicara dari badan multi nasional tersebut berkata.

Menurut charta tersebut, tidak ada anggota dari negara tersebut yang dapat mengancam keberadaan atau kedaulatan dari negara lain dalam keanggotaan.

Insiden tersebut mengikuti persengketaan diplomatik kedua negara setelah Hannibal Gadhafi dan istrinya Aline, ditahan oleh polisi Swiss pada tahun 2008, dibawah tuduhan melakukan tindak kekerasan terhadap pelayan mereka di hotel Jenewa.

Pasangan tersebut kemudian dibebaskan setelah dua hari berada di dalam tahanan. Komplain terhadap mereka dihapuskan setelah seorang pengacara untuk pelayan mereka, yang berasal dari Maroko dan Tunisia, menerima sejumlah kompensasi yang tidak disebutkan jumlahnya.

Gadhafi membalas dengan menutup bisnis Swiss di Libya, menahan warga negara Swiss dan mengusir keluar diplomat negara tersebut. Ia juga menahan pengantaran minyak ke Swiss dan menarik aset yang hampir sebanyak £4 milyar dari bank Swiss. Menteri Luar Negeri Swiss menggambarkannya sebagai sebuah kampanye yang bertentangan dengan kepentingan Swiss.

Dua pebisnis Swiss juga dilarang untuk meninggalkan Libya sebelum pihak Swiss meminta maaf atas penahanan Hannibal.

Presiden Swiss, Hans-Rudolf Merz, akhirnya melakukan perjalanan ke ibu kota Libya, Tripoli, untuk mengantarkan pesan permintaan maaf pribadi, yang menimbulkan kemarahan dari banyak warga Swiss yang merasa negara mereka seharusnya bertahan pada pendiriannya.

Sementara itu, berkaitan dengan kedatangan Gadhafi ke New York dalam sebuah pertemuan Dewan Keamanan PBB terhadap pelecutan senjata nuklir pada 24 September, yang akan diawasi oleh Presiden AS, Barrack Obama, pihak PBB memperingatkannya untuk menjaga sikap selama pertemuan.

"Bagaimana Gadhafi bersikap selama pertemuan PBB dan Dewan Keamanan yang dihadirinya memiliki potensi untuk memicu perasaan dan emosi (orang Amerika)." Susan Rice, duta besar AS, berkata.

Menurut Rice pembebasan pembom Penerbangan 103 Pan American, Abdel Baset al-Megrahi, oleh pengadilan Skotlandia pekan lalu telah menimbulkan sebuah isu yang "sensitif" di Amerika Serikat. Pengeboman pesawat PanAm di atas Lockerbie, Skotlandia pada tahun 1988, menewaskan 270 orang, lebih dari 170 di antaranya warga Amerika.
Duta Besar AS tersebut berkata Gadhafi harus mematuhi peraturan ketika berbicara di forum PBB yang membatasi pidato untuk lima menit. Tapi aturan itu biasanya diabaikan oleh sebagian besar kepala negara.

"Kami berharap bahwa itu akan menjadi kesempatan untuk sebuah sesi Rapat Umum dan Dewan Keamanan yang konstruktif," ujar Rice selama konferensi berita untuk pertemuan PBB.

Gadhafi sempat memicu protes kuat dari penduduk di Englewood, New Jersey, pekan lalu ketika mereka mengetahui bahwa ia berencana untuk tinggal di sebuah tenda di kompleks properti di kota kecil itu. Gadhafi juga menuntut untuk berkemah di New York City's Central Park, tetapi permintaan itu ditolak. (iw/tg/nyd/et) dikutip oleh www.suaramedia.com

Altetik

Federer Tak Terhadang, Davdenko Tumbang
Kejutan lain terjadi saat unggulan ke-11 Marin C...More »

Berita Gadget Terkini

Sony Kembangkan Laptop 3D Canggih Dengan Kacamata Istimewa
"Teknologi frame sequential dengan cepat memutar...More »

Otomotif Terbaru

Veloce 1200, Motor Sporty Nan Gahar Dengan Jiwa Streetfighter
Veloce didukung oleh mesin canggih bertenaga bes...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon