"Hubungan antara Inggris dan Rusia meliputi seluruh dunia, termasuk isu-isu penting seperti perubahan iklim," kata Miliband. "Kami akan memastikan bahwa kami mencoba untuk membahas seluruh kepentingan bersama."
Kala Miliband berangkat dalam kunjungan dua hari tersebut, pemerintah Inggris mengatakan bahwa pihaknya tidak dapat "merestui" Miliband sebagai ketua urusan luar negeri Uni Eropa, ditengah merebaknya spekulasi bahwa Miliband tengah mengincar jabatan tersebut.
Hubungan Inggris dan Rusia mulai memburuk ketika Inggris memberkan suaka politik kepada taipan Rusia, Boris Berezovsky dan warga Chechen, Ahmed Zakaryev, pada tahun 2003 lalu. Keduanya masuk daftar pencarian orang di Rusia, dan Inggris menolak permohonan untuk mengekstradisi keduanya.
Perjalanan Miliband ke Moskow bertepatan dengan perayaan tahun ketiga peristiwa pemberian racun terhadap mantan mata-mata Alexander Litvinenko pada tahun 2006, namun Rusia membalas Inggris dan menolak untuk mengekstradisi agen KGB yang menjadi tersangka dalam pembunuhan tersebut.
Perselisihan seputar status Dewan Inggris ditambah dengan ketegangan raksasa minyak Rusia - Inggris, TNK-BP, semakin menambah kerumitan dalam kasus Litvinenko, yang berujung pada penurunan drastis hubungan kedua negara, hal yang tidak diperkirakan sebelumnya.
Dan yang terbaru, Inggris lebih memihak Georgia pada konflik yang terjadi pada bula Agustus silam di Ossetia Selatan, dan mengkritik Rusia.
Di blog internetnya, Miliband menuliskan bahwa sebuah hubungan yang lebih baik merupakan hal yang penting bagi kedua negara.
"Kami tidak selalu sepaham dengan Rusia, namun kami memiliki tantangan global yang sama. Oleh karena itu, penting bagi kami untuk bekerjasama dalam menyelesaikannya."
"Maraknya hubungan antar personal dan jaringan bisnis yang dinamis antara Inggris dan Rusia dalam 20 tahun terakhir membuat hubungan politik (kedua negara) menjadi semakin penting," tulis Miliband.
Meski ada banyak pejabat tinggi Amerika Latin dan Asia yang telah berkunjung ke Moskow dalam beberapa tahun terakhir, terakhir kali menteri luar negeri Inggris datang berkunjung ke Rusia untuk melakukan dialog bilateral adalahpada masa Jack Straw, bulan Juli 2004.
Miliband dijadwalkan untuk berbicara dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada hari Senin waktu setempat.
Tempaknya, kecil peluang bagi Rusia untuk mengubah sikapnya yang menolak mengekstradisi tersangka pembunuh Litvinenko, Andrei Lugovoi.
Kepolisian Inggris menuding Lugovoi telah membunuh Litvinenko, diduga dengan cara mencampuri teh dengan radioaktif polonium di sebuah hotel di kota London pada tanggal 2 November 2006. Litvinenko menghembuskan nafasnya yang terakhir tiga minggu kemudian setelah didera rasa sakit luar biasa pada tubuhnya.
Lugovoi, yang menyangkal keterlibatannya dalam kematian Litvinenko, kemudian terpilih untuk masuk menjadi anggota parlemen Rusia melalui partai pro-Kremlin yang mengusungnya.
Penolakan Rusia tersebut ditanggapi Inggris dengan mengusir empat orang diplomat Rusia dari Inggris, mendorong Moskow untuk melakukan tindakan balas dendam.
Janda Litvinenko, Marina, mengkritik lawatan Miliband tersebut kala diumumkan pada pekan lalu, ia mengatakan bahwa pemilihan waktu untuk melakukan kunjungan tersebut semakin menambahkan garam pada luka atas kematian Litvinenko.
Selain mencoba mengatasi permasalahan hubungan bilateral, Miliband akan mencoba mendapatkan dukungan Rusia mengenai sanksi lebih keras terhadap Iran jika pembicaraan diplomatis mengenai program nuklir Iran berujung pada kegagalan.
"Kami akan membahas mengenai masalah Afghanistan, Iran, dan Timur Tengah," kata Miliband kepada Financial Times baru-baru ini.
Sementara itu, seorang pejabat pemerintahan Inggris menanggapi pemberitaan sebuah surat kabar yang menyebutkan bahwa Perdana Menteri Gordon Brown tengah melakukan kampanye rahasia untuk membantu Miliband menjadi diplomat tertinggi Uni Eropa dengan mengatakan bahwa kehadiran Miliband diperlukan di Inggris.
Deputi kepala partai Buruh, Harriet Harman, mengatakan bahwa ramainya pembahasan nama Miliband untuk menduduki jabatan tersebut dapat dimengerti, karena Miliband adalah seorang "politisi internasional".
Namun, kepada stasiun televisi BBC, ia berkata: "Kami tidak menginginkannya. Saya rasa dia juga tidak ingin pergi, dan kami akan tetap memilikinya di sini."
Kepada publik, Miliband bersikeras bahwa dirinya bukanlah seorang kandidat, dan dirinya tidak bersedia untuk dipilih.
Sunday Times mengabarkan bahwa Brown secara diam-diam mendukung Miliband. Hal tersebut dilakukan karena peluang terpilihnya mantan perdana menteri Inggris, Tony Blair, untuk menjadi presiden Uni Eropa, tampaknya semakin memudar. (dn/af/rt) www.suaramedia.com














