Kelompok yang bernama The British Pugwash Group (BPG) tersebut mengatakan bahwa cara penyimpanan 100 ton bubuk mematikan tersebut benar-benar "menggelikan".
Para pakar mengkhawatirkan bahwa tumpukan yang terletak di situs nuklir Sellafield di Cumbria tersebut bisa saja menjadi sasaran dari para penebar teror.
Pemerintah Inggris mengatakan bahwa plutonium tersebut disimpan dengan aman, namun mereka mengatakan bahwa memang perlu memberikan kemajuan.
Departemen Energi dan Perubahan Iklim mengatakan bahwa pihaknya akan mempertimbangkan poin-poin yang dikemukakan dalam musyawarah berikutnya.
Salah seorang penulis laporan BPG, Jenderal purnawirawan Sir Hugh Beach, mengatakan: "Benar-benar aneh bahwa kita memiliki 100 ton plutonium terpisah yang diletakkan di dalam kaleng-kaleng di Sellafield. Hal itu benar-benar menggelikan."
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa kegagalan faasilitas pemerintah tersebut untuk menghasilkan bahan bakar nuklir dari plutonium adalah sebuah "skandal".
Laporan itu menyebutkan bahwa Inggris tidak memiliki kebijakan untuk menangani bahan mematikan tersebut, yang diperoleh dari limbah bahan bakar nuklir dengan cara pemrosesan ulang, karena tidak ada reaktor di Inggris yang dapat menggunakannya.
Ditambahkan dalam laporan tersebut, "di tangan-tangan yang berbahaya, timbunan plutonium tersebut bisa dipergunakan untuk menciptakan senjata nuklir yang menimbulkan "bencana". Ditambahkan pula mengenai resiko serangan "bergaya 11 Septembe" terhadap lokasi penyimpanan plutonium tersebut, yang dapat menimbulkan pencemaran radioaktif.
BPG, sebuah kelompok internasional yang beranggotakan para ilmuwan dan para pakar non-proliferasi senjata nuklir, dinamakan demikian setelah konferensi pada tahun 1957.
Kekhawatiran serupa pernah juga diungkapkan pada tahun 2007 silam. Kala itu, para pakar juga mengatakan bahwa timbunan plutonium Inggris disimpan dalam kondisi yang tidak dapat diterima dan membahayakan.
Royal Society mengatakan bahwa para menteri harus meninjau ulang cara penyimpanan 100 ton elemen radioaktif tersebut, yang dipisahkan dengan cara memproses ulang limbah bahan bakar nuklir.
Kelompok tersebut mengatakan bahwa peringatan awal yang diberikan kepada pemerintah telah diabaikan, dan Inggris harus mencari cara untuk memanfaatkan atau menyingkirkan materi plutonium tersebut.
Plutonium amat beracun, dan merupakan komponen utama dari sebagian besar bom nuklir. Dalam laporannya, kelompok tersebut mengatakan bahwa dalam jumlah sedikit sekalipun, materi tersebut dapat diubah menjadi bom atom.
Profesor Geoffrey Boulton, kepala kelompok tersebut, mengatakan: "Terus-menerus menyimpan plutonium tanpa memiliki strategi jangka panjang untuk penggunaan atau pembuangan bukanlah sebuah pilihan yang dapat diterima."
"Royal Society awalnya mengemukakan kekhawatiran mengenai ancaman keamanan tersebut sejak 10 tahun silam, dan kami masih belum melihat ada perkembangan berarti. Tumpukan (plutonium) tersebut terus bertambah ketika ancaman dari luar terus meningkat."
Jumlah plutonium yang disimpan di Sellafield telah berlipat ganda sejak 10 tahun yang lalu. Seperempatnya dipisahkan untuk negara-negara da perusahaan asing.
Profesor Boulton mengatakan, "Hanya 6 kilogram plutonium yang dipergunakan dalam racikan bom yang meluluhlantakkan Nagasaki, dan Inggris justru menyimpan (plutonium) berjumlah ribuan kali lipat. Kita harus memastikan bahwa materi yang sangat berbahaya ini tidak sampai jatuh ke tangan yang salah."
Kelompok tersebut mengatakan bahwa pilihan tebaik adalah mengkonversikan plutonium ke dalam bentuk butiran oksida campuran (MOX). "Jika pemerintah membangun stasiun bahan bakar nuklir generasi baru, maka seluruh tumpukan plutonium tersebut bisa dibakar sebagai bahan bakar MOX di reaktor yang baru." (dn/bc/gn) www.suaramedia.com
- Label Produk "Tepi Barat" Di Inggris Geramkan Israel
- Anggap Kristen Ajaran Aneh, Partai Buruh Berseteru Dengan Gereja
- Swedia: Israel Harus Berhenti Mengadu Domba Uni Eropa
- Uni Eropa Menangkan Al-Quds Untuk Palestina
- Rusia Berencana Depak Tuhan Dari Lagu Kebangsaannya














