Sang Perdana Menteri akan mempergunakan pidatonya untuk memantapkan komitmen pemerintah terhdap kampanye Afghanistan menyusul banyaknya kehilangan yang diderita Inggris dalam beberapa hari terakhir, termasuk lima orang prajurit yang terbunuh oleh polisi Afghanistan yang mereka latih sendiri.
Brown akan menekankan pentingnya kelanjutan kebijakan pelatihan terhadap pasukan keamanan Afghanistan, menekankan bahwa hal itulah yang membedakan kehadiran pasukan asing dengan tentara penjajah.
Intervensi terbaru Brown tersebut dilakukan di tengah ketegangan di dalam pemerintah Inggris karena dukungan publik dan dukungan politis untuk misi Afghanistan mulai runtuh seiring dengan terus bertambahnya korban dari pihak Inggris. Yang terbaru, kemarin tentara Inggris terbunuh dalam ledakan di provinsi Helmand.
Banyak pihak, termasuk mantan kepala staf pertahanan, Lord Boyce dan Lord Craig of Radley juga memperdebatkan kondisi pasukan Inggris.
Dalam pidatonya, Brown kembali akan berupaya untuk menyampaikan pesan bahwa kampanye militer Inggris tersebut ada hubungannya dengan keamanan nasional Inggris.
"Kita semua tidak akan dihentikan, dibujuk atau dialihkan dari tindakan-tindakan yang perlu dilakukan demi melindungi keamanan nasional Inggris," demikian yang akan disampaikan oleh Brown, menurut naskah yang dirilis.
"Ketika ancaman utama teroris terhadap Inggris berasal dari Afghanistan dan Pakistan; dan ketika tekanan dari Pakistan dikombinasikan dengan tindakan militer di Afghanistan, mampu memberikan efek tekanan kepada Al Qaeda, maka kita semua tahu bahwa mereka akan terus melatih dan merencanakan serangan terhadap Inggris dari wilayah itu. Kita tidak bisa, tidak boleh, dan tidak akan mundur."
Komentar Brown tersebut merupakan bentuk penyangkalan langsung terhadap argumen oleh mantan menteri luar negeri Kim Howells yang menyatakan bahwa Inggris lebih baik menarik keluar pasukannya dan mengalihkan sumber daya yang ada untuk memperkuat keamanan internal.
Perdana Menteri akan mempertahankan kebijakan pasukan Inggris untuk bekerjasama dengan Afghanistan untuk membangun kekuatan keamanan ditengah kekhawatiran terjadinya serangan mematikan dari polisi Afghanistan.
"Kami tidak akan mundur dari strategi untuk memberikan pelatihan, karena hal itulah yang membedakan tentara pembebasan dengan tentara penjajahan," demikian bunyi naskah yang hendak disampaikan Brown.
Brown juga akan mempergunakan pidato tersebut sebagai seruan terhadap para anggota pasukan koalisi asing lainnya di Afghanistan agar mereka tidak menyerah dan berhenti dari misi tersebut.
"Delapan tahun yang lalu, kita masuk (Afghanistan) bersama-sama. Kita harus tetap bersama, meski dengan cara yang berbeda-beda, kita semua harus memberikan kontribusi, dan pada akhirnya kita harus tetap bersama, baik itu dalam keberhasilan maupun kegagalan."
Brown juga akan menyampaikan pesan untuk Presiden Hamid Karzai, menyusul terpilihnya kembali Karzai dalam pemilihan kontroversial yang dibumbui kecurangan.
"Dia harus menjalin kontak dengan rakyat Afghanistan, hal itu dapat menjadi tolok ukur keberhasilannya," bunyi naskah Brown.
Seorang sumber dalam tubuh pemerintahan mengatakan bahwa Brown ingin agar Karzai dapat membantu memenuhi target perekrutan 134.000 orang pasukan Afghanistan pada akhir tahun 2010, untuk memimpin perang melawan korupsi, dan untuk membujuk para anggota gerilyawan yang moderat untuk bergabung dalam pemerintahan.
"Kami menantikan Karzai untuk memimpin perubahan politik secara tuntas," kata sumber pemerintahan tersebut. (dn/tl/mm) www.suaramedia.com
Click Video- Interogasi Tahanan Irak, Inggris Terapkan Teknik Guantanamo
- Campuri Konflik Timur Tengah, Sarkozy Menuai Malu
- Obama Terjebak Dalam Perang Afghanistan, Inggris Frustasi
- Perancis: Jepang Masuk Daftar Target Utama Al-Qaeda
- Jamu Penguasa Sudan, Turki Panaskan Bara Perseteruan Uni Eropa














