Surat delapan halaman itu ditulis oleh kepala utusan Iran untuk badan nuklir PBB di Wina, mencela tuduhan Washington terhadap Republik Islam itu "dipalsukan dan tidak berdasar." Surat itu tidak menjelaskan dokumen apa yang dituduh Iran telah dipalsukan.
Surat itu juga menyebutkan Inggris dan Perancis melakukan "motivasi politik dengan itikad buruk" dalam hubungan mereka terhadap Iran.
Utusan Iran Ali Asghar Soltanieh mengirim surat kepada Mohamed ElBaradei, kepala Badan Energi Atom Internasional, yang mana badan yang terdiri dari 35 bangsa itu telah melakukan pemeriksaan yang ketat pada program nuklir Iran.
Iran menyatakan kegiatan nuklirnya bersifat damai dan semata-mata diarahkan ke pembangkit listrik. Amerika Serikat dan sekutu-sekutu utamanya menuduh Republik Islam itu diam-diam berusaha untuk membangun sebuah bom atom.
Teheran meradang atas laporan terbaru dari lembaga itu, yang menuduh Iran terus menantang untuk memperkaya uranium dan menolak untuk menjawab pertanyaan mengenai kemungkinan dimensi militer program nuklir mereka.
Dalam surat itu, sebuah salinan yang diperoleh oleh AP, Soltanieh menegaskan bahwa Iran telah menunjukkan "komitmen penuh dari negara itu untuk memenuhi kewajiban" di bawah perjanjian perlindungan nuklir IAEA.
Tapi mereka menunjuk keras ke Washington karena untuk memberikan pengawas nuklir PBB intelijen tak terbatas dan bukti lain yang diduga diambil dari komputer laptop yang dilaporkan diselundupkan keluar Iran.
Intelijen AS kemudian menilai informasi yang menunjukkan bahwa Teheran telah bekerja pada detail senjata nuklir, termasuk rudal lintasan dan ketinggian yang ideal untuk kepala roket.
Materi pada laptop juga mencakup video dari pejabat intelijen yang percaya adanya laboratorium nuklir rahasia di Iran.
"Dengan adanya ikut campur dalam pekerjaan IAEA dan mengerahkan berbagai tekanan politik, pemerintah Amerika Serikat berusaha untuk merusak semangat kerjasama antara Republik Islam Iran dan IAEA," tertulis dalam surat tersebut.
"Pemerintah Amerika Serikat tidak menyerahkan dokumen asli dari instansi-instansi karena sebenarnya mereka tidak punya dokumen otentik dan semua itu adalah dokumen palsu," kata Soltanieh.
"Para agen tidak mengirimkan dokumen asli ke Iran dan tak satu pun dari dokumen-dokumen dan bahan-bahan yang ditampilkan ke Iran memiliki keaslian dan semua terbukti palsu, dugaan tak berdasar dan atribut palsu terhadap Iran," tambahnya.
"Oleh karena itu, topik ini harus ditutup," Soltanieh menulis.
Para pejabat AS tidak segera tersedia untuk komentar Jumat malam. Para pejabat di Kementerian Luar Negeri Prancis tidak memberi komentar langsung.
IAEA sendiri telah menekan Amerika Serikat dan pemerintah lain untuk berbagi informasi intelijen lebih rinci yang berkaitan dengan Iran. Dalam laporan terbaru Iran, PBB mencatat bahwa "kendala yang ditempatkan oleh beberapa negara-negara anggota lainnya akan ketersediaan informasi mengenai Iran membuat lebih sulit bagi lembaga ini untuk melakukan diskusi lebih rinci dengan Iran."
Dalam wawancara telepon singkat Jumat malam, Soltanieh berkata kepada AP bahwa dia berharap surat itu akan memberikan tekanan bagi AS untuk sepenuhnya mengungkapkan sumber dari segala implikasi intelijen Iran.
"Kami adalah korban kelalaian, karena orang-orang masih belum tahu apa artinya semua ini," katanya.
Jurubicara Departemen Luar Negeri Ian Kelly menolak berkomentar mengenai tuduhan Iran.
"Kami masih menunggu respons yang berarti terhadap tawaran dari P5+1 April lalu, dan menawarkan keterlibatan kami," kata Kelly. Kelompok P5+1 merupakan lima anggota tetap Dewan Keamanan, Britania, Cina, Perancis, Rusia dan Amerika Serikat, plus Jerman.
"Kami telah menyediakan suatu jalan di mana Iran dapat menjadi anggota masyarakat internasional yang penuh dan dihormati," kata Kelly. "Terserah pada Iran untuk membuat keputusan apakah ia memilih jalan itu."
Para pejabat di Kementerian Luar Negeri Prancis tidak memberi komentar. Perancis telah semakin vokal dalam mengkritik program nuklir Iran di bawah Presiden Nicolas Sarkozy, yang baru-baru ini mengatakan Iran tidak "pantas" memiliki pemimpin seperti yang mereka punya saat ini. Sarkozy berada di garis depan dalam mendorong sanksi baru lebih kuat.
Seorang juru bicara Kantor Luar Negeri Britania menyangkal tuduhan dalam surat Soltanieh itu.
Dia berkata Britania telah secara konsisten mencari cara untuk "memberi diplomasi kesempatan untuk berhasil."
"Saya akan menyangkal setiap pemikiran adanya itikad buruk dengan upaya yang sekuat mungkin," ujar juru bicara tersebut tanpa disebutkan identitasnya, sesuai dengan kebijakan departemen.
Badan nuklir penilaian terbaru itu mengakui bahwa Iran telah memproduksi bahan bakar nuklir pada tingkat yang lebih lambat dan Iran pun telah memperbolehkan pemeriksa PBB untuk mengakses kompleks nuklir utamanya di selatan kota Natanz dan reaktor di Arak.
Para pejabat senior PBB mengatakan Iran telah menggunakan bijih uranium menjadi sebagian dari 8.300 sentrifugal dalam jumlah yang dikurangi, menunjukkan bahwa sanksi-sanksi yang sudah ada dapat menghambat program-programnya.
Sejak Agustus 12, hanya sekitar 4.600 dari sentrifugal mereka yang secara aktif melakukan pengayaan uranium, dibandingkan dengan sekitar 4.900 pada bulan Juni, waktu terakhir badan nuklir mengeluarkan laporan tentang kegiatan nuklir Iran, kata para pejabat. Sejak itu, mereka berkata, Iran telah memasang sekitar 1.000 lebih sentrifus, tapi ternyata banyak yang tidak digunakan.
Surat Soltanieh berpendapat penilaian secara keseluruhan terhadap Iran adalah positif. Namun dia mengatakan keprihatinan yang diajukan oleh Amerika Serikat dan lainnya telah "benar-benar membayangi dan merongrong" langkah-langkah yang diambil Iran untuk mematuhi tuntutan IAEA untuk transparansi.
Barack Obama telah memberikan Iran semacam ultimatum: Hentikan pengayaan uranium, yang jika dilakukan di tingkat tinggi, dapat memproduksi bahan fisi inti senjata nuklir, atau menghadapi sanksi yang lebih berat. Sebagai imbalan untuk menghentikan programnya, mereka bisa mendapatkan manfaat perdagangan dari enam negara yang telah terlibat dalam pembicaraan terpisah.
Dewan Keamanan PBB telah menjatuhkan sanksi terhadap Iran tiga kali sejak tahun 2006 karena penolakannya untuk membekukan pengayaan uranium. Negara ini juga telah ditempatkan pada daftar pengawasan internasional yang membatasi impor bahan nuklir, sehingga mempersulit untuk mendapatkan uranium oksida yang cukup untuk melakukan program pengayaan. (iw/ap) Dikutip oleh www.suaramedia.com
Click Video














