Sergei Lavrov menuding AS telah sengaja mengulur-ulur waktu dalam proses negosiasi yang dilakukan beberapa hari terakhir untuk menggantikan kesepakatan START 1 yang telah habis masa berlakunya.
Kesepakatan tersebut, yang mengharuskan kedua kubu melakukan pengurangan jumlah senjata nuklir dalam jumlah besar, habis masa berlakunya pada tanggal 31-07 silam.
Para pejabat dari kedua negara mengemukakan harapan bahwa akan ada kesepakatan baru yang disetujui kedua pihak sebelum penghujung tahun ini.
Namun Lavrov menampik adanya kemungkinan penandatanganan kesepakatan dari presiden masing-masing negara ketika AS dan Rusia sama-sama menghadiri konferensi perubahan iklim di Kopenhagen, Denmark.
"Hal itu (penandatanganan kesepakatan) kemungkinan besar tidak akan terjadi di Kopenhagen," kata Lavrov dalam sebuah konferensi pers di Moskow. "Masih ada pekerjaan rumah besar yang harus kami hadapi."
Dia menambahkan, "Dalam beberapa hari terakhir, kami melihat adanya perlambatan dari para juru runding AS di Jenewa. Mereka menjelaskan hal ini dalam kebutuhan untuk menerima instruksi tambahan. Namun, tim kami sudah siap untuk bekerja."
"Saya yakin, jika para juru runding Rusia dan AS berkonsentrasi penuh dalam menerapkan instruksi masing-masing presiden, maka kami akan mencapai kesepakatan dalam waktu yang cukup singkat."
Namun, Gedung Putih menanggapi dengan mengatakan bahwa ada perkembangan yang telah tercapai dan kesepakatan lanjutan akan ditandatangani setelah tahun baru.
Presiden Medvedev dan Obama sebelumnya menyepakati penandatanganan kesepakatan lanjutan tersebut jika kesepakatan yang lama berakhir pada tanggal 5 Desember.
Kemudian, para pejabat kedua kubu mengatakan bahwa kesepakatan AS-Rusia akan ditandatangani pada penghujung tahun 2009, kemungkinan dilakukan di sebuah ibukota negara di Eropa.
AS dan Rusia sama-sama menyetujui untuk meneruskan pengawasan terhadap kesepakatan START 1, yang ditandatangani oleh Mikhail Gorbachev dan George Bush senior pada penghujung kejayaan Uni Soviet, hingga keduanya mencapai kesepakatan baru.
Diulur-ulurnya proses penandatanganan kesepakatan tersebut kemungkinan ada kaitannya dengan beberapa keunggulan yang diraih Rusia. Sebuah surat kabar Rusia mengklaim bahwa kesepakatan baru yang mengatur mengenai pengurangan senjata nuklir akan menempatkan Moskow dalam posisi yang lebih kuat dibandingkan dengan perjanjian tahun 1991 yang disepakati dengan Washington. Perjanjian tersebut sudah habis masa berlakunya pada tanggal 5 Desember lalu.
"Kami berharap perjanjian tersebut akan segera ditandatangani pada akhir minggu ini, atau setidaknya pada akhir tahun ini," kata kepala Komite Urusan Luar Negeri Duma. "Setidaknya hal ini memperjelas ambisi dari kedua presiden, dan saya tahu benar bahwa kedua tim negosiator telah mendapatkan perintah untuk menyelesaikan pekerjaan mereka dalam tempo yang sesingkat-singkatnya."
Sebuah surat kabar Rusia memberitakan bahwa proses perundingan sudah hampir mencapai tahap akhir, dimana Rusia memenangkan sejumlah ketentuan.
Dalam kesepakatan sebelumnya (tahun 1991), Rusia diharuskan untuk membagi data uji coba peluncuran dengan AS.
Dalam sebuah memo kesepahaman yang ditandatangani pada bulan Juli, jumlah hulu ledak nuklir dari masing-masing pihak harus dipangkas hingga berada dibawah angka 1.700. Hal tersebut dilakukan dalam kurun waktu tujuh tahun sejak kesepakatan baru ditandatangani.
Meski tengah bernegosiasi seputar pengurangan jumlah senjata nuklir, kedua negara masih memiliki kemampuan persenjataan yang cukup besar untuk menghancurkan dunia. (dn/bc/pv) www.suaramedia.com














