Sabtu, 04 September 2010

Headlines:

Balas Dendam, Swiss Haramkan Masuki Tanah Libya

E-mail Cetak PDF
ZURICH (Berita SuaraMedia) – Pada hari Senin, Swiss memperingatkan para penduduknya agar tidak bepergian ke Libya. Hal tersebut diungkapkan setelah negara yang terletak di Afrika Utara tersebut masih belum membebaskan dua orang pebisnis Swiss yang ditahan di negara tersebut sejak tahun lalu.

Kementerian luar negeri Swiss, lewat sebuah peringatan perjalanan di situs internetnya, mengatakan bahwa ketegangan politik tersebut bermula pasca penangkapan putra dari pemimpin Libya, Muammar Gaddafi di Jenewa tahun lalu, dan hal tersebut tampaknya berlarut-larut.

 "Pemerintah Libya melakukan balas dendam terhadap warga negara dan perusahaan Swiss yang ada di Libya, misalnya, kasus penangkapan warga negara Swiss dan upaya menghalang-halangi bisnis perusahaan Swiss."

Kementerian luar negeri menentang segenap perjalanan menuju Libya, ditambahkan pula bahwa resiko penculikan amat tinggi karena operasi kelompok-kelompok bersenjata di sebagian besar kawasan gurun sahara.

Swiss mengatakan bahwa Gaddafi berjanji untuk membebaskan para pengusaha tersebut setelah bertemu degan Presiden Swiss, Hans-Rudolf Merz, di sela-sela forum Majelis Umum PBB di New York pada bulan lalu.

"Merz menyerukan pemulangan dua orang warga negara Swiss yang ditahan di Libya, dimana hal tersebut telah dijanjikan dalam beberapa kesempatan," kata pemerintah Swiss.

"Pemimpin Revolusi telah meyakinkan Presiden Merz bahwa dirinya akan turun tangan untuk membebaskan mereka."

Merz bertolak ke Libya pada tanggal 20 Agustus silam dan meminta maaf atas penangkapan tersebut. Langkah itu kontan memicu amarah banyak pihak di Swiss, yang memandang hal tersebut sebagai tindakan memalukan.

Para pejabat dan penduduk Jenewa adalah pihak yang paling marah dengan tindakan tersebut, mereka menolak untuk tunduk dengan tekanan diplomatik dan ekonomi dari Libya seputar insiden penangkapan putra Gaddafi pada bulan Juli 2008 tersebut.

Presiden Merz menyampaikan permintaan maaf tersebut dalam sebuah konferensi pers gabungan di Tripoli, kepada Perdana Menteri Baghdadi Mahmudi.

Para pejabat Swiss mengatakan bahwa permohonan maaf tersebut ditujukan untuk memulihkan hubungan bilateral antara kedua negara dan memastikan agar Libya membebaskan kedua orang pebisnis Swiss tersebut.

Kedua orang tersebut adalah: Max Goeldi, kepala cabang Tripoli dari konglomerasi teknik kelistrikan Swiss-Swedia, ABB, dan seorang pekerja konstruksi yang diidentifikasi bernama Rachid Hamdani. Keduanya ditahan dengan tudingan pelanggaran visa.

Mereka tidak diperkenankan untuk meninggalkan Libya sejak bulan Juli 2008, beberapa hari setelah polisi Swiss menangkap Hannibal Gaddafi atas tuduhan pemukulan dan penganiayaan dua orang pelayannya ketika menginap di Jenewa. Meski kemudian tuduhan tersebut ditarik kembali oleh Swiss.

ABB kemudian mengatakan bahwa pihaknya masih belum mendengar kabar dari Goeldi selama lima minggu dan tidak mengentahui keberadaannya. ABB mendesak pemerintah Swiss dan Libya untuk menyelesaikan permasalahan tersebut dengan cepat.

Setelah Hannibal Gaddafi dan istrinya yang tengah mengandung, Aline, ditangkap di sebuah hotel Jenewa, Libya langsung memotong suplai minyak kepada Swiss dan menarik asetnya senilai lebih dari $5 miliar, yang tersimpan di bank Swiss.

Gaddafi juga menendang keluar para diplomat Swiss. Kementerian Luar Negeri Swiss menjabarkan hal tersebut sebagai sebuah kampanye sepihak terhadap kepentingan-kepentingan Swiss.

Para jaksa penuntut di Jenewa mengggugurkan kasus tersebut tahun lalu, ketika pihak penggugat menarik kembali keluhannya. (dn/ay/rr/et/tg) www.suaramedia.com

Altetik

Federer Tak Terhadang, Davdenko Tumbang
Kejutan lain terjadi saat unggulan ke-11 Marin C...More »

Berita Gadget Terkini

Sony Kembangkan Laptop 3D Canggih Dengan Kacamata Istimewa
"Teknologi frame sequential dengan cepat memutar...More »

Otomotif Terbaru

Veloce 1200, Motor Sporty Nan Gahar Dengan Jiwa Streetfighter
Veloce didukung oleh mesin canggih bertenaga bes...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon