Kasus bunuh diri personel militer yang mencurgakan itu bermula dari beberapa minggu lalu ketika Letnan Kolonel Ali Tatar ditemukan tewas di rumahnya di Istanbul. Ia dilaporkan menembak kepalanya sendiri. Kasus bunuh diri sang letnan kolonel terlihat mencurigakan, terutama karena hubungannya dengan Ergenekon, jaringan rahasia yang dituduh berencana menggulingkan pemerintahan Partai Pembangunan dan Keadilan (AK Party). Ali Bayramoglu, seorang kolumnis untuk harian Yeni Safak, menyatakan bahwa kasus bunuh diri militer itu dimulai dengan peluncuran sebuah penyelidikan ke dalam Ergenekon di tahun 2007 dan pengungkapan anggota-anggotanya.
"Setiap tentara yang melakukan bunuh diri tampaknya memiliki kaitan dengan insiden politis dan ilegal yang melibatkan militer sekaligus dengan ketegangan di dalam angkatan bersenjata. Penyebutan ini sangat penting," ujarnya.
Ali Tatar dipenjara atas dugaan memiliki kaitan dengan sebuah rencana pembunuhan beberapa admiral di Komando Angkatan Laut. Ia dibebaskan pada awal Desember atas pengajuan banding dari pengacaranya, namun sebuah pengadilan Istanbul kemudian mengeluarkan surat perintah penahanan untuk Tatar sesaat setelah ia dibebaskan.
Kematian Tatar adalah salah satu dari rangkaian kasus bunuh diri sejumlah anggota militer hingga memunculkan kekhawatiran di dalam masyarakat. Seorang mantan kolonel, Belgutay Varimli, dilaporkan bunuh diri dengan melompat dari balkon apartemennya di distrik Kadikoy, Istanbul, pada tanggal 20 November. Kasus bunuh diri Varimli memicu kecurigaan karena ia terkenal sebagai seorang Muslim yang taat dan tidak akan mentolerir ide membunuh diri sendiri karena itu adalah salah satu dosa terbesar dalam agama Islam.
Ambiguitas seputar kasus bunuh diri Kolonel Angkatan Laut Tanju Unal, Kapten AL Olguun Ural, dan Letnan Kolonel Nursal Gedik juga belum hilang. Bayramoglu menarik perhatian pada fakta bahwa mayoritas personel yang membunuh dirinya sendiri adalah anggot a Komando Angkatan Laut.
"Angkatan laut adalah tempat di mana Rencana Cage disiapkan. Tidak mudah untuk mengomentari kasus bunuh diri, juga tidak manusiawi. Namun, ada keraguan bahwa situasi di balik kasus bunuh diri ini akan segera diklarifikasi, dan mereka akan memicu perdebatan di dalam militer," tambahnya.
Rencana Aksi Operasi Cage dilakukan untuk mengintimidasi warga non-Muslim Inggris dan membunuh seorang tokoh Muslim terkemuka untuk memberikan tekanan domestik dan internasional pada AK Party, yang pada gilirannya malah akan menghilangan dukungan publik bagi partai tersebut. Menurut kolumnis Samil Tayyar, serangkaian kasus bunuh diri dalam militer Turki itu membutuhkan penyelidikan yang menyeluruh. "Staf Jenderal harus memeriksa kasus yang penuh dengan tanda tanya ini. Contohnya, wakil admiral mana yang ditemui Letnan Kolonel Tatar sebelum memutuskan untuk bunuh diri? Apakah ia mengorganisir sebuah pertemuan yang dihadiri oleh lima hinga enam orang hanya satu hari sebelum ia bunuh diri? Jika iya, siapa sajakah yang hadir? Apa yang mereka diskusikan? Apakah satu-satunya alasan yang mendorong Tatar bunuh diri adalah surat perintah penahanan? Siapa yang telah ia singgung?" tana Tayyar.
Kolumnis itu juga menyarankan parlemen untuk membentuk sebuah komisi yang akan memeriksa berkembangnya kasus bunuh diri militer yang mencurigakan. "Parlemen, yang telah memeriksa kasus-kasus pembunuhan tak terpecahkan di masa lalu, memiliki pengalaman luar biasa dalam memeriksa kasus ini," tambahnya.
Letnan Galip Onder, kepala Divisi Gendarmerie Ezine, adalah yang terbaru dari rangkaian kasus bunuh diri militer. Sang letnan tampaknya menembak dirinya sendiri di kepala minggu lalu. Sumber-sumber mengatakan alasan di balik tindakan nekad itu adalah masalah keluarga.
Mantan Kolonel Angkatan Laut Varimli melemparkan dirinya sendiri dari atas balkon ketika istri dan ibunya sedang berada di rumah minggu lalu. Sang kolonel terkenal memainkan peran penting dalam mengekpos organisasi teroris Ergenekon. Ia dilaporkan memberitahu mantan Kepala Staf Jenderal, Jenderal Hilmi Ozkok, rencana kudeta di dalam angkatan bersenajata. Varimli juga menjadi bagian kunci dari persidangan mantan Komandan Angkatan Laut Admiral Ilhami Erdil, yang mengakibatkan sang admiral diturunkan pangkatnya menjadi prajurit setelah investigasi.
Kolonel Angkatan Laut Unal juga diyakini memiliki sejumlah informasi rahasia tentang organisasi teroris Hizbullah yang fundamentalis, Ergenekon dan West Study Group (BCG), kelompok rahasia lain yang dibentuk di dlam militer pazca kudeta modern tahun 1997.
Kapten Angkatan Laut Ural ditemukan tewas di rumahnya pada tanggal 24 Maret. Sang Kapten baru saja mengirimkan dokumen tentang formasi anti-demokratik di dalam militer Turki kepada jaksa penuntut yang melakukan investigasi Ergenekon.
Letnan Kolonel Gedik ditemukan tewas tanggal 11 November 2007. Pada saat itu ia bekerja di laboratorium biokimia di rumah sakit militer Kasimpasa. Ia dilaporkan memiliki informasi tentang penyelundupan obat-obatan dan perdagangan wanita di Turki. (rin/tz) www.suaramedia.com














